Minggu, 04 Oktober 2015
KEPAKKAN SAYAP
Lemah gemulainya gerakan tangan dari empat penari di musim panas ini membuat aku tergiur untuk mempelajarinya. Itulah awal mula alasanku untuk bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tari Tradisional. Ternyata di dalam pilihanku ini, kutemukan dua sahabat inspiratif. Tuti dan Tiara. Kami bertiga dijuluki Ti-Three, karena dari nama kami mengandung unsur “Ti”. Tiska, Tuti dan Tiara.
Pertama memang minder, melihat Tuti dan Tiara yang sudah memiliki background dalam dunia tari tradisional. Tak disangka chemistry kami begitu besar, walaupun berasal dari minat program studi yang berbeda. Tuti, temanku dari jurusan ilmu komunikasi, seorang purna paskibra kota. Dia bertubuh tinggi langsing, cantik dan pandai menari. Tuti belajar menari sejak kelas 1 SMA karena syarat penampilan bakat ketika seleksi calon paskibraka. Dengan ketekunannya, dia lanjutkan proses latihan menari di sekolahnya. Hingga kini bekal dan pengetahuannya dalam dunia tari sudah cukup banyak. Sedangkan Tiara dari jurusan gizi, dia tidak berasal dari keluarga seniman. Tapi karena perhatian dari orang tuanya, sejak kecil bakat Tiara sudah diasah. Tiara diarahkan untuk latihan menari sejak SD.
Aku menilai diriku adalah lain dari yang lain. Hanya memiliki modal minat dan tertarik untuk gabung dengan kegiatan tari. Sebelumnya aku pernah menari, ketika pentas perpisahan TK. Aku tidak menyadari bahwa aku memiliki bakat menari yang lumayan. Sedangan selama ini aku hanya suka membaca komik dan menggambar anime saja. Latihan tari yang diberikan, ternyata tidak membuatku kesusahan. Kata para senior, progressku baik.
Jam terbang menariku semakin padat. Seiring dengan berjalannya waktu, aku dan kedua temanku sering mengisi acara kemana – mana. Kami dipandang hebat oleh senior. Predikat itu membanggakan nama Ti-Three. Bagaimana tidak, Ti-Three sering mendominasi panggilan pementasan atas nama UKM selama tiga generasi. Sayangnya banyak pula penari di universitasku. Sehingga penari seperti aku tidak ada apa – apanya di luar sana.
Hingga pada suatu hari, kudapati kedua temanku yang memilih jalannya masing – masing. Dua tahun lamanya bersahabat, ternyata diam – diam kedua temanku mundur teratur dari UKM Tari Tradisional. Tuti yang berkutat dengan ilmu komunikasi mulai mengepakkan sayapnya di dunia jurnalistik. Dan Tiara, ingin mencoba hal baru dengan mengikuti seleksi misi budaya ke luar negeri yang diadakan oleh fakultasnya.
Menjadi sesepuh di dalam organisasi, menurutku itu adalah dilema hati yang paling tinggi. Aku satu dari tiga temanku yang masih bertahan. Tuti dan Tiara mulai hilang dari orbit. Aku tak pernah sepanggung lagi dengan mereka. Tuti sukses dengan dunia jurnalistiknya. Meskipun aku tahu, di luar sana Tuti masih melanggengkan latihan tari. Orientasinya telah berbeda, dia mengambil kesempatan pentas untuk dirinya sendiri. Sering aku bertanya padanya, mengapa dia jarang datang ke UKM Tari Tradisional. Tugas kuliah selalu menjadi kambing hitamnya. Aku tidak mengerti lagi, apa bedanya sikap egoisme pada diri dan upaya untuk bersolo karier.
Tiara, lolos seleksi untuk mengikuti misi budaya ke luar negeri, Perancis. Proses yang panjang perlu dia hadapi untuk sebuah penampilan yang terbaik. Tiara tak pernah muncul lagi di masa lalunya, yaitu UKM Tari Tradisional. Kelompok penari yang hanya level provinsi ini mungkin sudah tak dianggapnya lagi. Impianya untuk go international terwujud.
Terkurung dalam sangkar, Ti-Three meninggalkanku sendirian. Aku yang tersisa disini, di kelompok tari ini. Walaupun aku sering menari, melanggengkan bakatku. Tetap saja ini tidak bisa menggantikan rasa kecewaku kepada dua sahabat. Kecewa, tapi merindu. Perasaan ini sungguh mengaduk – aduk hatiku. Aku ditinggalkan dengan tanpa inovasi baru. Rutinitas mendapat panggilan tari dari acara ke acara. Tiada perkembangan. Lomba yang beberapa kali aku hadapi, belum bisa membesarkan namaku.
Sesekali kulihat lagi foto kami bertiga, Ti-Three. Sahabat macam apa kau. Kalian egois. Meninggalkanku sendirian. Tuti, namamu sering muncul di koran. Fotomu yang sering touring jurnalistik sudah tersebar seantero jagad. Tiara, senang ya sekarang sudah mencicipi makanan luar negeri. Foto selfiemu di depan menara Eifel sudah diketahui dunia.
Hatiku bergejolak. Protes atas persahabatan Ti-Three. Hampir saja kusobek foto kami bertiga. Tiba – tiba ada suara berbisik, seperti percakapan mereka berdua.
“Jangan! Jangan pernah sobek foto kita!” suara Tuti.
“Aku tidak egois, aku hanya ingin mencari yang lebih baik lagi. Ketika aku sudah bisa menilai bahwa di UKM kita sudah sukses.” bisikan suara Tiara.
Kuurungkan niat untuk menyobek foto itu. Berkali – kali ketika aku ingin mereka kembali, alasan demi alasan yang sesungguhnya logis, tak pernah kuterima. Malam ini, diantara kertas – kertas sketsa anime kesayanganku, kurenungkan isi hatiku. Benar, Tiara pasti akan selalu meningkatkan kualitas hidupnya. Menambah pengalamannya. Tuti pun. Dia pasti lebih suka bersolo karir dalam menari, dan menjadi jurnalis memang impiannya.
Lalu, mimpi apakah yang aku punya?
Jam menunjukkan pukul 02.32 dini hari. Aku masih terbawa emosi, memikirkan apa yang akan aku perjuangkan. Persahabatan yang tinggal kenangankah? Berkali ku berpikir, Tuti hanya dengan menulis dan menari dia tampak menikmati sukses.
Tiara, akan mendapatkan pengalaman baru, banyak cerita setelah memijakkan kakinya di luar negeri. Haruskah aku menyontek salah satu cara di antara mereka? Ternyata akalku masih berada di jalan yang buntu. Kuputuskan untuk tidur saja. Walaupun mata sulit dipejamkan. Berusaha tidur, untuk mendapatkan mimpi menemukan jalan lain nikmati hidup.
Tidur membawaku untuk bermimpi menuju ke negri sebrang. Mimpi bercerita, aku bahagia mengambil foto di negri seribu danau, Finlandia. Mimpi ini semacam rekreaksi yang tak pernah aku duga. Kunikmati mimpi malam ini, cause my sleep my adventure.
Aku puas mendapatkan mimpi itu. Seperti pertanda bahwa aku harus meniti karir untuk bisa menginjakkan kaki ke belahan dunia yang lain. Inilah saatnya burung kecil mencoba kepakkan sayap. Kupilih negeri seribu danau sebagai destinasiku. Aku ingin mewujudkan mimpi menuju kesana.
Jarum jam dinding tak pernah berjalan mundur. Namun akalku berhenti ketika memikirkan, dengan cara apa aku bisa pergi kesana. Aku pesimis dengan tim tariku yang terdiri dari perempuan – perempuan rumahan. Aku tak bisa jika bersolo karir menampilkan seni, harus ada agen yang mewadahi.
Sekali lagi kuputar otakku, setiap saat selalu memikirkan bagaimana cara burung kecil ini harus kepakkan sayap. Tabunganpun tak punya. Menyontek orang tidaklah mudah. Banyak penari yang sudah mulai mengepakkan sayap ke luar negeri. Banyak penelitian yang bisa membawa mahasiswa ke luar negeri. Tapi melakukan penelitian bukan bidangku. Aku akan kesusahan bila memulainya dari nol.
“Tis, ikutan ini yuk. Lomba membuat kerajinan tangan dari rotan.” Kak Maya mengajakku.
Ada lomba desain kerajinan tangan dari rotan. Aku belum pernah membuat hasta karya dari bahan tersebut. Sedikit bimbang memilih antara maju atau tidak. Kak Maya memfasilitasi rotan, aku tinggal mencurahkan kreativitasku untuk membentuk suatu karya.
Ini adalah lomba kerajinan pertama yang pernah aku ikuti. Lumayan, tingkat nasional. Akhirnya aku merintis karir untuk mengepakkan sayap dalam ajang tingkat nasional. Aku mulai membuat pola, karya apa yang pantas aku tandingkan. Tujuanku memang menjadi juara, agar aku punya prestasi yang diakui. Akhirnya setelah kulihat situasi disekitar, mataku tertuju pada lampu yang menempel di ternit. Dia begitu kesepian, kehadirannya sangat dibutuhkan, tapi dia hanya bersinar seorang diri. Lampu itu seolah pertanda, apa yang akan kubuat. Ya, aku membuat hiasan rumah lampu.
Foto hasta karya dan kelengkapan berkas dari aku dan Kak Maya sudah dikirim. Aku senang, bisa mengikuti kompetisi. Menurutku hanya kaum minoritas yang tertarik untuk mengikuti kompetisi hasta karya ini. Tapi ternyata setelah aku lihat pendaftarnya, sangat banyak. Cukup membuatku kembali pesimis.
Seminggu berlalu dengan penuh sketsa gambar yang aku sukai. Terkadang aku membuat sketsa di aplikasi komputer. Menyenangkan sekali belajar desain. Sejak adanya kompetisi itu kutemukan apa keinginanku. Ya, passionku adalah membuat desain. Tidak dari menyontek orang lain, aku bersyukur dan terus berkarya.
Saatnya pengumuman itu tiba. Diambil 30 besar karya terbaik yang akan dibuat pameran kerajinan tangan. Kulihat dari daftar yang paling bawah. Adakah keberuntungan untukku. Hatiku deg – degan melihat sepuluh nama pertama yang tidak ada namaku. Sepuluh nama kedua membuatku semakin deg – degan, karena karya Kak Maya masuk nominasi. Selajutnya kudapati detak jantung yang sekencang – kencangnya ketika melihat namaku berada di urutan ke tiga. Aku tiga besar dari mahasiswa Indonesia.
Rasa syukur itu tak henti terucap. Aku menelfon Kak Maya, menyampaikan kabar gembira ini. Tak kalah bahagianya, ternyata ketiga puluh finalis dan karyanya akan di bawa ke England, untuk dipamerkan di sana.
Mimpiku untuk menginjakkan kaki ke luar negeri akhirnya terwujud. Melalui niat dan usaha kerasku membuat hasta karya dengan sepenuh hati. Inilah sayap yang kuciptakan sendiri. Dia yang akan membawaku terbang. Meski England bukan negara yang ada di dalam mimpiku, aku sangat bersyukur dapatkan kesempatan ini.
Senin, 06 Juli 2015
LOMBA MENGHIAS CUPCAKE - NGABUBURIT ANTI MAINSTREAM
Ngabuburit di bulan ramadhan merupakan kegiatan yang menyenangkan. Selain menunggu waktu berbuka puasa dengan cara biasa – biasa saja, ngabuburit ini bisa diisi dengan kegiatan bermanfaat plus mengasyikkan. Misalnya, lomba menghias cupcake. Pada hari Sabtu tanggal 4 Juli 2015 lalu, Muslimah Inspiration Undip (MIU) 2015 mengadakan acara aksi solidarity yang diselenggarakan di Yayasan Panti Asuhan Al Barokah Sumurboto, Tembalang, Semarang. Acara intinya adalah menghias cupcake, yang masih langka diadakan dalam acara serupa. Peserta adalah santri dari yayasan yang terdiri dari 36 anak, dengan usia yang bervariatif, mulai dari TK hingga kelas 1 SMP.
Metode pembelajaran ceramah, bagi anak – anak sudah wajar dan tak asing lagi. Maka dari itu, dalam aksi solidarity ini MIU 2015 memilih acara lomba menghias cupcake. Biasanya anak – anak menjadi pengganggu ibunya di dapur. Mereka sering dilarang menjamah dapur karena sang ibu yang khawatir apabila masakan yang disiapkan menjadi berantakan. Dalam acara ini, MIU 2015 mengubah pemikiran itu. MIU 2015 membiarkan supaya anak – anak berkreasi. Kreativitas yang biasanya dituangkan dalam kertas, dengan cara mewarnai gambar, kini kreativitas mereka dialihkan dengan menghias cupcake. Anak – anak nampak antusias dan menghias cupcake miliknya dengan penuh totalitas.
Hasil hiasan cupcake dari kelompok yang terbaik, dipilih menjadi juara. Dari 6 kelompok di ambil 2 yang terbaik. Namun, pembagian hadiah tidak hanya untuk pemenang saja, karena banyak donasi yang masuk, MIU menyediakan hadiah bagi kelompok yang tidak juara juga. Selain meghias cupcake, ada juga kuis hafalan surat. Bagi adik – adik yang berani maju dan hafalan surat, maka akan diberi hadiah. Di penghujung waktu berbuka, sekitar sepuluh menit sebelum adzan maghrib, MIU 2015 memberikan sedikit ceramah (kultum). Kultum berisi tentang kisah nabi, bagaimanapun anak – anak perlu mengenal nabi kita beserta riwayatnya.
Acara ditutup dengan pemberian santunan kepada anak yatim dan penyerahan kenang – kenangan untuk yayasan. Mbak Mila selaku kakak asuh di panti mewakili Kepala yayasan dalam serah terima santunan tersebut. Setelah melaksanakan buka bersama dan salat maghrib bersama, MIU 2015 berpamitan. MIU 2015, sebagai muslimah inspirator berharap semoga kegiatan ngabuburit dan lomba menghias cupcake ini bisa membuat anak – anak panti bahagia dan terhibur. Aksi solidarity tak harus menyumbangkan banyak donasi, membuat saudara menjadi bahagia itu sudah bagian dari solidaritas kita terhadap sesama. Salam MIU 2015, berprestasi-menginspirasi
Kamis, 02 Juli 2015
BULAN P(UAS)A, YA IBADAH YA BELAJAR
Apa sih yang identik dengan bulan puasa? Sahur, salat tarawih, buka bersama, tadarus dan lain – lain. Semua ibadah dan amal kebaikan di bulan puasa akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Lantas apakah sudah barang tentu semua orang berbondong – bonding untuk melakukannya? Belum tentu. Ada pula orang yang bermalas – malasan dan berlemas – lemasan ketika puasa. Namun, Allah maha Rahim, pemberi kasih sayang pada makhluknya. Tidurnya orang puasa dihitung sebagai ibadah.
Apa yang terjadi jika di bulan puasa ini bertepatan dengan ujian akhir semester (UAS)? Pastinya perlu membagi waktu dengan baik supaya bisa belajar dan beribadah dengan kuantitas yang lebih banyak daripada hari – hari biasa. Mungkin belajar dengan keras akan membuat perut terasa lapar, dan kuantitas tidur berkurang. Eits, inilah istimewanya UAS semester genap tahun 2015 ini, ya UAS ya puasa.
Biasanya, ketika sedang ujian, kita selalu menyiapkan tubuh dalam kondisi prima agar ketika mengerjakan ujian tidak ada kendala fisik. Misalnya, sarapan, tidur yang cukup, dan mengondisikan tubuh tidak kecapaian. Tapi ujian ketika puasa Ramadhan, apakah itu menjadi kendala? Seharian harus menahan lapar dan dahaga. Juga menahan segala jenis hawa nafsu, misalnya emosi. Malamnya disunahkan untuk melaksanakan salat tarawih, yang waktunya bersamaan dengan jam belajar sehari – hari. Paginya, jam 3 dini hari harus bangun untuk makan sahur, yang biasanya adalah jam tidur. Apakah itu menjadi alasan untuk totalitas dalam ujian?
Semuanya kita awali dengan niat, dan kembalikan lagi kepada Allah. Bulan ramadhan setiap tahun pasti ada. Sedangkan UAS setahun terjadi dua kali. Jika datangnya bertepatan, ini justru menjadi kesempatan kita untuk menjadi seorang yang alim. Biasanya jika uas kita selalu meningkatkan ibadah juga, lebih mendekatkan diri kepada Allah agar diberi kemudahan dalam belajar. Dalam momen bulan ramadhan ini, malah ibadah kita bisa terprogram dengan baik. Bisa salat tahajud dengan rutin karena bersama dengan bangun sahur. Bisa membaca qur’an dengan teratur, karena bila tadarus di bulan ramadhan pahalanya akan dihitung tiap ayat. Bisa shodaqoh jariyah dengan rutin untuk membersihkan harta kita, yaitu infaq ketika berangkat ke masjid. Bisa mendapati pola makan yang teratur, yaitu ketika buka puasa dan sahur. Persoalan belajar bisa dilakukan setelah pulang dari kampus, setelah salat tarawih, dan setelah salat subuh. Tidur tetap bisa dilakukan di malam hari sebelum sahur, dan sejenak di siang hari untuk merefresh pikiran.
Jika menganggap puasa adalah hal yang berat ketika uas, maka salat tarawih pun akan enggan, karena memilih belajar. Tadaruspun akan berkurang karena ingin membaca materi saja. Dan tidur malam tidak teratur, karena biasa begadang hingga pagi, sementara pagi malah tidur. Sungguh merugikan jika itu terjadi. Untuk itu, mending lakukan saja hal – hal yang sewajarnya. Tetaplah ibadah sesuai target ramadhan agar lebih dekat dengan Allah, dan tetap belajar keras. Mungkin nilai ujian yang didapat akan kasat mata, sedangkan pahala dari Allah tidak kasat mata, yang menjadikan orang lebih memilih urusan dunia daripada ibadah. So, mulai sadari dari searang ya. Sesungguhnya tidak ada waktu yang tidak bisa dibagi, tergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Selamat menunaikan ibadah p(UAS)a yang sudah setengah perjalanan ini. salam sehat.
Minggu, 28 Juni 2015
Sahabatku Inspirasiku : IKABELA TIFANDI, PENARI YANG ISTIQOMAH
Hai guys, kenalkan temanku yang satu ini. Kali ini aku sangat terinspirasi olehnya. Begini nih sedikit kisah tentangnya.
Nama lengkapnya adalah Ikabela Tifandi, biasa disapa Ikbel. Dia sama seperti aku, kuliah di undip (universitas Diponegoro Semarang), dan menempuh prodi S1 teknologi pangan angkatan 2013. Mengapa Ikbel menjadi salah satu teman yang menginspirasi, karena dia memiliki bakat yang tidak semua orang bisa melakukannya. Ya, Ikbel ini adalah temanku yang pandai menari. Konon katanya Ikbel sudah belajar menari sejak duduk di bangku sekolah dasar. Mungkin orang akan berkata wajar saja kalau sampai sekarang tarian Ikbel bagus, karena memang sejak kecil ia latihan menari. Memang benar sih, tapi ada hal spesial yang membuatku memiliki pandangan berbeda tentang Ikbel. Sehingga menjadikan dia salah satu temanku yang menginspirasi.
Bukan karena pandai menari, aku bangga punya teman seperti Ikbel. Tapi kalian harus tahu, apa bedanya Ikbel dengan yang lain. Ikbel pandai menari, padahal kita tahu kalau dia kuliah di undip dan bukan jurusan seni tari. Awal masuk kuliah, Ikbel mengikuti perekrutan pentas produksi sendratari yang diselenggarakan UKM Kesenian Jawa Undip, dari situlah dia mulai melanjutkan hobinya menari. Ikbel memang mengaku, kalau di kampus nanti dia akan mengikuti kegiatan yang berkutat dengan tari menari demi melanggengkan hobinya. Pasca pentas produksi, Ikbel melanjutkan untuk bergabung menjadi bagian dari UKM Kesenian Jawa. Nggak tanggung – tanggung, saat sudah resmi bergabung, cewek kelahiran Lamongan 21 Juli 1995 ini dipercaya menjadi ketua bidang tari. Hingga tahun keduanya berproses di KJ, Ikbel tetap memangku jabatan sebagai ketua bidang tari.
Mungkin bukan berapa banyak piala atau penghargaan yang Ikbel raih, yang menjadi tolok ukur idola. Jika idola adalah peraih banyak piala dan penghargaan, bagiku itu salah. Hasil bukanlah segala galanya. Ikbel ini adalah sosok wanita yang strong. Dia berbody mungil tapi sangat gesit dan tegas. Dia adalah sosok yang pantang menyerah. Menurutku dia terbaik di kelompok kami, karena sering dijadikan koreo dalam sebuah garapan. As we know, kuliah Ikbel 11 – 12 dengan fakultas teknik yang senantiasa praktikum dan laporan, asistensi dan sebagainya. Itu sangat memakan waktu, untuk mengerjakan laporan. Tapi di tengah – tengah itu, Ikbel tetap bisa meluangkan waktu untuk latihan dan berproses. Selama berstatus mahasiswa, Ikbel banyak mengikuti proses garapan, dimulai dari awal pentas produksi Prasetyaning trah Gangga (KJ Undip 2013), tari Ogak – Ogak (WDD 2014), tari Kesrakat (Peksimida 2014), tari Tenggok (opening PIMNAS 2014), tari Candu (WDD 2015), pentas kolaborasi dengan teater di Semarang, pentas kolaborasi dengan Ngesthi Pandhawa, pentas kethoprak dies natalis undip 2014, serta pentas undangan yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Lantas apakah seniman hanya unggul dalam mengembangkan otak kanan saja? Tidak. Ikbel ini juga unggul di dalam bidang akademik. Praktikum yang bejibun dan proses latihan tari yang kontinyu, membuatnya semakin gigih. Kadang di sela – sela proses latihan Ikbel membuka laptop untuk menugas atau membawa kertas folio untuk mengerjakan laporan. Begadangnya sangat kuat demi belajar, terutama saat akan menghadapi ujian. Kerja kerasnya terbayar dengan mendapatkan IP cumlaude pada semester 3 lalu. Meski sikapnya terkadang masih kekanak – kanakan, Ikbel ini cukup bijak lho. Kata – kata yang aku ingat darinya, “jangan sampai mood kamu mengganggu orang lain”. Yups, setuju!
Merintis Karir
Sejak SD Ikbel gemar menari. Dia berinisiatif untuk selalu belajar menari, walau tanpa disuruh orang tuanya. Dimulai dari ikut ekskul tari di sekolah, hingga orang tuanya menyadari bakat Ikbel dan mendaftarkannya ke sanggar tari. Dikala kecil, Ikbel gemar mengikuti lomba menari, selain untuk memperkaya materi tari, mendapatkan uang saku, juga mendapatkan penghargaan jika juara. Dengan meraih juara, itu membuat ia termotivasi untuk meningkatkan kualitasnya.
Sebuah Pengabdian
Tak seperti penari kekinian yang komersil dan mencari ketenaran sesaat, Ikbel ini memiliki niat yang mulia. Dengan kualitasnya yang bagus, ia pernah lolos audisi menari di kampus kami, untuk go internasional. Tapi karena ia sudah masuk dalam organisasi, ia mundur dari kesempatan itu, ia lebih memilih memajukan organisasinya dulu ketimbang menuruti egonya. Ikbel cukup bijaksana menjaga nama baik organisasi yang ia ikuti dengan cara baik dalam berproses. Ketahuilah, jarang banget ada orang yang seperti Ikbel. Di luar sana banyak orang dengan kemampuan menari yang mungkin masih di bawah Ikbel, tapi ingin belajar menari karena mengincar partai. Hingga akhirnya tipe – tipe demikian tidak mampu bertahan dalam organisasi. Pegabdiannya nol. Mereka adalah tipe solo karierers yang belum jelas tujuan kedepannya.
Ikbel tidak demikian, dia ikhlas dalam berproses karena dalam dirinya mengemban misi. Ia tidak muluk – muluk, ia hanya ingin bisa mempelajari semua tarian, punya sanggar, punya anak didik, bisa menciptakan karya sendiri, serta bisa membawa anak didiknya go international untuk menunjukkan bahwa dia ada.
Subhanallah, senangnya punya teman seperti Ikbel. Baik, cantik dan berbakat. Pintar dalam akademik, dan juga easy going. Mungkin aku tidak seberapa menulis tentang Ikbel yang bukan siapa – siapa. Ya, dia memang bukan siapa – siapa, tapi dia adalah sobat yang menginspirasiku.
Kita pasti tahu, tidak setiap orang bisa menikmati potensinya seperti Ikbel. Misalnya aku sendiri. Kawan, sekarang ini marilah kita lihat orang hebat sebagai inspirator atau motivator. Bukan berarti kita harus bisa menyamai dia. Kita punya potensi dan jalan masing – masing. Fokuslah pada jalan kita sendiri, tak usah memaksakan diri untuk menyamai orang lain. Tetap semangat, salam sahabat inspiratif ({}).
Rabu, 24 Juni 2015
INDAHYA BERBAGI, INDAHNYA MENYAKSIKAN SENYUMAN
Bulan ramadhan identik dengan berlomba – lomba berbuat kebaikan. Karena telah jelas bahwa amal kebaikan di bulan suci ini akan dilipat gandakan sepuluh kali atau lebih tergantung kualitas amalannya. Dalam bulan yang penuh berkah ini, UKM READY (Rebana Diponegoro University) tidak ingin melewatkannya begitu saja. UKM READY merupakan suatu unit kegiatan mahasiswa yang memiliki visi ingin menggemakan sholawat baik di dalam maupun di luar undip. Pada kesempatan bulan yang penuh pahala ini, READY mengadakan acara buka bersama dan sholawat bersama yang diselenggrakan pada Selasa, 23 Juni 2015 di Yayasan Islam Hamdan, Sendangmulyo Semarang. Apa saja kegiatannya? Cek it out.
HIBURAN DAN GAMES BERHADIAH
Di kalangan biasa sholawat bukan menjadi suatu perkataan yang diucapkan sehari – hari. Hal ini sangat bertolak belakang dengan lagu – lagu hits, yang setiap hari senantiasa dilantunkan. Namun, dengan adanya iringan musik rebana, sholawat itu akan lebih enak didengar, mudah diingat, serta akan menimbulkan rasa candu untuk senantiasa melantunkannya. Subhanallah kan.
Itulah acara pembuka, READY mengawali acara dengan membaca sholawat besama yang diiringi dengan musik rebana. Santri yayasan Hamdan senang dan menikmati sholatat yang dibawakan, dan sebagian besar dari mereka ikut menyanyikannya.
Santri di Yayasan Islam Hamdan ini terdiri dari berbagai macam jenjang usia. Ada yang paling kecil sekitar 2 tahun, dan yang paling besar yaitu sekitar umur 17 tahun (SMA). Namun mayoritasnya adalah anak usia TK – SD. Di Yayasan Islam Hamdan, ada anak yang hanya ikut pesantren dan mengaji, dan ada pula anak yatim yang dititipkan disitu. Ini menjadikan kita semua merasa iba, melihat banyaknya anak – anak usia balita – TK yang diasuh di panti ini.
Oleh karena itu, READY menyisipkan agenda games berhadiah. Sekitar 25 bungkus hadiah dibagikan kepada santri di yayasan ini. Banyak anak – anak kecil yang mempunyai keberanian, dan sangat antusias mengikuti acara games ini. Mereka memiliki mental yang hebat, tidak peduli bisa menjawab pertanyaan atau tidak, asalkan dibuka kesempatan, mereka mau maju ke depan. Namun ada pula beberapa anak yang pemalu, hingga yang lain sudah rata mendapatkan hadiah, dan tersisa dia sendiri yang belum mendapatkan hadiah tapi tidak berani maju walaupun sudah heboh dibujuk oleh MC.
NGABUBURIT DAN BUKA BERSAMA
Menjelang maghrib acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al – Qur’an, sambutan dari ketua yayasan, dari ketua READY dan ada pula kultum/ tausiyah.
Ketika adzan maghrib berkumandang, semua peserta buka bersama membatalkan puasanya dengan segelas sup buah dan makanan takjil yang telah diracik oleh bidang konsumsi.
Makan besar belum dimulai, seperti sunnah rasul, buka puasa membatalkan dulu puasa dengan makanan yang ringan. Dillanjutkan dengan sholat maghrib berjamaah baru memulai makan besar.
Senyum dan tawa keluar dari kita semua, dan seolah hidup terasa lebih ringan, bebanpun hilang. Melihat anak – anak kecil yang berebut kakak, mencari perhatian, berebut makan walau masih kececeran untuk makan sendiri. Mereka semua bahagia dikunjungi saudara – saudaranya. Kami pun anggota READY turut bahagia, bahkan tak ingin momen ini berakhir.
PAMITAN PULANG
Sholat tarawih dilaksanakan di aula Yayasan Hamdan. Setelah itu, saatnya berpamitan. Acara diakhiri dengan pemberian sumbangn untuk yayasan, yang serah terimanya dilakukan oleh ketua panitia, Rizky Dwi Wibowo dan diserahkan kepada kepala yayasan, yaitu Bapak Abu Na’im. Untuk berpamitan, READY menabuh lagi rebana, dan acara ditutup dengan sholawat bersama.
Anak – anak yang menikmati sholawat, ingin lagi – lagi dan terus bersholawat dengan alunan rebana. Namun karena keterbatasan waktu, terpaksa READY harus berpamitan. Lucunya, sebagian anak masih tidak mau lepas dari gendongan kakak – kakak READY. Dan dengan sedikt berat, kami harus meninggalkan sekitar 30 anak di yayasan islam hamdan.
Itulah salah satu rangkaian kegiatan READY edisi Bulan Ramadhan. Semoga kebaikan – kebaikan bisa langgeng dilaksanakan. Serta sholawat akan terus dilantunkan. READY… GEMA REBANA DIPONEGORO UNIVERSITY JAYA!!!
Jumat, 19 Juni 2015
Curhatan anggota KaJe tentang Pementasan Emka
Siapa anak Undip yang tak kenal Brown Canyon? Brown Canyon merupakan tempat pengerukan tanah di kota Semarang, yang kemudian karena sering dikeruk, terbentuklah tebing yang unik. Sehingga menarik masyarakat untuk mengunjunginya, meski hanya untuk sekadar berfoto.
Namun, yang unik tidak selalu bisa menarik. Ada satu hal yang mendongkrak potensi Brown Canyon, yaitu kisah hidup yang didramakan. Pada hari Minggu, 14 Juni 2015 lalu, kelompok seni teater Emka Fakultas Ilmu Budaya mementaskan drama yang mengangkat kisah hidup masyarakat Rowosari yang bersentuhan langsung dengan hiruk pikuk kehidupan di tempat “padasan” alias brown canyon. Seperti apa kisahnya? Singkat ceritanya begini: tokoh sentralnya adalah keluarga Khamid. Khamid adalah seorang yang beberapa bulan ini menjadi pengangguran karena dia tidak punya kesempatan kerja di padasan. Sementara itu, Suli, isterinya senanatiasa menuntut untuk hidup yang mewah dan bergengsi. Akibatnya untuk memenuhi gengsinya tersebut, Suli hutang kesana – kesini. Suatu hari Ningsih si rentenir menagih hutang Suli, saat itu Ningsig bertemu dengan Khamid. Lalu ketika sore hari Suli pulang ke rumah, terjadilah pertengkaran yang penyebabnya tak lain adalah karena masalah ekonomi. Perdebatan mereka berdua terdengar ke telinga tetangga. Akhirnya para tetangga sudah angkat tangan menasihati keluarga Khamid ini. Namun, keesokan harinya ada berita buruk, Khamid ditangkap petugas karena nekat kerja di padasan tanpa izin. Suli pun menyesali keadaan ini. Itu cerita versi saya sebagai penonton.
Eits, cerita nggak monoton begini kok. Tentu saja ada tokoh – tokoh pendamping yang membawa cerita semakin hidup. Seperti Pardi si preman, Dul si orang gila, Ginah si penjual jajanan di padasan, Mbah sebagai sesepuh yang menasihati masyarakat setempat, dan Warso si tetangga Khamid yang hidupnya mapan. Semua diperankan dengan sangat menarik, senada dengan iringan musik gamelan yang diilustrasikan oleh UKM Kesenian Jawa.
Cerita ini sangat sesuai dengan kondisi di Rowosari. Ada yang hidup tentram, ada yang menjadi preman, ada yang pengangguran, ada yang terlilit hutang. Karena kita tahu, takdir hidup setiap orang tidak sama. Sewaktu – waktu ada yang rodanya di atas, ada pula yang berada di titik terendah. Maka dari itu tidak heran jika judul pentasnya adalah “Wayahan” (re: sewaktu – waktu).
Saya angkat jempol untuk pementasan ini. Kalo mau tahu, saat pementasan banyak sekali penontonnya. Kalau misalnya dihitung kira – kira 500 orang lebih, mulai dari balita hingga lansia semuanya antusias untuk menyaksikan pementasan ini. Semoga dalam pementasan ini tidak hanya hiburan saja, tetapi nilai sosial dan moral bisa dipetik masyarakat.
Sabtu, 17 September 2011
MALAM LEBARAN
Sudah dua tahun lamanya aku tidak bertemu dengan bapak. Selama itu pula kami lost kontak. Sesungguhnya aku sangat merindukan bapak. Sangat membutuhkan bapak. Sejak bapak memutuskan untuk pergi ke Tanah Toraja untuk merantau, hatiku sangat hancur.
Astagfirullahalazim, tak terasa air mata ini mengalir tatkala teringat bapak yang berada di jauh sana. Sejak bapak meninggalkan aku sendiri, hatiku menjadi kosong. Mengingat ibu yang sudah berada di alam yang berbeda. Aku harus hidup bersama orang tua angkatku. Perlakuan buruk sering ibu lakukan padaku. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi catatan takdirku.
Sesungguhnya aku tak tahu mengapa bapak tega menyerahkan aku pada keluarga ini. Jelas – jelas aku sangat menyayangi bapak dan patuh atas semua perintahnya. Terkadang aku berfikir mengapa bapak menitipkanku pada mereka, alasannya adalah karena kami sangat miskin. Mungkin dengan ini aku akan bisa menjadi bahagia. Tapi apa artinya hidup tanpa orang tua?
Sore itu aku ke makam ibu yang berada tidak jauh dari rumah orang tua angkatku. Aku menangis di depan gundukan tanah itu. Dua tahun lamanya aku kehilangan orang tuaku. Mengapa takdir membawaku pada situasi seperti ini, aku tak tahu. Kini aku hanya bisa mengenang kejadian dua tahun yang lalu ketika ibuku masih hidup dan bapak masih berada di sini untuk kami berdua.
Adzan magrib telah berkumandang, waktunya buka puasa. Ketika itu juga nafsu makanku menjadi hilang. Aku tak berdaya untuk membendung air mata. Hidup dalam kesendirian tanpa ada orang yang benar – benar mengasihi kita rasanya seperti jasat yang berjalan saja.
Kata orang – orang aku adalah gadis yang tegar, tapi pada akhirnya air mata ini menetes juga. Hatiku luluh lantak jika teringat orang tuaku. Mungkin semua masalah bisa kutepis dengan mencari celah yang lain. Namun kehilangan orang tua adalah hal yang paling mengerikan di dunia. Ya meski aku tahu, semua adalah milik Allah dan pasti akan kembali padaNya. Terkadang rasa kangen itu ada. Dan saat ini aku sangat merindukan orang tuaku.
Aku meninggalkan rumah orang tua angkatku tanpa pamit. Tak peduli mereka akan mencariku atau tidak. Saat itu mereka tengah sibuk mempersiapkan lebaran esok. Kecuali aku, jika kupandang foto aku bapak dan ibu, apapun bisa tersingkirkan dari benakku.
Malam ini aku ingin sendiri. Merenungkan prasangka – prasangka buruk yang ada di pikiranku. Berharap semoga pikiran buruk akan segera bersih karena esok hari sudah lebaran. Ingin menyucikan diri dengan meminta maaf kepada sesama. Tapi aku tak yakin melakukannya jika bersama – sama orang tua angkatku.
Tentu saja besok mereka akan membawaku ke rumah orang tua mereka di Madura. Makanya sebelum semua terjadi aku memilih untuk melarikan diri ke stasiun. Aku ingin pergi mencari kehidupan baru yang lebih damai. Tinggal bersama orang tua angkatku hanya akan membuat aku pusing dan pusing.
***
Duduk di bangku paling ujung, serasa menunggu sesuatu yang tidak mungkin datang. Ya, sebenarnya aku sedang menunggu bapak. Barangkali bapak datang untuk menemuiku dan membawaku pergi.
Hatiku semakin mantap bahwa malam ini keajaiban akan datang padaku. Aku yakin bapak akan pulang ke Semarang. Kusandarkan kepalaku, mataku menatap jauh ke langit, membayangkan wajah bapak semakin tua dengan guratan di dahinya, kulitnya semakin hitam dan badannya agak bungkuk karena terlalu banyak bekerja. Air mata ini menetes perlahan. “Bapak, aku mohon datanglah! Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Apakah Bapak juga merindukanku? Apakah Bapak disana baik-baik saja? Apa Bapak bisa tidur dengan nyenyak? Makan dengan enak, hidup dengan layak?” pertanyaan-pertanyaan itu meluncur begitu saja bagai brondongan peluru di medan perang, menyerbu tanpa ampun. Begitu banyak pertanyaan tentang bapak terkonsep di kepalaku, namun pertanyaan itu tak pernah terlontarkan, apalagi terjawab. Aku sungguh tersiksa dengan keadaan ini.
Gema suara takbir menggema hingga ke relung hati. Aku tergetar. “Ya Allah, izinkanlah aku bertemu lagi dengan bapakku. Aku sangat merindukannya. Kumohon berikanlah keeajaiban padaku malam ini. Pertemukanlah aku dengannya.” Bisikku dalam hati. Air mataku terus mengalir tak mau berhenti. Semua ketegaran yang kutunjukkan pada orang-orang selama ini, sama sekali menghilang. Malam ini, aku hanya tampak sebagai seorang gadis lemah yang cengeng.
Dari ujung sini kuamati semua orang tampak begitu gembira, anak-anak bermain kembang api. Sepertinya hanya diriku yang tampak begitu menyedihkan di malam hari kemenangan ini. Kutundukkan kepalaku karena sedih memikirkan nasibku yang menyedihkan ini. Seorang anak perempuan meghampiriku, memberikan sebuah kembang api padaku dan mengajakku bermain. Aku menolak, tapi ia dengan wajah polosnya yang manis menarik tanganku memaksaku untuk bermain kembang api bersamanya. Well, akhirnya aku menemaninya bermain kembang api. Saat itu aku merasa agak gembira, sepertinya kesedihanku sedikit berkurang. “Namaku Sella, Kakak kenapa sedih sendirian di sini?” tanyanya.
“Oh, hai, Sella! namaku Zahra. Kamu juga kenapa main sendirian disini, padahal kan banyak anak-anak, kenapa tidak main sama mereka aja?” aku balik bertanya.
“Siapa bilang aku sendirian? Aku datang sama Bapak kok. Bapak lagi beli kembang api disana.” Jawabnya.
“Oh ya? Pasti menyenangkan ya, bisa main bareng bapak. Sayang, bapakku tidak bisa bermain denganku malam ini,” Kataku. Jujur, anak itu semakin mengingatkanku pada sosok bapak. Kalau sedang tidak sibuk, ia juga sering mengajakku bermain. Aku jadi ingin menngis lagi, tapi aku berusaha menahannya di depan anak ini.
“Nah, itu bapak datang. Ayo, kak! Aku kenalkan kakak sama bapak, nanti kita main sama-sama, ya!” anak itu sangat bersemangat, kelihatannya dia begitu bahagia, persis seperti masa kecilku dulu saat bermain dengan bapak, aku juga pernah merasakan kebahagiaan seperti itu, dan sekarang aku sangat merindukan masa itu.
Anak itu menghampiri bapaknya dengan riang, sambil menunjuk-nunjuk ke arahku, sepertinya dia sedang membicarakanku di depan bapaknya. Tak lama kemudian mereka menghampiriku. Semakin dekat, hatiku berdebar begitu kencang. Perasaan apa ini? Wajah lelaki itu sangat tidak asing bagiku, yah, kuamati sekali lagi, lebih dekat lagi. Ya Allah, tidak salah lagi, dia adalah bapak.
“Apa kabar, putriku? Mengapa kamu sendirian di sini?” sapanya.
Astagfirullahalazim, tak terasa air mata ini mengalir tatkala teringat bapak yang berada di jauh sana. Sejak bapak meninggalkan aku sendiri, hatiku menjadi kosong. Mengingat ibu yang sudah berada di alam yang berbeda. Aku harus hidup bersama orang tua angkatku. Perlakuan buruk sering ibu lakukan padaku. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi catatan takdirku.
Sesungguhnya aku tak tahu mengapa bapak tega menyerahkan aku pada keluarga ini. Jelas – jelas aku sangat menyayangi bapak dan patuh atas semua perintahnya. Terkadang aku berfikir mengapa bapak menitipkanku pada mereka, alasannya adalah karena kami sangat miskin. Mungkin dengan ini aku akan bisa menjadi bahagia. Tapi apa artinya hidup tanpa orang tua?
Sore itu aku ke makam ibu yang berada tidak jauh dari rumah orang tua angkatku. Aku menangis di depan gundukan tanah itu. Dua tahun lamanya aku kehilangan orang tuaku. Mengapa takdir membawaku pada situasi seperti ini, aku tak tahu. Kini aku hanya bisa mengenang kejadian dua tahun yang lalu ketika ibuku masih hidup dan bapak masih berada di sini untuk kami berdua.
Adzan magrib telah berkumandang, waktunya buka puasa. Ketika itu juga nafsu makanku menjadi hilang. Aku tak berdaya untuk membendung air mata. Hidup dalam kesendirian tanpa ada orang yang benar – benar mengasihi kita rasanya seperti jasat yang berjalan saja.
Kata orang – orang aku adalah gadis yang tegar, tapi pada akhirnya air mata ini menetes juga. Hatiku luluh lantak jika teringat orang tuaku. Mungkin semua masalah bisa kutepis dengan mencari celah yang lain. Namun kehilangan orang tua adalah hal yang paling mengerikan di dunia. Ya meski aku tahu, semua adalah milik Allah dan pasti akan kembali padaNya. Terkadang rasa kangen itu ada. Dan saat ini aku sangat merindukan orang tuaku.
Aku meninggalkan rumah orang tua angkatku tanpa pamit. Tak peduli mereka akan mencariku atau tidak. Saat itu mereka tengah sibuk mempersiapkan lebaran esok. Kecuali aku, jika kupandang foto aku bapak dan ibu, apapun bisa tersingkirkan dari benakku.
Malam ini aku ingin sendiri. Merenungkan prasangka – prasangka buruk yang ada di pikiranku. Berharap semoga pikiran buruk akan segera bersih karena esok hari sudah lebaran. Ingin menyucikan diri dengan meminta maaf kepada sesama. Tapi aku tak yakin melakukannya jika bersama – sama orang tua angkatku.
Tentu saja besok mereka akan membawaku ke rumah orang tua mereka di Madura. Makanya sebelum semua terjadi aku memilih untuk melarikan diri ke stasiun. Aku ingin pergi mencari kehidupan baru yang lebih damai. Tinggal bersama orang tua angkatku hanya akan membuat aku pusing dan pusing.
***
Duduk di bangku paling ujung, serasa menunggu sesuatu yang tidak mungkin datang. Ya, sebenarnya aku sedang menunggu bapak. Barangkali bapak datang untuk menemuiku dan membawaku pergi.
Hatiku semakin mantap bahwa malam ini keajaiban akan datang padaku. Aku yakin bapak akan pulang ke Semarang. Kusandarkan kepalaku, mataku menatap jauh ke langit, membayangkan wajah bapak semakin tua dengan guratan di dahinya, kulitnya semakin hitam dan badannya agak bungkuk karena terlalu banyak bekerja. Air mata ini menetes perlahan. “Bapak, aku mohon datanglah! Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Apakah Bapak juga merindukanku? Apakah Bapak disana baik-baik saja? Apa Bapak bisa tidur dengan nyenyak? Makan dengan enak, hidup dengan layak?” pertanyaan-pertanyaan itu meluncur begitu saja bagai brondongan peluru di medan perang, menyerbu tanpa ampun. Begitu banyak pertanyaan tentang bapak terkonsep di kepalaku, namun pertanyaan itu tak pernah terlontarkan, apalagi terjawab. Aku sungguh tersiksa dengan keadaan ini.
Gema suara takbir menggema hingga ke relung hati. Aku tergetar. “Ya Allah, izinkanlah aku bertemu lagi dengan bapakku. Aku sangat merindukannya. Kumohon berikanlah keeajaiban padaku malam ini. Pertemukanlah aku dengannya.” Bisikku dalam hati. Air mataku terus mengalir tak mau berhenti. Semua ketegaran yang kutunjukkan pada orang-orang selama ini, sama sekali menghilang. Malam ini, aku hanya tampak sebagai seorang gadis lemah yang cengeng.
Dari ujung sini kuamati semua orang tampak begitu gembira, anak-anak bermain kembang api. Sepertinya hanya diriku yang tampak begitu menyedihkan di malam hari kemenangan ini. Kutundukkan kepalaku karena sedih memikirkan nasibku yang menyedihkan ini. Seorang anak perempuan meghampiriku, memberikan sebuah kembang api padaku dan mengajakku bermain. Aku menolak, tapi ia dengan wajah polosnya yang manis menarik tanganku memaksaku untuk bermain kembang api bersamanya. Well, akhirnya aku menemaninya bermain kembang api. Saat itu aku merasa agak gembira, sepertinya kesedihanku sedikit berkurang. “Namaku Sella, Kakak kenapa sedih sendirian di sini?” tanyanya.
“Oh, hai, Sella! namaku Zahra. Kamu juga kenapa main sendirian disini, padahal kan banyak anak-anak, kenapa tidak main sama mereka aja?” aku balik bertanya.
“Siapa bilang aku sendirian? Aku datang sama Bapak kok. Bapak lagi beli kembang api disana.” Jawabnya.
“Oh ya? Pasti menyenangkan ya, bisa main bareng bapak. Sayang, bapakku tidak bisa bermain denganku malam ini,” Kataku. Jujur, anak itu semakin mengingatkanku pada sosok bapak. Kalau sedang tidak sibuk, ia juga sering mengajakku bermain. Aku jadi ingin menngis lagi, tapi aku berusaha menahannya di depan anak ini.
“Nah, itu bapak datang. Ayo, kak! Aku kenalkan kakak sama bapak, nanti kita main sama-sama, ya!” anak itu sangat bersemangat, kelihatannya dia begitu bahagia, persis seperti masa kecilku dulu saat bermain dengan bapak, aku juga pernah merasakan kebahagiaan seperti itu, dan sekarang aku sangat merindukan masa itu.
Anak itu menghampiri bapaknya dengan riang, sambil menunjuk-nunjuk ke arahku, sepertinya dia sedang membicarakanku di depan bapaknya. Tak lama kemudian mereka menghampiriku. Semakin dekat, hatiku berdebar begitu kencang. Perasaan apa ini? Wajah lelaki itu sangat tidak asing bagiku, yah, kuamati sekali lagi, lebih dekat lagi. Ya Allah, tidak salah lagi, dia adalah bapak.
“Apa kabar, putriku? Mengapa kamu sendirian di sini?” sapanya.
KISAH CINTA DI BULAN RAMADHAN
Awal masuk sekolah yaitu tanggal 11 Juli 2011. Aku sangat mengingatnya karena aku mendapati kesan pertama yang begitu indah dengan salah seorang temanku. Sejak saat itu aku lebih bersemangat mengikuti kegiatan di kelas karena dia. Memang benar kata pepatah, kesan pertama begitu menggoda, tapi kesan selanjutnya aku belum tahu karena kita baru bertemu beberapa hari saja.
Kali ini aku benar – benar menaruh hati padanya. Tapi walau demikian aku harus menjaga sikap agar tidak terlihat salah tingkah dihadapannya. Beruntung aku bisa menahan nafsu untuk mengungkapkan perasaan itu, karena aku wanita dan tak mungkin memulai. Sialnya aku tidak berani mengatakan apa yang tengah aku rasakan. Bahkan pada sahabatku sendiri aku tak berani mencurahkannya.
Sahabatku, Aisya, orang yang penyabar dan dapat dipercaya. Tapi bagaimanapun aku masih sangsi untuk berbagi cerita tentang rasaku pada Ilham. Karena perasaan itu baru berasal dari satu pihak, yaitu dari aku. Aku tidak bisa mengatakan sebelum aku mendapat pertanda balasan cinta dari Ilham. Perilaku untuk jaga gengsi masih berlaku dalam hidupku.
Kali ini sekolah sudah berjalan seperti biasa. Masa perkenalan dan lainnya sudah berlalu. Saatnya aku kembali ke komitmen awalku yaitu selama kelas sebelas aku tidak akan pacaran. Namun rasa yang aku alami ini benar – benar terjadi tanpa komando. Pandangan pertama yang akhirnya turun ke hati ini menjadi berlarut – larut. Tak kusangka komitmen untuk tidak pacaran akhirnya menjadi goyah. Lambat laun aku jadi ingin memiliki hati Ilham. Sikapnya menunjukkan remaja yang syar’i dan berorientasi ke depan. Hatiku benar – benar melting melihat sikapnya yang demikian. Amun sampai saat ini, perasaan itu masih tersembunyi. Hanya aku dan Allah yang tahu.
***
Kian lama perasaan yang ku pendam semakin menjadi – jadi. Rasanya aku sudah tidak betah untuk membagi kisah ini kepada sahabatku. Oh ini tidak mungkin terjadi, aku hanya ingin mempertahankan komitmen awalku. Namun semakin ditahan rasa itu semakin sakit. Tak dapat aku memendam rasa sayang yang terlalu lama. Akhirnya kuputuskan membuat rencana untuk mendekati Ilham.
Berawal dari menjadi teman sekelompok dalam pelajaran, akhirnya aku berhasil mendapatkan nomor HP Ilham. Alhamdulillah, aku punya kesempatan untuk mengenal dia lebih dalam.
Dari nomor itu aku mencari info tentang dia. Aku mendapatkanya, tapi tidak sebanyak apa yang aku inginkan. Itu masa perkenalanku dengannya pada kesempatan pertama. Oke, aku mencoba menunggu sampai dia sadar bahwa aku telah menaruh hati padanya.
Dewi fortuna tidak berpihak padaku. Untuk selanjutnya pesan – pesan singkat yang lumayan penting dariku tidak pernah ditanggapinya. Hatiku belummemutuskan untuk berhenti mendekati dia. Aku mencoba terus mengirim sms yang cukup penting mengenai pelajaran. Namun sial, dia tetap tidakmau merespon basa – basiku ini. Pikiran negatif pun timbul. Bahkan aku sempat berpikir bahwa dia tahu aku suka padanya tapi dia menolak, dan inilah trik yang ia gunakan.
Sebenarnya belum sampai tahap itu. Perhatianku masih sama seperti perhatianku kepada teman – teman yang lain. Aku juga sering mengirim pesan yang cukup penting kepada teman laki – laki yang lain. Mereka membalasnya. Namun pesanku untuk Ilham langka dijawab. Itu membuatku sedikit jengkel dan berusaha mencoret namanya dari daftar cintaku.
Hmm, sepertinya aku sudah terlanjur sayang. Seburuk apapun sifatnya, itu tidak menjadikan rasaku berkurang. Aku masih tetap menyayanginya walau rasa itu hanya terpendam di hatiku. Apapun yang dia lakukan selalu menjadi kenangan tersendiri di dalam memori otakku. Tak jarang aku menulis diary dengan tema – tema tentang dia. Memang pesona indah parasnya sudah meracuni segenap perasaanku.
Aku simpati padanya. Setiap kali ada kesempatan, aku selalu memperhatikan tingkahnya. Wajar sih, namun bagiku itu lebih istimewa dari pada teman yang lain. Setiap ada sesuatu yang baru dari dalam dirinya, itu selalu menjadi sebuah kisah indah dalam hatiku. Oh Ilham, aku terpesona padamu.
Dengan perasaanku yang cukup dalam ini, aku bermaksud untuk meneritakannya kepada sahabat yang duduk sebangkku denganku, Aisya. Tapi mlut ini berat untuk berkata. Akhirnya niat itu kupatahkan kembali. Aku tidak ingin sahabatku tahu tentang perasaanku ini. Jika aku terlalu fokus dengan Ilham, aku malah khawatir jika aku lupa dengan sahabatku. Sebab berpikir tentang Ilham sudah menyita banyak waktuku.
***
Akhir – akhir ini si Aisya sering bercerita tentang Ilham padaku. Sebenarnya aku sedikit tak suka, karena jika aku mendengar namanya pasti aku akan kembali memikirkannya. Tapi apa boleh buat. Lagi – lagi aku dan dia sekelompok dalam pelajaran matematika. Bagaimanapun aku harus ertemu dan bersama – sama dengannya. Aku senang tapi sedih. Aisya yang menghendaki kami sekelompok. Dari sini aku bisa mengira, mungkin Aisya juga suka dengan Ilham.
“Lupakan Rista!” batinku ketika aku hendak kemali memikirkan Ilham.
Semakin lama kurasa, semakin jelas rupanya. Aku merasakan ada sinyal – sinyal bahwa sahabatku Aisya juga menykai orang yang kusukai. Terlihat ketika sedang buka bersama, mereka duduk bersebelahan. Peristiwa itu sempat membuatku dilema hingga tidak nafsu makan.
Fakta berikutnya, untuk tugas kelompok, aku mengirim pesan semacam pertanyaan untuk semua anggota termasuk Ilham. Semuanya merespon, kecuali Ilham. Aku sedikit jengkel. Kuceritakan hal ini kepada Aisya. Kemudian Aisya mencoba mengirim pesan kepada Ilham, dan ternyata ditanggapi.
Dalam hati aku berkata, “Ya Allah, apa sih salahku hingga Ilham berbuat tak adil padaku?”. Aku mencoba untuk tegar. Kusadari benar bahwa sahabatku memang menunjukkan perasaan yang lebih kepada orang yang aku sukai. Namun apa aku harus memecahkan tali persahabatanku demi mendapatkan cinta Ilham? Tidak akan.
Hari ini hari ke 17 bulan Ramadhan, tepatnya malam diturunkannya Al-Quran. Di sekolah ada acara memperingati malam Nuzulul Quran ini. Aisya semangat untuk hadir, dia juga mengatakan bahwa Ilham akan hadir dan nantinya kami sekelompok akan membahas tugas yang tak kunjung usai. Sesungguhnya hatiku hancur mendengar pernyataan itu. Tapi aku tabah menghadapi konflik tentang perasaan ini.
Ilham dan Aisya terlihat akrab dan enjoy ketika bersama. Sedangkan aku, terlihat murung dan cemburu melihat kegembiraan mereka. “Ya Allah, jauhkanlah Ilham dariku.” Hanya itu satu – satunya doa yang aku panjatkan di malam ini.
Lambat laun aku tidak betah melihat kelancaran hubungan sahabatku dengan orang yang aku sukai. Bagaimana bisa aku bersikap biasa saja jika mellihat Ilham bersikap tak adil denganku. Pesan dari Aisya selalu dibalasnya. Sementara aku, never. Pernah kami mengirim pesan yang sama, tapi kasusnya sama. Hal ini membuatku naik pitam.
Ingat Rista, ini bulan Ramadhan, semestinya kamu mengais pahala di bulan suci ini. Jangan isi hari – harimu dengan iri hati dan kedengkian.
Itulah kata nasihat dari aku sendiri yang kadang – kadang mampu meleburkan emosiku. Mungkin perasaan itu hanya sesaat. Tak lama lagi rasa itu akan ditepis oleh waktu yang tak pernah berjalan mundur.
Betapapun aku sangat menyayangi Aisya. Aku tak mungkin menyakiti hatinya. Namun, malang sekali kisahku ini. Kami menyukai orang yang sama. Berat rasanya untuk memilih antara sahabat dan cita – cita cinta. Aku bingung, bimbang, galau. Khawatir jika akhirnya aku harus kehilangan dua –duanya. Mungkin butuh momen yag tepat untuk aku menjelaskan semua kepada Aisya.
***
Sebelum terlanjur patah hati, akhirnya aku ungkapkan apa yang sedang aku pikirkan kepada sahabatku Aisya. Kuungkapkan hal kecil yang kelihatannya sepele tapi menyangkut perasaan tepat di malam lailatul qodar yang acap disebutmalam 1000 bulan. Kuharap, Aisya mengerti dan tidak akan terjadi perselisihan di antara kita berdua kelak.
Di suatu malam, ketika aku sedang memikirkan persahabatanku dan kisah cintaku, kuungkapkan juga kepada Aisya. Akan kujelaskan semuanya. Semua tentang perasaanku semenjak masuk kelas sebelas tanpa terkecuali.
“Aisya, apakah kamu suka dengan Ilham?” aku mengawali pembicaraan.
Lama sekali dia membalas pesanku. Mungkin ia sedang berfikir. Antara iya karena jujur, atau tidak karena ingin memberi pertanda bahwa jawaban yang sesungguhnya adalah iya.
Aku galau benar ketika Aisya menjawab “iya”. Disambung, “Kalau iya memang kenapa?”. Saat itu aku menjadi mati rasa. Bingung antara marah atau sedih atau yang lain. Harusnya aku bahagia karana sahabatku sedang bahagia. Tapi bahagai ahabatku itu karena telah merebut kebahagiaanku.
Akhirnya aku tak kuasa menahan kata – kataku ini.
Sebenarnya sejak pertama kali masuk kelas sebelas, aku sudah mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Ilham. Tapi aku hanya memendammnya dalam hati karena ternyata Ilham tidak memberikan sinyal positif kepadaku. Aku diam, memang tidak terlihat suka, tapi dalamhati ni aku masih mengharapkan perhatian darinya. Mungkin perasaanmu hancur ketika aku mengatakan hal ini. Memang kamu yang lebih perhatian padanya dan kamu yang pantas mendapatkannya. Tapi tolong hargai perasaanku ini. Aku juga pernah suka padanya.
“Rista maafkan aku, aku merasa bersalah jika pada akhirnya kamu tidak dapat mengejar cita – cita cintamu.” Balasnya dengan nada penuh dosa.
Aku mengerti benar. Perasaan tidak pernah bisa dipungkiri. Tapi aku hanya manusia biasa yang tak tahan dengan godaan. Mungkin masih ada maaf bagimu dariku. Begitu juga dengaku, aku menyesal baru mengungkapkan hal ini sekarang. Padahal sudah jelas, Ilham lebih memilih kamu. Apa yang bisa aku harapkan lagi.
“Jika aku harus memilih, tentunya aku akan memilih kamu. Persahabatan lebih berharga daripada seorang pacar. Sebenarnya di dalam islam pacaran dilarang. Dan aku tahu komitmen kita sejak pertama kali masuk kelas sebelas. Kita tidak akan pacaran.”
Ini memang bukan saatnya aku memikirkan masalah cinta. Ilham, kamu memang rupawan, syar’i dan segalanya. Tapi aku tak mungkin mencintai orang yang tidak mencintaiku. Aku tak ingin merasakan pahitnya cinta bertepuk sebelah tangan.
Lebih baik aku melupakanmu, dan kini aku telah memaafkan semua kesalahanmu padaku. Semoga kamu juga memaafkanku. Dengan ini, persahabatanku tidak akan hancur. Lagipula aku juga tak sudi jika harus merelakan persahabatanku demi kamu.
Lebaran telah tiba, kuharap tidak ada khilaf yang masih menjadi dendam.
Kali ini aku benar – benar menaruh hati padanya. Tapi walau demikian aku harus menjaga sikap agar tidak terlihat salah tingkah dihadapannya. Beruntung aku bisa menahan nafsu untuk mengungkapkan perasaan itu, karena aku wanita dan tak mungkin memulai. Sialnya aku tidak berani mengatakan apa yang tengah aku rasakan. Bahkan pada sahabatku sendiri aku tak berani mencurahkannya.
Sahabatku, Aisya, orang yang penyabar dan dapat dipercaya. Tapi bagaimanapun aku masih sangsi untuk berbagi cerita tentang rasaku pada Ilham. Karena perasaan itu baru berasal dari satu pihak, yaitu dari aku. Aku tidak bisa mengatakan sebelum aku mendapat pertanda balasan cinta dari Ilham. Perilaku untuk jaga gengsi masih berlaku dalam hidupku.
Kali ini sekolah sudah berjalan seperti biasa. Masa perkenalan dan lainnya sudah berlalu. Saatnya aku kembali ke komitmen awalku yaitu selama kelas sebelas aku tidak akan pacaran. Namun rasa yang aku alami ini benar – benar terjadi tanpa komando. Pandangan pertama yang akhirnya turun ke hati ini menjadi berlarut – larut. Tak kusangka komitmen untuk tidak pacaran akhirnya menjadi goyah. Lambat laun aku jadi ingin memiliki hati Ilham. Sikapnya menunjukkan remaja yang syar’i dan berorientasi ke depan. Hatiku benar – benar melting melihat sikapnya yang demikian. Amun sampai saat ini, perasaan itu masih tersembunyi. Hanya aku dan Allah yang tahu.
***
Kian lama perasaan yang ku pendam semakin menjadi – jadi. Rasanya aku sudah tidak betah untuk membagi kisah ini kepada sahabatku. Oh ini tidak mungkin terjadi, aku hanya ingin mempertahankan komitmen awalku. Namun semakin ditahan rasa itu semakin sakit. Tak dapat aku memendam rasa sayang yang terlalu lama. Akhirnya kuputuskan membuat rencana untuk mendekati Ilham.
Berawal dari menjadi teman sekelompok dalam pelajaran, akhirnya aku berhasil mendapatkan nomor HP Ilham. Alhamdulillah, aku punya kesempatan untuk mengenal dia lebih dalam.
Dari nomor itu aku mencari info tentang dia. Aku mendapatkanya, tapi tidak sebanyak apa yang aku inginkan. Itu masa perkenalanku dengannya pada kesempatan pertama. Oke, aku mencoba menunggu sampai dia sadar bahwa aku telah menaruh hati padanya.
Dewi fortuna tidak berpihak padaku. Untuk selanjutnya pesan – pesan singkat yang lumayan penting dariku tidak pernah ditanggapinya. Hatiku belummemutuskan untuk berhenti mendekati dia. Aku mencoba terus mengirim sms yang cukup penting mengenai pelajaran. Namun sial, dia tetap tidakmau merespon basa – basiku ini. Pikiran negatif pun timbul. Bahkan aku sempat berpikir bahwa dia tahu aku suka padanya tapi dia menolak, dan inilah trik yang ia gunakan.
Sebenarnya belum sampai tahap itu. Perhatianku masih sama seperti perhatianku kepada teman – teman yang lain. Aku juga sering mengirim pesan yang cukup penting kepada teman laki – laki yang lain. Mereka membalasnya. Namun pesanku untuk Ilham langka dijawab. Itu membuatku sedikit jengkel dan berusaha mencoret namanya dari daftar cintaku.
Hmm, sepertinya aku sudah terlanjur sayang. Seburuk apapun sifatnya, itu tidak menjadikan rasaku berkurang. Aku masih tetap menyayanginya walau rasa itu hanya terpendam di hatiku. Apapun yang dia lakukan selalu menjadi kenangan tersendiri di dalam memori otakku. Tak jarang aku menulis diary dengan tema – tema tentang dia. Memang pesona indah parasnya sudah meracuni segenap perasaanku.
Aku simpati padanya. Setiap kali ada kesempatan, aku selalu memperhatikan tingkahnya. Wajar sih, namun bagiku itu lebih istimewa dari pada teman yang lain. Setiap ada sesuatu yang baru dari dalam dirinya, itu selalu menjadi sebuah kisah indah dalam hatiku. Oh Ilham, aku terpesona padamu.
Dengan perasaanku yang cukup dalam ini, aku bermaksud untuk meneritakannya kepada sahabat yang duduk sebangkku denganku, Aisya. Tapi mlut ini berat untuk berkata. Akhirnya niat itu kupatahkan kembali. Aku tidak ingin sahabatku tahu tentang perasaanku ini. Jika aku terlalu fokus dengan Ilham, aku malah khawatir jika aku lupa dengan sahabatku. Sebab berpikir tentang Ilham sudah menyita banyak waktuku.
***
Akhir – akhir ini si Aisya sering bercerita tentang Ilham padaku. Sebenarnya aku sedikit tak suka, karena jika aku mendengar namanya pasti aku akan kembali memikirkannya. Tapi apa boleh buat. Lagi – lagi aku dan dia sekelompok dalam pelajaran matematika. Bagaimanapun aku harus ertemu dan bersama – sama dengannya. Aku senang tapi sedih. Aisya yang menghendaki kami sekelompok. Dari sini aku bisa mengira, mungkin Aisya juga suka dengan Ilham.
“Lupakan Rista!” batinku ketika aku hendak kemali memikirkan Ilham.
Semakin lama kurasa, semakin jelas rupanya. Aku merasakan ada sinyal – sinyal bahwa sahabatku Aisya juga menykai orang yang kusukai. Terlihat ketika sedang buka bersama, mereka duduk bersebelahan. Peristiwa itu sempat membuatku dilema hingga tidak nafsu makan.
Fakta berikutnya, untuk tugas kelompok, aku mengirim pesan semacam pertanyaan untuk semua anggota termasuk Ilham. Semuanya merespon, kecuali Ilham. Aku sedikit jengkel. Kuceritakan hal ini kepada Aisya. Kemudian Aisya mencoba mengirim pesan kepada Ilham, dan ternyata ditanggapi.
Dalam hati aku berkata, “Ya Allah, apa sih salahku hingga Ilham berbuat tak adil padaku?”. Aku mencoba untuk tegar. Kusadari benar bahwa sahabatku memang menunjukkan perasaan yang lebih kepada orang yang aku sukai. Namun apa aku harus memecahkan tali persahabatanku demi mendapatkan cinta Ilham? Tidak akan.
Hari ini hari ke 17 bulan Ramadhan, tepatnya malam diturunkannya Al-Quran. Di sekolah ada acara memperingati malam Nuzulul Quran ini. Aisya semangat untuk hadir, dia juga mengatakan bahwa Ilham akan hadir dan nantinya kami sekelompok akan membahas tugas yang tak kunjung usai. Sesungguhnya hatiku hancur mendengar pernyataan itu. Tapi aku tabah menghadapi konflik tentang perasaan ini.
Ilham dan Aisya terlihat akrab dan enjoy ketika bersama. Sedangkan aku, terlihat murung dan cemburu melihat kegembiraan mereka. “Ya Allah, jauhkanlah Ilham dariku.” Hanya itu satu – satunya doa yang aku panjatkan di malam ini.
Lambat laun aku tidak betah melihat kelancaran hubungan sahabatku dengan orang yang aku sukai. Bagaimana bisa aku bersikap biasa saja jika mellihat Ilham bersikap tak adil denganku. Pesan dari Aisya selalu dibalasnya. Sementara aku, never. Pernah kami mengirim pesan yang sama, tapi kasusnya sama. Hal ini membuatku naik pitam.
Ingat Rista, ini bulan Ramadhan, semestinya kamu mengais pahala di bulan suci ini. Jangan isi hari – harimu dengan iri hati dan kedengkian.
Itulah kata nasihat dari aku sendiri yang kadang – kadang mampu meleburkan emosiku. Mungkin perasaan itu hanya sesaat. Tak lama lagi rasa itu akan ditepis oleh waktu yang tak pernah berjalan mundur.
Betapapun aku sangat menyayangi Aisya. Aku tak mungkin menyakiti hatinya. Namun, malang sekali kisahku ini. Kami menyukai orang yang sama. Berat rasanya untuk memilih antara sahabat dan cita – cita cinta. Aku bingung, bimbang, galau. Khawatir jika akhirnya aku harus kehilangan dua –duanya. Mungkin butuh momen yag tepat untuk aku menjelaskan semua kepada Aisya.
***
Sebelum terlanjur patah hati, akhirnya aku ungkapkan apa yang sedang aku pikirkan kepada sahabatku Aisya. Kuungkapkan hal kecil yang kelihatannya sepele tapi menyangkut perasaan tepat di malam lailatul qodar yang acap disebutmalam 1000 bulan. Kuharap, Aisya mengerti dan tidak akan terjadi perselisihan di antara kita berdua kelak.
Di suatu malam, ketika aku sedang memikirkan persahabatanku dan kisah cintaku, kuungkapkan juga kepada Aisya. Akan kujelaskan semuanya. Semua tentang perasaanku semenjak masuk kelas sebelas tanpa terkecuali.
“Aisya, apakah kamu suka dengan Ilham?” aku mengawali pembicaraan.
Lama sekali dia membalas pesanku. Mungkin ia sedang berfikir. Antara iya karena jujur, atau tidak karena ingin memberi pertanda bahwa jawaban yang sesungguhnya adalah iya.
Aku galau benar ketika Aisya menjawab “iya”. Disambung, “Kalau iya memang kenapa?”. Saat itu aku menjadi mati rasa. Bingung antara marah atau sedih atau yang lain. Harusnya aku bahagia karana sahabatku sedang bahagia. Tapi bahagai ahabatku itu karena telah merebut kebahagiaanku.
Akhirnya aku tak kuasa menahan kata – kataku ini.
Sebenarnya sejak pertama kali masuk kelas sebelas, aku sudah mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Ilham. Tapi aku hanya memendammnya dalam hati karena ternyata Ilham tidak memberikan sinyal positif kepadaku. Aku diam, memang tidak terlihat suka, tapi dalamhati ni aku masih mengharapkan perhatian darinya. Mungkin perasaanmu hancur ketika aku mengatakan hal ini. Memang kamu yang lebih perhatian padanya dan kamu yang pantas mendapatkannya. Tapi tolong hargai perasaanku ini. Aku juga pernah suka padanya.
“Rista maafkan aku, aku merasa bersalah jika pada akhirnya kamu tidak dapat mengejar cita – cita cintamu.” Balasnya dengan nada penuh dosa.
Aku mengerti benar. Perasaan tidak pernah bisa dipungkiri. Tapi aku hanya manusia biasa yang tak tahan dengan godaan. Mungkin masih ada maaf bagimu dariku. Begitu juga dengaku, aku menyesal baru mengungkapkan hal ini sekarang. Padahal sudah jelas, Ilham lebih memilih kamu. Apa yang bisa aku harapkan lagi.
“Jika aku harus memilih, tentunya aku akan memilih kamu. Persahabatan lebih berharga daripada seorang pacar. Sebenarnya di dalam islam pacaran dilarang. Dan aku tahu komitmen kita sejak pertama kali masuk kelas sebelas. Kita tidak akan pacaran.”
Ini memang bukan saatnya aku memikirkan masalah cinta. Ilham, kamu memang rupawan, syar’i dan segalanya. Tapi aku tak mungkin mencintai orang yang tidak mencintaiku. Aku tak ingin merasakan pahitnya cinta bertepuk sebelah tangan.
Lebih baik aku melupakanmu, dan kini aku telah memaafkan semua kesalahanmu padaku. Semoga kamu juga memaafkanku. Dengan ini, persahabatanku tidak akan hancur. Lagipula aku juga tak sudi jika harus merelakan persahabatanku demi kamu.
Lebaran telah tiba, kuharap tidak ada khilaf yang masih menjadi dendam.
YOU ARE ALWAYS WELCOME IN MY HEART, I WISH WITH YOU FOREVER
“Pokoknya sekarang sampai lulus SMA aku nggak akan pernah pacaran!”
Itulah komitmenku yang sudah kuberitahukan kepada banyak orang temanku, termasuk kakakku. Ya, aku baru saja patah hati lagi. Seorang cowok yang kutaksir mempublikasikan status berpacarannya dengan orang lain yang jelas – jelas akan diketahui semua orang. Memang ini salahku, aku tak pernah bilang bahwa aku suka dengan dia. Tengsin bok! Oke, jaman sekarang cewek cowok sama, tapi betapapun aku punya harga diri. Nggak lucu dong kalau nembak cowok. Eh, walhasil si dia malah sudah didahului sama cewek lain. Nasib... nasib.
Kini aku hanya bisa menyesali perbuatanku, soalnya itu menghasilkan janji. Di kelas, aku hanya bisa sedih kalau melihat Hanief. Semula aku mencanangkan prinsip “semangat belajar karena sensor (Hanief)”. Tapi semenjak aku tahu, bahwa aku sudah tidak memiliki peluang untuk bersamanya, semangat belajarku menurun. Hampa sekali jika hidup hanya bersama cewek. Fiuh, aku mengusap keringat di dahiku.
Lamunanku dipecahkan oleh suara Bu Murni yang lembut.
“Milla,ini ada lomba siswa berprestasi, rencananya sekolah akan mengirimkan kamu sebagai perwakilan putrinya,” jelas beliau.
Oh my god, yang benar saja. Ternyata ada kebahagiaan di sela – sela kesedihan. Deal, aku menerima tawaran yang langka ini. Jadi, pastinya aku ada kegiatan untuk melupakan kesedihan ini. Pastinya aku akan mudah untuk menjaga janjiku “tidak akan pernah pacaran hingga lulus SMA”.
Oh iya, aku ini siswi kelas 2 SMA. Duduk di kelas XI IPA 7. Yang di kelas selalu diam, kecuali ngomong sama teman sebangku, atau kalau ada yang penting saja. Kata teman – temanku aku pintar. Tapi, kalau aku pintar, ngapain aku sekolah? Ya, mungkin maksudnya mudah menerima gitu deh. Semoga memang benar. Nha, itu sebabnya aku dipercaya ikut ajang bergengsi itu. Oke, akan aku laksanakan sebaik – baiknya bu.
Galau, bimbang. Ikut lomba tanpa penjelasan apa itu lombanya. Apa – apaan ini. Disuruh membuat makalah tentang pendidikan karakter. Temanya saja aku nggak tau. Huft, aku menghela nafas. Ampun deh, aku sungguh tidak mengerti tentang lomba ini. Secara, aku tidak tahu bagaimana perintahnya. Ya Allah, hamba butuh juklak.
“Juklaknya dibawa Firdhaus,” kata Bu Murni santai.
Siapa lagi itu Firdhaus. Aku belum pernah mengenal pasangan lombaku itu sebelumnya. Ya suatu saat pasti kenal. Mau gimana lagi, dia orang yang bakal sama – sama denganku untuk saat ini. Semoga orangnya menyenangkan lah. Jangan yang seperti Hanief.
***
Jam istirahat, aku dipanggil untuk ke ruang BK. Oh my god, kaget. Eh tapi ternyata ini menyangkut lomba ini. Akan kuhadiri secarik surat panggilan itu dengan senang hati.
Di ruang tunggu, tampak seorang cowok, di lengan kanannya tertempel bet kelas XI. Wah, ternyata dia temanku. Tapi selama ini aku nggak pernah kenal dengan dia. Hmm, nametextnya kulihat. Firdhaus A. Oh, jadi ini yang namanya Firdhaus.
“Oh, jadi kamu yang namanya Firdhaus,” kataku penasaran.
Dia yang duduk di sofa ruang tunggu hanya senyum dan menganggukkan kepala. Kubuka lagi memori yang berada di otakku. Sepertinya aku mengenal dia sebelumnya. Tapi, ingatan itu cukup sulit kutarik kembali. Oke, aku pasrah, biar waktu yang menjawab padaku siapakah dia sebenarnya.
***
Hari itupun tiba, disaat kami harus mendaftarkan diri sebagai peserta. Aku tidak pernah melakukan perkenalan kepada Firdhaus. Tapi tempat dan waktulah yang membuat aku dan dia menjadi kenal. Bahkan aku mendapat nomor ponselnya, dan itu semua karena forum bimbingan lomba.
Aku ingat, saat pertama kali aku membuka percakapan denganmu. Ternyata kamu sangat mengasyikkan. Hal itu membuatku kecanduan. Hingga akhirnya setiap hari aku dan kamu saling berkirim pesan singkat.
Oh, tak dinyana perkenalan kita berlanjut dengan bahagia. Sampai pada suatu ketika makalah yang kita buat harus segera dikumpulkan. Aku yang memiliki pengetahuan limit, tentu tak bisa berjuang tanpa bantuan dan semangat darimu. Kita saling membantu memberi dukungan. Saat itu juga tak disangka hati kita juga semakin dekat.
Senin, 5 September di ruang serbaguna, aku bertemu denganmu. Kita selesaikan tugas bersama. Pada akhirnya makalah itu selesai juga. Itu semua berkat semangat kita berdua. Sejak pertemuan itu, kita semakin menyatu. Entah mengapa aku merasakan suatu hal yang berbeda ketika aku sedang bersama denganmu, dan hal itu tidak pernah kurasakan jika sedang bersama orang lain. Mungkinkah aku suka denganmu?
Menang benar hanya waktu yang bisa menjawab. Tapi, untuk apa aku menunggu pernyataan yang sudah jelas memang ada. Apakah aku harus menunggu ungkapan itu datang dari mulutmu? Pastinya akan terlalu lama.
Tak dapat kutahan lagi. Karena reaksi kebersamaan itu mendesak hatiku untuk mengatakan hal itu padamu. Akhirnya malam itu kukatakan. Lambat laun aku suka dengan dirimu.
Penuh dengan bimbang. Sebelumnya tak pernah aku berani berkata hal senada kepada seorang teman laki – laki. Namun, untuk kali ini saja perasaanku mendesak untuk ungkapkannya. Ini juga diiringi oleh faktor ketakutan. Sesungguhnya aku takut kehilanganmu.
Sudah cukup jelas bagiku bahwa kamu akan menjawab dengan kalimat senada. Aku sudah tau bahwa kamu sebenarnya juga rasakan hal yang sama. Kamu juga suka denganku. Hatiku menjadi lebih plong setelah katakan itu. Eits, jangan negatif thinking dulu. Bilang suka bukan berarti jadian kan?
Aku suka kamu, kamu suka aku pula. Apalagi yang harus ditunggu? Seharusnya kita sudah menjadi sepasang kekasih.
Saat aku memikirkan pernyataan yang datangnya dari hatiku, saat itu juga aku berpikir begini. Sejak aku putus cinta, aku telah berjanji tidak akan pacaran hingga aku lulus SMA. Bukannya aku akan menjadi penghianat jika aku melanggar janji? Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Sudah ku jelaskan pula kepadamu bahwa aku nggak mungkin mengingkari janjiku ini. Jadi, jika kamu memang suka denganku, kuncinya harus sabar. Ternyata di tahun 2011 masih ada cowok setia yang menurutku memang pantas untuk kusayangi. Dan tak kuduga teryata aku menemukan cinta dalam latihan lomba. Dan orang itu adalah Firdhaus.
Firdhaus adalah seorang siswa seperguruan dengan aku, pacarku (pasangan acara), yang duduk di bangku kelas xi ia 2 yang jauh dari kelasku. Menurutku dia cukup pendiam, tapi sangat pintar. Cepat mudeng, tidak seperti aku. Yang jelas di kelasku nggak ada yang menyamainya. Tapi ada satu hal yang kutakutkan jika aku suka dengannya. Ekskul. Ya, ekskul yang kita tekuni ternyata saling membenci.
Sempat aku bercerita kepada kakakku akan hal ini. Aku suka dengan seorang dimana dia bergabung dengan club yang teman – temanku tidak suka. Kakak justru mengatakan sesuatu yang membangun gairah rasaku, bukan yang menggoyahkan perasaanku. Itulah sebabnya aku sangat menyayangi kakaku. Orang yang tak pernah mematahkan semangatku.
Ya, baiklah Firdhaus, kini aku sudah terlanjur jatuh di hatimu. Entah kamu respect atau tidak, semoga itu menjadi yang terbaik.
Hari – hari kulewati bersamamu. Mulai dari hari kamis 8 September hingga hari ha tanggal 13 September. Kita selalu bersama membangun strategi khususnya untuk memenagkan perlombaan. Namun dalam sebuah pelatihan yang serba memusingkan itu, terdapat kisah asmara kecil – kecilan, yang pastinya terjadi antara aku dan dirimu.
Aku ingat, saat aku membawa castangle (kesukaanmu), pastinya kamu yang makan lebih banyak. Hahaha, lucu sekali. Dan masih banyak kisah lainnya yang tersisip dalam pelatihan lomba. Seandainya kamu tau, aku nggak ingin hari ha itu datang. Karena jika tiba waktunya, kita pasti akan berpisah. Kebersamaan itu mungkin akan menjadi kenangan semata yang tersimpan di hati masing-masing.
Di sisi lain aku sangat takut. Bukan takut menghadapi lomba, namun aku sangat takut jika harus berpisah denganmu. Anehnya kamu juga merasakan ketakutan yang sama seperti aku. Apakah mungkin kita memang mutlak sehati? Semoga.... kita sudah berusaha, kini Allah lah yang menentukan.
Hari yang sangat kutakutkan tiba. Selasa 13 September 2011. Puncak dari segala latihan untuk menuju ke babak yang kedua, yaitu akademik test. Kucoba tenang agar tidak terlalu tampak bahwa sebenarnya aku takut.
Seragkaian tes sudah kulaksanakan dengan maksimal sesuai dengan kemampuanku. Walhasil aku lolos. Namun, hal yang sangat menyedihkan saat itu adalah, Firdhaus tidak lolos. Bagaimana aku bisa tersenyum jika harus berpisah dengan pacarku (pasangan acara)?
Dukungan tetap ada, tapi tetap saja ragamu tak berada di sisiku. Pada akhirnya semua terjawab oleh waktu. Kita harus berpisah, padahal baru sebentar kita berjumpa. Sebegitu singkatnya perjumpaan kita. Inilah ketakutanku yang sebenarnya.
Dalam perjalanan pulang itu, aku menyapamu lewat tulisan. Kukatakan bahwa aku takut kehilanganmu sayang. Lagi – lagi senada, kamu juga rasakan hal yang sama. Namun, tak ada gunanya kita saling bersedih. Sifat bijaksanapun muncul. Kita yakin pasti bisa saling setia. Sehingga aku selalu ada di hatimu dan sebaliknya.
Kamu yang sedang menggenggam bukuku, menemukan sebuah kata mutiara yang sangat tepat untuk kondisi kita saat itu.
“You are always welcome in my heart, I wish with you forever”
Sejak saat itu, aku yakin cinta kita pasti tidak akan terpisahkan selama kita saling loyal.
Itulah komitmenku yang sudah kuberitahukan kepada banyak orang temanku, termasuk kakakku. Ya, aku baru saja patah hati lagi. Seorang cowok yang kutaksir mempublikasikan status berpacarannya dengan orang lain yang jelas – jelas akan diketahui semua orang. Memang ini salahku, aku tak pernah bilang bahwa aku suka dengan dia. Tengsin bok! Oke, jaman sekarang cewek cowok sama, tapi betapapun aku punya harga diri. Nggak lucu dong kalau nembak cowok. Eh, walhasil si dia malah sudah didahului sama cewek lain. Nasib... nasib.
Kini aku hanya bisa menyesali perbuatanku, soalnya itu menghasilkan janji. Di kelas, aku hanya bisa sedih kalau melihat Hanief. Semula aku mencanangkan prinsip “semangat belajar karena sensor (Hanief)”. Tapi semenjak aku tahu, bahwa aku sudah tidak memiliki peluang untuk bersamanya, semangat belajarku menurun. Hampa sekali jika hidup hanya bersama cewek. Fiuh, aku mengusap keringat di dahiku.
Lamunanku dipecahkan oleh suara Bu Murni yang lembut.
“Milla,ini ada lomba siswa berprestasi, rencananya sekolah akan mengirimkan kamu sebagai perwakilan putrinya,” jelas beliau.
Oh my god, yang benar saja. Ternyata ada kebahagiaan di sela – sela kesedihan. Deal, aku menerima tawaran yang langka ini. Jadi, pastinya aku ada kegiatan untuk melupakan kesedihan ini. Pastinya aku akan mudah untuk menjaga janjiku “tidak akan pernah pacaran hingga lulus SMA”.
Oh iya, aku ini siswi kelas 2 SMA. Duduk di kelas XI IPA 7. Yang di kelas selalu diam, kecuali ngomong sama teman sebangku, atau kalau ada yang penting saja. Kata teman – temanku aku pintar. Tapi, kalau aku pintar, ngapain aku sekolah? Ya, mungkin maksudnya mudah menerima gitu deh. Semoga memang benar. Nha, itu sebabnya aku dipercaya ikut ajang bergengsi itu. Oke, akan aku laksanakan sebaik – baiknya bu.
Galau, bimbang. Ikut lomba tanpa penjelasan apa itu lombanya. Apa – apaan ini. Disuruh membuat makalah tentang pendidikan karakter. Temanya saja aku nggak tau. Huft, aku menghela nafas. Ampun deh, aku sungguh tidak mengerti tentang lomba ini. Secara, aku tidak tahu bagaimana perintahnya. Ya Allah, hamba butuh juklak.
“Juklaknya dibawa Firdhaus,” kata Bu Murni santai.
Siapa lagi itu Firdhaus. Aku belum pernah mengenal pasangan lombaku itu sebelumnya. Ya suatu saat pasti kenal. Mau gimana lagi, dia orang yang bakal sama – sama denganku untuk saat ini. Semoga orangnya menyenangkan lah. Jangan yang seperti Hanief.
***
Jam istirahat, aku dipanggil untuk ke ruang BK. Oh my god, kaget. Eh tapi ternyata ini menyangkut lomba ini. Akan kuhadiri secarik surat panggilan itu dengan senang hati.
Di ruang tunggu, tampak seorang cowok, di lengan kanannya tertempel bet kelas XI. Wah, ternyata dia temanku. Tapi selama ini aku nggak pernah kenal dengan dia. Hmm, nametextnya kulihat. Firdhaus A. Oh, jadi ini yang namanya Firdhaus.
“Oh, jadi kamu yang namanya Firdhaus,” kataku penasaran.
Dia yang duduk di sofa ruang tunggu hanya senyum dan menganggukkan kepala. Kubuka lagi memori yang berada di otakku. Sepertinya aku mengenal dia sebelumnya. Tapi, ingatan itu cukup sulit kutarik kembali. Oke, aku pasrah, biar waktu yang menjawab padaku siapakah dia sebenarnya.
***
Hari itupun tiba, disaat kami harus mendaftarkan diri sebagai peserta. Aku tidak pernah melakukan perkenalan kepada Firdhaus. Tapi tempat dan waktulah yang membuat aku dan dia menjadi kenal. Bahkan aku mendapat nomor ponselnya, dan itu semua karena forum bimbingan lomba.
Aku ingat, saat pertama kali aku membuka percakapan denganmu. Ternyata kamu sangat mengasyikkan. Hal itu membuatku kecanduan. Hingga akhirnya setiap hari aku dan kamu saling berkirim pesan singkat.
Oh, tak dinyana perkenalan kita berlanjut dengan bahagia. Sampai pada suatu ketika makalah yang kita buat harus segera dikumpulkan. Aku yang memiliki pengetahuan limit, tentu tak bisa berjuang tanpa bantuan dan semangat darimu. Kita saling membantu memberi dukungan. Saat itu juga tak disangka hati kita juga semakin dekat.
Senin, 5 September di ruang serbaguna, aku bertemu denganmu. Kita selesaikan tugas bersama. Pada akhirnya makalah itu selesai juga. Itu semua berkat semangat kita berdua. Sejak pertemuan itu, kita semakin menyatu. Entah mengapa aku merasakan suatu hal yang berbeda ketika aku sedang bersama denganmu, dan hal itu tidak pernah kurasakan jika sedang bersama orang lain. Mungkinkah aku suka denganmu?
Menang benar hanya waktu yang bisa menjawab. Tapi, untuk apa aku menunggu pernyataan yang sudah jelas memang ada. Apakah aku harus menunggu ungkapan itu datang dari mulutmu? Pastinya akan terlalu lama.
Tak dapat kutahan lagi. Karena reaksi kebersamaan itu mendesak hatiku untuk mengatakan hal itu padamu. Akhirnya malam itu kukatakan. Lambat laun aku suka dengan dirimu.
Penuh dengan bimbang. Sebelumnya tak pernah aku berani berkata hal senada kepada seorang teman laki – laki. Namun, untuk kali ini saja perasaanku mendesak untuk ungkapkannya. Ini juga diiringi oleh faktor ketakutan. Sesungguhnya aku takut kehilanganmu.
Sudah cukup jelas bagiku bahwa kamu akan menjawab dengan kalimat senada. Aku sudah tau bahwa kamu sebenarnya juga rasakan hal yang sama. Kamu juga suka denganku. Hatiku menjadi lebih plong setelah katakan itu. Eits, jangan negatif thinking dulu. Bilang suka bukan berarti jadian kan?
Aku suka kamu, kamu suka aku pula. Apalagi yang harus ditunggu? Seharusnya kita sudah menjadi sepasang kekasih.
Saat aku memikirkan pernyataan yang datangnya dari hatiku, saat itu juga aku berpikir begini. Sejak aku putus cinta, aku telah berjanji tidak akan pacaran hingga aku lulus SMA. Bukannya aku akan menjadi penghianat jika aku melanggar janji? Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Sudah ku jelaskan pula kepadamu bahwa aku nggak mungkin mengingkari janjiku ini. Jadi, jika kamu memang suka denganku, kuncinya harus sabar. Ternyata di tahun 2011 masih ada cowok setia yang menurutku memang pantas untuk kusayangi. Dan tak kuduga teryata aku menemukan cinta dalam latihan lomba. Dan orang itu adalah Firdhaus.
Firdhaus adalah seorang siswa seperguruan dengan aku, pacarku (pasangan acara), yang duduk di bangku kelas xi ia 2 yang jauh dari kelasku. Menurutku dia cukup pendiam, tapi sangat pintar. Cepat mudeng, tidak seperti aku. Yang jelas di kelasku nggak ada yang menyamainya. Tapi ada satu hal yang kutakutkan jika aku suka dengannya. Ekskul. Ya, ekskul yang kita tekuni ternyata saling membenci.
Sempat aku bercerita kepada kakakku akan hal ini. Aku suka dengan seorang dimana dia bergabung dengan club yang teman – temanku tidak suka. Kakak justru mengatakan sesuatu yang membangun gairah rasaku, bukan yang menggoyahkan perasaanku. Itulah sebabnya aku sangat menyayangi kakaku. Orang yang tak pernah mematahkan semangatku.
Ya, baiklah Firdhaus, kini aku sudah terlanjur jatuh di hatimu. Entah kamu respect atau tidak, semoga itu menjadi yang terbaik.
Hari – hari kulewati bersamamu. Mulai dari hari kamis 8 September hingga hari ha tanggal 13 September. Kita selalu bersama membangun strategi khususnya untuk memenagkan perlombaan. Namun dalam sebuah pelatihan yang serba memusingkan itu, terdapat kisah asmara kecil – kecilan, yang pastinya terjadi antara aku dan dirimu.
Aku ingat, saat aku membawa castangle (kesukaanmu), pastinya kamu yang makan lebih banyak. Hahaha, lucu sekali. Dan masih banyak kisah lainnya yang tersisip dalam pelatihan lomba. Seandainya kamu tau, aku nggak ingin hari ha itu datang. Karena jika tiba waktunya, kita pasti akan berpisah. Kebersamaan itu mungkin akan menjadi kenangan semata yang tersimpan di hati masing-masing.
Di sisi lain aku sangat takut. Bukan takut menghadapi lomba, namun aku sangat takut jika harus berpisah denganmu. Anehnya kamu juga merasakan ketakutan yang sama seperti aku. Apakah mungkin kita memang mutlak sehati? Semoga.... kita sudah berusaha, kini Allah lah yang menentukan.
Hari yang sangat kutakutkan tiba. Selasa 13 September 2011. Puncak dari segala latihan untuk menuju ke babak yang kedua, yaitu akademik test. Kucoba tenang agar tidak terlalu tampak bahwa sebenarnya aku takut.
Seragkaian tes sudah kulaksanakan dengan maksimal sesuai dengan kemampuanku. Walhasil aku lolos. Namun, hal yang sangat menyedihkan saat itu adalah, Firdhaus tidak lolos. Bagaimana aku bisa tersenyum jika harus berpisah dengan pacarku (pasangan acara)?
Dukungan tetap ada, tapi tetap saja ragamu tak berada di sisiku. Pada akhirnya semua terjawab oleh waktu. Kita harus berpisah, padahal baru sebentar kita berjumpa. Sebegitu singkatnya perjumpaan kita. Inilah ketakutanku yang sebenarnya.
Dalam perjalanan pulang itu, aku menyapamu lewat tulisan. Kukatakan bahwa aku takut kehilanganmu sayang. Lagi – lagi senada, kamu juga rasakan hal yang sama. Namun, tak ada gunanya kita saling bersedih. Sifat bijaksanapun muncul. Kita yakin pasti bisa saling setia. Sehingga aku selalu ada di hatimu dan sebaliknya.
Kamu yang sedang menggenggam bukuku, menemukan sebuah kata mutiara yang sangat tepat untuk kondisi kita saat itu.
“You are always welcome in my heart, I wish with you forever”
Sejak saat itu, aku yakin cinta kita pasti tidak akan terpisahkan selama kita saling loyal.
Rabu, 06 Juli 2011
DANANG, ANAK JALANAN YANG TIDAK BERCITA - CITA
anak jalanan yang sedang mengamen, seolah - olah menjadi pemandangan yang wajib di tiap - tiap sudut jalan maupun di sela - sela lampu merah. bukan karena sengaja untuk mencari kegiatan yang asyik, namun mengamen merupakan kegiatan wajib bagi mereka untuk menyambung hidupnya.
hal ini dialami oleh seorang anak yang bernama Danang. dia merupakan salah satu dari ribuan anak yang mempunyai nasib tak baik. setiap hari bocah berkulit hitam ini harus menamen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya."Saya ngamen setiap hari buat beli makan," ujarnya.
namun tak semua anak jalanan bersifat kasar, tidak sopan dan urakan. danang justru memiliki sifat pemalu dan sopan. hal ini membuat kami semakin ingin tagu bagaimana tentang dirinya.
danang tidak mengamen sendirian, dia diawasi oleh ibu Sanimah. sejak kecil Danang tidak dirawat ibu kandungnya. bocah yang sedang memakai baju kuning ini dititipkan kepada ibu sanimah sejak lahir. "Danang dititipkan ibunya kepada saya, bapaknya pergi entah kemana,"jelasnya. kini dia hidup bersana ibu sanimah. ibu - ibu berusia 55 tahun ini mengais rejeki dengan cara membantu suaminya mencari barang - barang bekas untuk dirosokkan.
meskipun demikian, danang tidak tinggal bersama ibu sanimah, melainkan tinggal bersama para anak jalanan lain di sebuah lingkungan gereja. di sana ternyata ia mendapat perlakuan yang baik. bocah yang mengamen di lampu merah jalan pattimura ini diberi makan dan minum setiap harinya tanpa kekurangan. setiap hari selasa dan sabtu, ia dijemput oleh mobil gereja untuk bersekolah. "Saya belajar membaca, berhitung, dan menyanyi di sekolah," ujarnya. ia mengaku senang masih diberi kesempatan untuk bersekolah, namun ia juga suka mengamen di jalan, karena mendapat uang. "Saya suka bisa sekolah, tetapi saya juga suka kerja karena bisa membantu emak saya," tambahnya.
tak kunyana, seorang yang hidup di lingkungan gereja, namun ia memeluk agama islam. hal ini saya ketahui ketika saya bertanya kegiatannya di malam hari. "KALau malam, saya shollat di masjid, terus ngaji juga," jelasnya. walaupun ia memiliki nasib yang kurang mujur, ia tetap bersukur kepada Allah.
beruntung selama bertahun - tahun ngamen di jalanan Danang tidak pernah ditangkap oleh petugas keamanan dan ketertiban. bocah berbadan kurus itu juga tak pernah dipalak atau diganggu oleh preman. namun pekerjaan mengamen sangat bnayak saingannya. "Ya, namanya juga ngamen di jalan, tentu banyak saingannya," tuturnya. jika ia merasa bosan, maka ia akan pindah lokasi. "Saya pindah ke tempat lain yang lebih aman dan lebih nyaman jika bosan," lanjutnya.
penghasilan pengamen yang ramah ini tidak menentu. tiap harinya paling sedikit ia mendapat sepuluh ribu rupiah dan paling banyak mendapat dua puluh ribu rupiah. uang ini ia berikan kepada emaknya untuk memenuhi kebutuhan. jika sedang sakit, danang tidak mengamen. ia membeli makan dengan uang cadangan yang telah ia sisihkan ketika mendapat banyak uang.
danang mengaku tak punya cita - cita. ia lebih suka menjalanai hidupnya di jalanansebagai seorang pengamen. "Saya tidak ingin menjadipengusah, dokter, polisi, atau lainnya. saya ingin bekerja begini saja bersma emak," akunya. meskipun saya telah memotivasi dia supaya menginginkan masa depan yang cerah, danang tetap saja pesimis akan masa depannya.
sekian laporan wawancara saya dengan danang si anak petualang jalan.
hal ini dialami oleh seorang anak yang bernama Danang. dia merupakan salah satu dari ribuan anak yang mempunyai nasib tak baik. setiap hari bocah berkulit hitam ini harus menamen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya."Saya ngamen setiap hari buat beli makan," ujarnya.
namun tak semua anak jalanan bersifat kasar, tidak sopan dan urakan. danang justru memiliki sifat pemalu dan sopan. hal ini membuat kami semakin ingin tagu bagaimana tentang dirinya.
danang tidak mengamen sendirian, dia diawasi oleh ibu Sanimah. sejak kecil Danang tidak dirawat ibu kandungnya. bocah yang sedang memakai baju kuning ini dititipkan kepada ibu sanimah sejak lahir. "Danang dititipkan ibunya kepada saya, bapaknya pergi entah kemana,"jelasnya. kini dia hidup bersana ibu sanimah. ibu - ibu berusia 55 tahun ini mengais rejeki dengan cara membantu suaminya mencari barang - barang bekas untuk dirosokkan.
meskipun demikian, danang tidak tinggal bersama ibu sanimah, melainkan tinggal bersama para anak jalanan lain di sebuah lingkungan gereja. di sana ternyata ia mendapat perlakuan yang baik. bocah yang mengamen di lampu merah jalan pattimura ini diberi makan dan minum setiap harinya tanpa kekurangan. setiap hari selasa dan sabtu, ia dijemput oleh mobil gereja untuk bersekolah. "Saya belajar membaca, berhitung, dan menyanyi di sekolah," ujarnya. ia mengaku senang masih diberi kesempatan untuk bersekolah, namun ia juga suka mengamen di jalan, karena mendapat uang. "Saya suka bisa sekolah, tetapi saya juga suka kerja karena bisa membantu emak saya," tambahnya.
tak kunyana, seorang yang hidup di lingkungan gereja, namun ia memeluk agama islam. hal ini saya ketahui ketika saya bertanya kegiatannya di malam hari. "KALau malam, saya shollat di masjid, terus ngaji juga," jelasnya. walaupun ia memiliki nasib yang kurang mujur, ia tetap bersukur kepada Allah.
beruntung selama bertahun - tahun ngamen di jalanan Danang tidak pernah ditangkap oleh petugas keamanan dan ketertiban. bocah berbadan kurus itu juga tak pernah dipalak atau diganggu oleh preman. namun pekerjaan mengamen sangat bnayak saingannya. "Ya, namanya juga ngamen di jalan, tentu banyak saingannya," tuturnya. jika ia merasa bosan, maka ia akan pindah lokasi. "Saya pindah ke tempat lain yang lebih aman dan lebih nyaman jika bosan," lanjutnya.
penghasilan pengamen yang ramah ini tidak menentu. tiap harinya paling sedikit ia mendapat sepuluh ribu rupiah dan paling banyak mendapat dua puluh ribu rupiah. uang ini ia berikan kepada emaknya untuk memenuhi kebutuhan. jika sedang sakit, danang tidak mengamen. ia membeli makan dengan uang cadangan yang telah ia sisihkan ketika mendapat banyak uang.
danang mengaku tak punya cita - cita. ia lebih suka menjalanai hidupnya di jalanansebagai seorang pengamen. "Saya tidak ingin menjadipengusah, dokter, polisi, atau lainnya. saya ingin bekerja begini saja bersma emak," akunya. meskipun saya telah memotivasi dia supaya menginginkan masa depan yang cerah, danang tetap saja pesimis akan masa depannya.
sekian laporan wawancara saya dengan danang si anak petualang jalan.
PENYESALAN MELODY
Dag dig dug! Jantung ini berdetak lebih cepat, telinga ini sudah tidak sabar lagi untuk mendengar siapa yang menjadi juara kelas semester ini. Hati ini terus berharap, mungkinkah aku jadi juara kelas? Setelah dua kali berturut – turut berhasil menjadi juara kelas di kelas tujuh. Dan inilah jawabannya....
“peringkat pertama adalah Melody Adelia,”
Prok prok prok.... suara kompak dari suara tangan teman – temanku mampu membuat hatiku melompat. Tak lupa rasa syukur terus terucap dari mulutku.
“Melody, selamat ya! Kamu keren banget.”
“Iya, makasih ya Deka.”
Heran, ucapan itu berasal dari temanku yang mendapat gelar miss don’t care. Deka yang biasanya nggak pedulian kok sempat – sempatnya mengucapkan selamat buat aku. Ah, bagus lah, nggak usah negativ thinking. Mungkin Deka sudah –
“Mel! Ngelamun aja nih, habis dapat rangking satu jadi kesenangan nih, ahaha ....”
“Ah, kamu bisa saja, kamu sudah memotong lamunanku tahu!”
“Oh ya, maaf deh. Kalau begitu, aku duluan ya.”
Deka berhambur pergi. Seorang Deka mengucapkan selamat kepadaku? Masih nggak percaya.
Akhir – akhir ini Deka serig sms aku. Dia ingin jadi teman dekatku. Akupun tidak keberatan danmenerimanya dengan senang hati pastinya.
Hari – hari kulewati dengan sejuta warna. Oh betapa senangnya hatiku mempunyai teman yang sangat mengasyikkan. Tuhan, inikah yang dinamakan persahabatan? Aku baru merasakannya. Sangat indah Tuhan. Semoga Engkau tidak memisahkanku dengan sahabatku Tuhan....
1 pesan baru dari Deka.
“Mel besok ada acara nggak? Gimana kalau kamu ke rumahku? Ortu pergi nih, aku kesepian...mau kan mel ?”
Ohoho ada yang minta ditemani, demi persahabatan deh. Jawab aja iya. Akupun setuju.
“spada... tok tok...!” salam dariku yang imut.
“Mel, ayo masuk!” sambut Deka.
“Makasih, boleh duduk nggak?” tanyaku sambil bercanda.
“Emh, buat Melody boleh deh, eh sebentar ya, aku mau ambil minman dulu.” Deka ke belakang.
“Dek, Deka? Pinjam dongkrak dong...!” suara lembut berteriak dari luar dan sepertinya menuju kemari. Dari balik pintu yang telah terbuka, muncullah sesosok cowok kerean yang sepertinya menuju ke dalam. Ups, tapi mengapa aku jadi tegang begini ya. Dag dig dug jantungku semakin ngebut. Apakah aku sedang mengalami gejala pandangan pertama. Oh my god, it’s so sweet....
“hey! Kok bengong?” sebuah suara menyadarkanku dari lamunanku.
“emh, aku nggak bengong kok. Emh, cari Deka ya? Dia di belakang.”
“yasudah, aku ke belakang dulu. Thank’s ya Mel!”
Ooh menakjubkan, dia tahu namaku. Padahal aku kan nggak kenal dia. Aku jadi jatuh ngefans deh. Eh tapi mungkin sebelum aku ngefans dengan dia, dia sudah ngefans duluan dengan aku. Aduh jadi salting, mendingan ngaca dulu, periksa kerapian, hehe.
“Dek, aku pulang dulu ya, makasih dongkraknya, nanti kalau sudah selesai aku kembalikan.” Kata laki – laki itu.
“Hey, tunggu! Kamu tadi kok tahu namaku? Sepertinya aku pernah melihatmu di... sekolah.” Tanyaku bertele – tele.
“yah, kita kan emang satu sekolah Mel, baru sadar ya. Hahaha.” Jawabnya santai.
Huh, untung saja tadi aku tidak terlihat salting.
“Mel, minum.”
Rasa malu sih memang ada ketika akku bertanya pada Deka. Laki – laki itu bernama Junior, temannya Deka. Junior itu cakep, baik hati, tidak sombong, lucu, imut dan pokoknya yang bagus – bagus.
Keesokan harinya aku sudah berhasil melewati masa perkenalan. Sejak itu aku dan Junior jadi lebih akrab. Kami sering main bersama, saling cerita dan masih banyak lagi. Tak lupa aku juga pernah melihat pertandingan bola tim Junior. Tapi bukan berarti aku melupakan Deka begitu saja. Aku malah jadi semakin rekat dengan Deka.
Hampir satu bulan aku masuk sekolah, hari – hari kuhabiskan bersama Deka dan Junior. Bahkan aku sering melalaikan jadwal mengajiku, juga lupa dengan kewajiban sebagai siswa, belajar.ah tapi ini kan masih satu bulan, masih santai.
Telah lama rasa ini kupendam, tak ada yang menyadari kecuali diriku sendiri. Dka pun tahu setelah aku memberitahunya. Tapi, mengapa ketika aku benar – benar menyukai Junior malah dia semakin berusaha pergi menjauh dari kehidupanku. Oh Junior, memang rasa ini sungguh tidak wajar, namun aku ingin tetap beramamu. Mengapa semakin ku kejar, kau semakin jauh.
Kini meskipun engkau jauh, bagiku kau masih tetap terasa dekat. Karena bayang – nayangmu tak mau pergi. Dan aku juga masih punya Deka. Junior begtu tega melupkan aku. Aku sedih Junior, ketahuilah....
Gara – gara masalah sepele ini semangat belajarku jadi menurun. Kegiatanku hanyalah bermain handphone. Berharap masih ada satu dua teman yang peduli denganku. Teman – teman bosan denganku karena sekarang aku nggak bisa memberikan contekan ketika ulangan dan apabila memberikan jawabanpun kadang – kadang benar dan seringkali salah.
Oh cukup sudah aku menderita karena Junior. Mengapa dulu aku suka dengannya kalau sekarang ini dia menegaskan padaku bahwa dia tak sedikitpun hasratnya padaku. Aku sungguh capek dibuatnya menderita. Mengapa dulu demi bertemu Junior aku sering membohongi Bunda dan mengaku mengerjakan tugas. Mengapa demi Junior aku meninggalkan tugas – tugas sekolah. Mengapa demi Junior aku rela membolos ekstrakurikuler.
Ujian kenaikan kelas telah berakhir. Bagiku berakhir dengan kesedihan. Sebab tak ada separuh soal ipa yang bisa bisa kusekesaikan. Otakku menjadi padat sketika. Aku hanya bergantung kepada kancing baju dan berdoa supaya aku beruntung. Tapi inilah hasilnya. Rapor Melody dengan nilai – nilai yang turun drastis hingga mendapat peringkat yang jauh dari angan – angan. Hanya ada kata menyesal dibenakku saat ini.
Namun semua telah terjadi. Aku telah mengecewakan orang tuaku yang tak bersalah ini. Aku tak bisa mempertahankan bintang di langit hingga pagi menjemput dan ilang ditelan siang. Mengapa aku hnaya bisa memberi setangkai bunga yang layu kepada orang tuaku.
Seribu kata maaf sungguh tiada berarti. Tapi apa lagi kata yang pantas diucapkan kepada Ayah dan Bunda selain kata maaf?
“Ayah, Bunda, maafkan aku.” Aku tak kuasa menahan tangis dan segera berdiri memeluk Bunda.
“Iya Bunda mengerti. Jangan diulngi lagi ya!” jawab mereka dengan nada menyimpan rasa yang sangat tidak ada sedikitpun aroma kebahagiaan.
Aku tahu Ayah dan Bunda menyimpan rasa kecewa yang cukup dalam. Dan semoga mereak tahu, kalau mereka kecewa sesungguhnya aku lebih kecewa. Bersyukur aku bisa naik kelas. Kini aku hanya bisa menangis dan menangis. Hingga waktu yang mampu menghapus air mataku.
Dalam kesedihan ini aku berdoa semoga aku tidak akan lagi menemukan laki – laki yang seperti Junior. Mulai sekarang tidak ada lagi Junior dalam kamusku. Tidak ada lagi kata bohong. Tidak ada lagikata menyesal.
“sayang, ayo makan dulu. Kalau kamu tangisi terus tak ada gunanya. Nanti kamu bisa sakit.” Bunda membujukku.
“Siap! Aku nggak akan pergi ke dunia malas dan tangis lagi.” Jawabku sambil menghapus air mata dan beranjak dari tempat tidurku.
“huh, dasar cengeng! Pemalas! Rapornya jelek!” ejek kakak.
“aak, kakak nggak usah terlalu memuji! Aku kan jadi malu.” Jawabku dengan kata ang seratus persen bohong.
Makan siang berlangsung dengan khidmat seperti upacara bendera saja. Nah inilah kebahagiaan yang sesungguhnya. Dimana oang – orang tua memberikan cinta yang begitu besar kepaa anaknya.
1 pesan baru dari Lefi.
“Mel, hari selasa Junior tanding. Datang ya!”
Dengan jawaban yang tak sedikitpun berbau dendam, aku nggak mau datang. Sebenarnya Lefi sempat memaksaku. Tapi aku benar – benar nggak ingin bertemu dengan Junior. Meskipun Lefi sahabatnya Junior, aku nggak merasa takut bercerita padanya tentang Junior.
“Mel, tapi kamu apa nggak mau nonton pertandinganku juga?” lefi merayu.
“Ya, aku akan dukung dari sini. Haha ....”
Selamat tinggal Junior. Aku nggak akan kejar – kejar kamu lagi. Pergilah ....
“peringkat pertama adalah Melody Adelia,”
Prok prok prok.... suara kompak dari suara tangan teman – temanku mampu membuat hatiku melompat. Tak lupa rasa syukur terus terucap dari mulutku.
“Melody, selamat ya! Kamu keren banget.”
“Iya, makasih ya Deka.”
Heran, ucapan itu berasal dari temanku yang mendapat gelar miss don’t care. Deka yang biasanya nggak pedulian kok sempat – sempatnya mengucapkan selamat buat aku. Ah, bagus lah, nggak usah negativ thinking. Mungkin Deka sudah –
“Mel! Ngelamun aja nih, habis dapat rangking satu jadi kesenangan nih, ahaha ....”
“Ah, kamu bisa saja, kamu sudah memotong lamunanku tahu!”
“Oh ya, maaf deh. Kalau begitu, aku duluan ya.”
Deka berhambur pergi. Seorang Deka mengucapkan selamat kepadaku? Masih nggak percaya.
Akhir – akhir ini Deka serig sms aku. Dia ingin jadi teman dekatku. Akupun tidak keberatan danmenerimanya dengan senang hati pastinya.
Hari – hari kulewati dengan sejuta warna. Oh betapa senangnya hatiku mempunyai teman yang sangat mengasyikkan. Tuhan, inikah yang dinamakan persahabatan? Aku baru merasakannya. Sangat indah Tuhan. Semoga Engkau tidak memisahkanku dengan sahabatku Tuhan....
1 pesan baru dari Deka.
“Mel besok ada acara nggak? Gimana kalau kamu ke rumahku? Ortu pergi nih, aku kesepian...mau kan mel ?”
Ohoho ada yang minta ditemani, demi persahabatan deh. Jawab aja iya. Akupun setuju.
“spada... tok tok...!” salam dariku yang imut.
“Mel, ayo masuk!” sambut Deka.
“Makasih, boleh duduk nggak?” tanyaku sambil bercanda.
“Emh, buat Melody boleh deh, eh sebentar ya, aku mau ambil minman dulu.” Deka ke belakang.
“Dek, Deka? Pinjam dongkrak dong...!” suara lembut berteriak dari luar dan sepertinya menuju kemari. Dari balik pintu yang telah terbuka, muncullah sesosok cowok kerean yang sepertinya menuju ke dalam. Ups, tapi mengapa aku jadi tegang begini ya. Dag dig dug jantungku semakin ngebut. Apakah aku sedang mengalami gejala pandangan pertama. Oh my god, it’s so sweet....
“hey! Kok bengong?” sebuah suara menyadarkanku dari lamunanku.
“emh, aku nggak bengong kok. Emh, cari Deka ya? Dia di belakang.”
“yasudah, aku ke belakang dulu. Thank’s ya Mel!”
Ooh menakjubkan, dia tahu namaku. Padahal aku kan nggak kenal dia. Aku jadi jatuh ngefans deh. Eh tapi mungkin sebelum aku ngefans dengan dia, dia sudah ngefans duluan dengan aku. Aduh jadi salting, mendingan ngaca dulu, periksa kerapian, hehe.
“Dek, aku pulang dulu ya, makasih dongkraknya, nanti kalau sudah selesai aku kembalikan.” Kata laki – laki itu.
“Hey, tunggu! Kamu tadi kok tahu namaku? Sepertinya aku pernah melihatmu di... sekolah.” Tanyaku bertele – tele.
“yah, kita kan emang satu sekolah Mel, baru sadar ya. Hahaha.” Jawabnya santai.
Huh, untung saja tadi aku tidak terlihat salting.
“Mel, minum.”
Rasa malu sih memang ada ketika akku bertanya pada Deka. Laki – laki itu bernama Junior, temannya Deka. Junior itu cakep, baik hati, tidak sombong, lucu, imut dan pokoknya yang bagus – bagus.
Keesokan harinya aku sudah berhasil melewati masa perkenalan. Sejak itu aku dan Junior jadi lebih akrab. Kami sering main bersama, saling cerita dan masih banyak lagi. Tak lupa aku juga pernah melihat pertandingan bola tim Junior. Tapi bukan berarti aku melupakan Deka begitu saja. Aku malah jadi semakin rekat dengan Deka.
Hampir satu bulan aku masuk sekolah, hari – hari kuhabiskan bersama Deka dan Junior. Bahkan aku sering melalaikan jadwal mengajiku, juga lupa dengan kewajiban sebagai siswa, belajar.ah tapi ini kan masih satu bulan, masih santai.
Telah lama rasa ini kupendam, tak ada yang menyadari kecuali diriku sendiri. Dka pun tahu setelah aku memberitahunya. Tapi, mengapa ketika aku benar – benar menyukai Junior malah dia semakin berusaha pergi menjauh dari kehidupanku. Oh Junior, memang rasa ini sungguh tidak wajar, namun aku ingin tetap beramamu. Mengapa semakin ku kejar, kau semakin jauh.
Kini meskipun engkau jauh, bagiku kau masih tetap terasa dekat. Karena bayang – nayangmu tak mau pergi. Dan aku juga masih punya Deka. Junior begtu tega melupkan aku. Aku sedih Junior, ketahuilah....
Gara – gara masalah sepele ini semangat belajarku jadi menurun. Kegiatanku hanyalah bermain handphone. Berharap masih ada satu dua teman yang peduli denganku. Teman – teman bosan denganku karena sekarang aku nggak bisa memberikan contekan ketika ulangan dan apabila memberikan jawabanpun kadang – kadang benar dan seringkali salah.
Oh cukup sudah aku menderita karena Junior. Mengapa dulu aku suka dengannya kalau sekarang ini dia menegaskan padaku bahwa dia tak sedikitpun hasratnya padaku. Aku sungguh capek dibuatnya menderita. Mengapa dulu demi bertemu Junior aku sering membohongi Bunda dan mengaku mengerjakan tugas. Mengapa demi Junior aku meninggalkan tugas – tugas sekolah. Mengapa demi Junior aku rela membolos ekstrakurikuler.
Ujian kenaikan kelas telah berakhir. Bagiku berakhir dengan kesedihan. Sebab tak ada separuh soal ipa yang bisa bisa kusekesaikan. Otakku menjadi padat sketika. Aku hanya bergantung kepada kancing baju dan berdoa supaya aku beruntung. Tapi inilah hasilnya. Rapor Melody dengan nilai – nilai yang turun drastis hingga mendapat peringkat yang jauh dari angan – angan. Hanya ada kata menyesal dibenakku saat ini.
Namun semua telah terjadi. Aku telah mengecewakan orang tuaku yang tak bersalah ini. Aku tak bisa mempertahankan bintang di langit hingga pagi menjemput dan ilang ditelan siang. Mengapa aku hnaya bisa memberi setangkai bunga yang layu kepada orang tuaku.
Seribu kata maaf sungguh tiada berarti. Tapi apa lagi kata yang pantas diucapkan kepada Ayah dan Bunda selain kata maaf?
“Ayah, Bunda, maafkan aku.” Aku tak kuasa menahan tangis dan segera berdiri memeluk Bunda.
“Iya Bunda mengerti. Jangan diulngi lagi ya!” jawab mereka dengan nada menyimpan rasa yang sangat tidak ada sedikitpun aroma kebahagiaan.
Aku tahu Ayah dan Bunda menyimpan rasa kecewa yang cukup dalam. Dan semoga mereak tahu, kalau mereka kecewa sesungguhnya aku lebih kecewa. Bersyukur aku bisa naik kelas. Kini aku hanya bisa menangis dan menangis. Hingga waktu yang mampu menghapus air mataku.
Dalam kesedihan ini aku berdoa semoga aku tidak akan lagi menemukan laki – laki yang seperti Junior. Mulai sekarang tidak ada lagi Junior dalam kamusku. Tidak ada lagi kata bohong. Tidak ada lagikata menyesal.
“sayang, ayo makan dulu. Kalau kamu tangisi terus tak ada gunanya. Nanti kamu bisa sakit.” Bunda membujukku.
“Siap! Aku nggak akan pergi ke dunia malas dan tangis lagi.” Jawabku sambil menghapus air mata dan beranjak dari tempat tidurku.
“huh, dasar cengeng! Pemalas! Rapornya jelek!” ejek kakak.
“aak, kakak nggak usah terlalu memuji! Aku kan jadi malu.” Jawabku dengan kata ang seratus persen bohong.
Makan siang berlangsung dengan khidmat seperti upacara bendera saja. Nah inilah kebahagiaan yang sesungguhnya. Dimana oang – orang tua memberikan cinta yang begitu besar kepaa anaknya.
1 pesan baru dari Lefi.
“Mel, hari selasa Junior tanding. Datang ya!”
Dengan jawaban yang tak sedikitpun berbau dendam, aku nggak mau datang. Sebenarnya Lefi sempat memaksaku. Tapi aku benar – benar nggak ingin bertemu dengan Junior. Meskipun Lefi sahabatnya Junior, aku nggak merasa takut bercerita padanya tentang Junior.
“Mel, tapi kamu apa nggak mau nonton pertandinganku juga?” lefi merayu.
“Ya, aku akan dukung dari sini. Haha ....”
Selamat tinggal Junior. Aku nggak akan kejar – kejar kamu lagi. Pergilah ....
Selasa, 28 Juni 2011
kupu - kupu
siapa yang suka dengan kupu - kupu?
binatang kecil dengan warna sayap nan elok itu acap menghibur hati para kanak - kanak.
tapi dibalik sayap indahnya itu, kupu kupu memiliki proses yang sulit.
berawal dari sebuah telur. tumbuh menjadi ulat. saat menjadi ulat, orang - orang tidak menyukainya. banyak cobaan untuknya. terkadang para burung - burung nakal mematuknya dan menggiringnya kedalam mulut mereka. jika mereka bisa menyelamatkan diri, jadilah kepompong. tak sehangat di selimut tidur kalian teman - teman. kepompong menahan kencangnya angin. menahan semuanya yang ingin menghancurkan mereka. membangun benteng untuk berlindung. hingga waktunya menjadi kupu - kupu. bisa trbang bebas ke angkasa. semua orang suka padanya. tarian indahnya menenagkan jiwa.
itu sama kasusnya dengan persahabatan yang kita bangun.
awalnya kita tidak saling mengenal. hingga sebuah forum atau dengan suatu alat, kita bisa berkenalan. hanya mengenal. akhirnya kita ingin mengenal lebih dalam. tak semudah itu. ego yang tinggi terkadang mematahkan kedekatan kita. tapi dengan sebuah pengertian, perkenalan itu bertahan hingga menjadi sebuah persahabatan.
persahabatan yang indah. terdiri dari telinga yang siap mendengar, hati yang selalu memahami dan tangan yang siap menolong.
so untuk teman - teman yang punya sahabat, jadilah seperti kupu - kupu. yang setiap orang ingin menangkapnya. bukan mengusirnya.
binatang kecil dengan warna sayap nan elok itu acap menghibur hati para kanak - kanak.
tapi dibalik sayap indahnya itu, kupu kupu memiliki proses yang sulit.
berawal dari sebuah telur. tumbuh menjadi ulat. saat menjadi ulat, orang - orang tidak menyukainya. banyak cobaan untuknya. terkadang para burung - burung nakal mematuknya dan menggiringnya kedalam mulut mereka. jika mereka bisa menyelamatkan diri, jadilah kepompong. tak sehangat di selimut tidur kalian teman - teman. kepompong menahan kencangnya angin. menahan semuanya yang ingin menghancurkan mereka. membangun benteng untuk berlindung. hingga waktunya menjadi kupu - kupu. bisa trbang bebas ke angkasa. semua orang suka padanya. tarian indahnya menenagkan jiwa.
itu sama kasusnya dengan persahabatan yang kita bangun.
awalnya kita tidak saling mengenal. hingga sebuah forum atau dengan suatu alat, kita bisa berkenalan. hanya mengenal. akhirnya kita ingin mengenal lebih dalam. tak semudah itu. ego yang tinggi terkadang mematahkan kedekatan kita. tapi dengan sebuah pengertian, perkenalan itu bertahan hingga menjadi sebuah persahabatan.
persahabatan yang indah. terdiri dari telinga yang siap mendengar, hati yang selalu memahami dan tangan yang siap menolong.
so untuk teman - teman yang punya sahabat, jadilah seperti kupu - kupu. yang setiap orang ingin menangkapnya. bukan mengusirnya.
curhatan hari ini
dear,
hari ini terasa membosankan. baru saja jam menunjuk pukul 10.25, tapi aku sudah katakan demikian.
entah kenapa di sini aku jadi seperti anak tiri.
aku nggak tau maksudmu apa.
apa aku harus pergi?
kalau iya, lebih baik aku pegi untuk selamanya. jika di sini aku hanya membuatmu menderita. ketahuilah, aku lebih dan lebih menderita. beruntung mulutku terbungkam.
jika tidak, mungkin mataku sudah basah.
nggak ada yang menyenangkan untuk hari ini. manusia - manusia terkutuk berada disekelilingku.
meski hanya satu orang, tapi rasanya seperti dipanas - panasi oleh 1000 setan.
aku nggak tau mengapa hatiku merasa begini.
sepertinya ada kesalahan yang sedang melekat pada diriku.
orang - orang itu tak ikhlas lakukan itu semua. padahal bukan untukku, tapi untuk dirinya sendiri.
apa hubungannya dengan aku coba?
ya! dia nggak ikhlas. makanya apa yang dilakukannya sia - sia.
seperti debu yang menempel di batu licin, dan terguyur oleh air hujan yang amat deras.
sia - sia. tak ada artinya.
aku memendam kataku. hanya kucurahkan di kolom kosong ini.
aku tak ingin terjadi kerusuhan antara kita, you know.
sabar sabar ikhlas ikhlas
hari ini terasa membosankan. baru saja jam menunjuk pukul 10.25, tapi aku sudah katakan demikian.
entah kenapa di sini aku jadi seperti anak tiri.
aku nggak tau maksudmu apa.
apa aku harus pergi?
kalau iya, lebih baik aku pegi untuk selamanya. jika di sini aku hanya membuatmu menderita. ketahuilah, aku lebih dan lebih menderita. beruntung mulutku terbungkam.
jika tidak, mungkin mataku sudah basah.
nggak ada yang menyenangkan untuk hari ini. manusia - manusia terkutuk berada disekelilingku.
meski hanya satu orang, tapi rasanya seperti dipanas - panasi oleh 1000 setan.
aku nggak tau mengapa hatiku merasa begini.
sepertinya ada kesalahan yang sedang melekat pada diriku.
orang - orang itu tak ikhlas lakukan itu semua. padahal bukan untukku, tapi untuk dirinya sendiri.
apa hubungannya dengan aku coba?
ya! dia nggak ikhlas. makanya apa yang dilakukannya sia - sia.
seperti debu yang menempel di batu licin, dan terguyur oleh air hujan yang amat deras.
sia - sia. tak ada artinya.
aku memendam kataku. hanya kucurahkan di kolom kosong ini.
aku tak ingin terjadi kerusuhan antara kita, you know.
sabar sabar ikhlas ikhlas
marah
apa gunanya marah?
aku tak tahu
akan tetapi orang - orang selalu marah
marah kepadaku
mereka jahat
meraka brengsek
sangat tidak sempurna
tak bisa mengampuni orang bodoh seperti aku
menyedihkan
tapi
apa guna sedih
apa guna marah
masih ada cahaya terang dibalik kesuraman
Allah pasti membalas apapun tindakan umatnya
baik buruk ada nilainya
aku tak usah beraksi
tak usah menghukum
bahkan marahpun jangan
karena aku tau
malaikatNya sudah mencatatnya
-_-
aku tak tahu
akan tetapi orang - orang selalu marah
marah kepadaku
mereka jahat
meraka brengsek
sangat tidak sempurna
tak bisa mengampuni orang bodoh seperti aku
menyedihkan
tapi
apa guna sedih
apa guna marah
masih ada cahaya terang dibalik kesuraman
Allah pasti membalas apapun tindakan umatnya
baik buruk ada nilainya
aku tak usah beraksi
tak usah menghukum
bahkan marahpun jangan
karena aku tau
malaikatNya sudah mencatatnya
-_-
Rabu, 22 Juni 2011
aku sadar
kemarin aku berbagi cerita dengan ibu dan bapakku.
aku bercerita. aku takut nanti kalau kelas 2 tidak bisa bertahan di 10 besar kelas. karena mungkin persaingan akan semakin ketat.
ibu bilang, asalkan kamu tekun dan serius pasti kamu bisa. terus jangan banyak mikir "pacaran", soalnya itu nggak ada gunanya. pacaran hanya akan menjerumuskan kamu. membuat kamu malas. nah akhirnya kamu gagal. nggak mau kan.
iya aku akan menaati nasihat ibu. maaf ya. jangan ganggu keseriusanku belajar. aku punya cita - cita untuk profesiku di masa depan.
terus bapak menambahkan, kalau jodoh itu Allah yang memberikan. umurmu masih muda, raihlah cita - citamu dulu. jangan sampe terjerumus dalam cinta monyet yang berlebihan.
oke aku sangat setuju.
tapi kendalanya, teman - teman di lingkungan sekitarku pada menjalin cinta monyet.
gimana dengan aku. masak iyaaa aku melarang. apa pangkatku?
haha. aku akan meraih cita - cita atas dasar inisiatif sendiri. nggak sekadar ikut - ikutan.
jadi aku nanti akan mendapat pasangan karena cinta yang ikhlas. bukan karena ikut - ikutan teman yang sudah mahir berasmara.
satu dari banyak hal yang sudah kusadari. besok apalagi yaa?
yang jelas aku nggak boleh berhenti dan menyerah.
tetap semangat!
aku bercerita. aku takut nanti kalau kelas 2 tidak bisa bertahan di 10 besar kelas. karena mungkin persaingan akan semakin ketat.
ibu bilang, asalkan kamu tekun dan serius pasti kamu bisa. terus jangan banyak mikir "pacaran", soalnya itu nggak ada gunanya. pacaran hanya akan menjerumuskan kamu. membuat kamu malas. nah akhirnya kamu gagal. nggak mau kan.
iya aku akan menaati nasihat ibu. maaf ya. jangan ganggu keseriusanku belajar. aku punya cita - cita untuk profesiku di masa depan.
terus bapak menambahkan, kalau jodoh itu Allah yang memberikan. umurmu masih muda, raihlah cita - citamu dulu. jangan sampe terjerumus dalam cinta monyet yang berlebihan.
oke aku sangat setuju.
tapi kendalanya, teman - teman di lingkungan sekitarku pada menjalin cinta monyet.
gimana dengan aku. masak iyaaa aku melarang. apa pangkatku?
haha. aku akan meraih cita - cita atas dasar inisiatif sendiri. nggak sekadar ikut - ikutan.
jadi aku nanti akan mendapat pasangan karena cinta yang ikhlas. bukan karena ikut - ikutan teman yang sudah mahir berasmara.
satu dari banyak hal yang sudah kusadari. besok apalagi yaa?
yang jelas aku nggak boleh berhenti dan menyerah.
tetap semangat!
Senin, 20 Juni 2011
unforgetable experience
senin 20 juni 2011 aku pergi ke Rembang. mengapa? karena aku menjadi juara lomba kir hari air sedunia xix, dan pengambilan hadiahnya di Rembang.
tak dinyana, di sama aku bersalaman dengan pah gubernur jateng dan istrinya. ini baru pertama kali hlo.
kemudian, teman - temanku. reni dan mas odi. sebelumnya kita berkenalan lewat facebook.
kemudian waktu di rambangnya kita bertemu rasanya sudah klop aja. kita tertawa bersama. tanpa ada rasa gengsi- gengsian. tak peduli dimana kita bersekolah, tak peduli kita dapet juara berapa. yang jelas pertemuan pertama kita sangat akrab.
kita bertiga foto - foto. kalian semua narsis. gila kamera. aku juga ding. haha.. senangnya menikmati view di waduk lodan. eh, kami bertiga juga foto dengan pak gubernur hlo :)
hari itu merupakan hari yang sangat bersejarah bagiku. dimana aku bisa bertemu dengan orang - orang yang belum pernah kubayangkan sebelumya.
tak dinyana, di sama aku bersalaman dengan pah gubernur jateng dan istrinya. ini baru pertama kali hlo.
kemudian, teman - temanku. reni dan mas odi. sebelumnya kita berkenalan lewat facebook.
kemudian waktu di rambangnya kita bertemu rasanya sudah klop aja. kita tertawa bersama. tanpa ada rasa gengsi- gengsian. tak peduli dimana kita bersekolah, tak peduli kita dapet juara berapa. yang jelas pertemuan pertama kita sangat akrab.
kita bertiga foto - foto. kalian semua narsis. gila kamera. aku juga ding. haha.. senangnya menikmati view di waduk lodan. eh, kami bertiga juga foto dengan pak gubernur hlo :)
hari itu merupakan hari yang sangat bersejarah bagiku. dimana aku bisa bertemu dengan orang - orang yang belum pernah kubayangkan sebelumya.
Kamis, 16 Juni 2011
10 hari menjadi saksi
kamis 26 Mei 2011
aku dan kamu berkenalan
kita dipertemukan dalam sebuah tes semesteran
jumat 27 Mei 2011
dirimu sangat welcome denganku
meski aku tahu
kita harus fokus kepada ujian
sabtu 28 Mei 2011
kata - katamu begitu lembut
melelehkan hatiku
senyummu, membangkitkan semangatku
senin 30 Mei 2011
sifatmu, tingkahmu
menggoyahkan perasaanku
rasanya aku ingin ikut denganmu
selasa 31 Mei 2011
sorot matamu,
tak terlupakan
rabu 1 Juni 2011
seni budaya, penjaskes
kita lalui bersama
sabtu 4 Juni 2011
matematika
aku meninggalkanmu sendiri
maaf
sosiologi
aku berjuang. tetapi kamu nyontek :(
jadwal kita berbeda
aku kelas 1 dan kamu kelas 2 (ipa)
senin 6 Juni 2011
bahasa Indonesia
aku lancar,
kamu nyontek depanmu
biologi,
kisi - kisiku real.
tapi kamu nggak bisa :(
selasa 7Juni 2011
ha min 1 sebelum kita berpisah
itu puncak dimana aku sangat menyayangimu
rabu 8 Juni 2011
3 mapek
berat sekali
1 mapel terakhir
harus tanpa kamu
aku sedih
ini hari terakhir aku duduk bersamamu
tapi detik terakhir
kau tidak menyayangiku
ahh, masnya
bangku yang kita duduki
meja yang kita tempati
menjadi saksi
10 hari menjadi saksi
tatkala aku mengenal engkau
dalam waktu SINGKAT
aku dan kamu berkenalan
kita dipertemukan dalam sebuah tes semesteran
jumat 27 Mei 2011
dirimu sangat welcome denganku
meski aku tahu
kita harus fokus kepada ujian
sabtu 28 Mei 2011
kata - katamu begitu lembut
melelehkan hatiku
senyummu, membangkitkan semangatku
senin 30 Mei 2011
sifatmu, tingkahmu
menggoyahkan perasaanku
rasanya aku ingin ikut denganmu
selasa 31 Mei 2011
sorot matamu,
tak terlupakan
rabu 1 Juni 2011
seni budaya, penjaskes
kita lalui bersama
sabtu 4 Juni 2011
matematika
aku meninggalkanmu sendiri
maaf
sosiologi
aku berjuang. tetapi kamu nyontek :(
jadwal kita berbeda
aku kelas 1 dan kamu kelas 2 (ipa)
senin 6 Juni 2011
bahasa Indonesia
aku lancar,
kamu nyontek depanmu
biologi,
kisi - kisiku real.
tapi kamu nggak bisa :(
selasa 7Juni 2011
ha min 1 sebelum kita berpisah
itu puncak dimana aku sangat menyayangimu
rabu 8 Juni 2011
3 mapek
berat sekali
1 mapel terakhir
harus tanpa kamu
aku sedih
ini hari terakhir aku duduk bersamamu
tapi detik terakhir
kau tidak menyayangiku
ahh, masnya
bangku yang kita duduki
meja yang kita tempati
menjadi saksi
10 hari menjadi saksi
tatkala aku mengenal engkau
dalam waktu SINGKAT
surat buat ibu dan bapak
aku belajar kimia. kakak menghadap ke komputer mengerjakan tugas kuliahnya. bapak sedang sholat isya berjamaah di mushola. sementara ibu sedang duduk santai membaca koran sembari mendampingi aku dan kakak belajar.
"Assalamualaikum,"ada seorang laki - laki datang.
"waalaikum salam, ada apa pak?" jawabku
beliau tetanggaku. di tangannya membawa sebuah surat.
"Nak, ini saya dititipi surat oleh pak pos tadi siang. tapi buat bapak,"sahutnya
kuambil surat itu. tak lupa kuucapkan terimakasih. dan ternyata surat itu adalah surat yang aku kirim untuk orang tuaku.
nampaknya lelaki setengah baya itu bingung. karena mendapati seorang anak yang mengirim surat kepada orang tuanya, sementara mereka tinggal dalam satu rumah. mengirimnya pun lewat pos. benar - benar aneh, pikirnya.
"Surat dari siapa?"tanya ibu.
"nggak tau bu, ini buat ibu dan bapak,"
kuserahkan surat itu kepada ibuku. padahal surat itu dari aku. semacam sureprise kecil-kecilan. tapi cukup mengharukan bagi ibu.
sebenarnya hatiku deg-degan sekali tatkala surat itu sampai di tangan ibu. rasanya sedikit malu jika surat yang aku kirim, dibaca orang yang aku tuju, di hadapanku.ooh, inilah yang terjadi saat ini.
aku balik kanan, tak mau melihat ibu membaca suratku. sungguh, aku ingin menangis. bukan karena malu yang tiada tara. namun, karena ibu terharu mengetahui substansi surat dariku.
"Suratmu sudah bagus dek,"komentar ibu.
bagus. bagus apanya ya, batinku. aku nggak tau apa yang ibu maksud. bagus dalam arti apa, kerapian tulisan, substansi atau diksi.
tak tahulah, yang penting aku lega setelah suratku terkirim, berarti tugas bahasa Indonesiaku sudah tunai.
hingga akhirnya ibu bertanya, mengapa aku mengirim surat.
kujelaskan. jujur saja ini memang tugas sekolah.
suatu hari, guruku memberi tugas membuat surat. tugas ini kedengaraaannya 'wah'. sebelumnya dibenak teman - temanku, berpikir hendak memberikan surat kepada siapa. yang jelas pujaan hatinya. tunggu, pak guru belum selesai bicara.
"Buatlah surat untuk orang tuamu yang berisi tentang ucapan terimakasih atau maaf atau lainnya. sebagai rasa syukur dan terimakasih karena kamu telah dibesarkan oleh mereka,"
spontan saja murid-murid menjerit. gengsi kali ya menulis surat buat orang tua. apalagi mayoritas teman sekelasku tinggal serumah dengan orang tuanya.
ada benarnya juga. kita sering mengucapkan terimakasih atas pemberian orang lain sekecil apapun itu. namun, acap kali kita melalaikan hal itu kepada orang tua. siapa yang membesarkan kita? yang memenuhi semua kebutuhan kita? yang memberi kita kasih sayang? siapa lagi kalau bukan orang tua kita.
sudahkah kita berterimakasih? jarang kita lontarkan kata itu "terimakasih".
satu hal lagi. tak jarang kita menyakiti perasaan orang tua kita, yang sebenarnya sangat berjasa kepada kita. marah, tidak suka, jengkel, itu terkadang kita luapkan kepada orang tua. tapi, salah apa sih mereka? lantas, apakah kita sudah meminta maaf? belum. pasti kita merasa paling benar.
jadi, tulislah surat untuk orang tuamu. orang yang paling menyayangimu. orang yang paling berjasa dalam hidupmu..
hatiku tergugah. sadar. bangun. benar apa yang dikatakan pak Teguh, guru Bahasa Indonesiaku. orang tua mengajari kita mengucapkan terimakasih atas pemberian orang lain. sementara itu kita sendiri tak sering mengucapkan terimakasih atas pemberian orang tua. khilaf benar aku. sekarang aku merasa benar - benar bersalah kepada orang tuaku.
akhirnya kutulis surat itu. kuucapkan terimakasih, meski itu lewat tulisan. jasa ibu dan bapak sungguh tak terhitung dengan nominal.
aku sangat mengasihi mereka. dalam surat itu, kutulis pula puisi yang berisi tentang perasaan bahagia karana aku memiliki ibu dan bapak.
***
tak lama kemudian bapak tiba, membaca surat itu.
nampaknya kedua orang tuaku menyukai surat dariku. ibu dan bapak terharu. karena di dalam suratku tertulis juga tentang cerita seorang temanku yang sudah ditinggal oleh ibunya.
mungkin aku tak dapat menjalani hidup tanpa orang tuaku untuk saat ini.
kemudian ibu juga bercerita, pernah terlintas dalam benaknya. ibu dan bapak mengalami kecelakaan. hidup ibu dan bapak berakkhir bersama saat itu. kakakku bisa bersikap dewasa mendapati kenyataan ini. tetapi aku tidak. aku stress, depresi,gila, linglung. tak dapat terima kenyataan ini. ini adalah cerita tentang kehilangan. bukan berarti ibu dan bapak adalah milikku. mereka milik Allah. suatu saat juga akan kembali padaNya. namun, jujur saja, ibuku sendiri tak bisa membayangkan perasaanku jika harus hidup tanpa orang tua.
***
aku belum bisa hidup tanpa orang tua bu, pak.
aku akan selalu menyayangi, mendoakan ibu dan bapak.
terimakasih atas jasa ibu dan bapak selama ini.
maaf apabila ungkapan itu hanya bisa terucap lewat sebuah tulisan. namun percayalah, hal itu akan terukir di lubuk hatiku. memiliki ibu dan bapak adalah anugerah terindah dalam hidupku.
tetaplah menjadi orang tuaku yang utuh.
by:illa
"Assalamualaikum,"ada seorang laki - laki datang.
"waalaikum salam, ada apa pak?" jawabku
beliau tetanggaku. di tangannya membawa sebuah surat.
"Nak, ini saya dititipi surat oleh pak pos tadi siang. tapi buat bapak,"sahutnya
kuambil surat itu. tak lupa kuucapkan terimakasih. dan ternyata surat itu adalah surat yang aku kirim untuk orang tuaku.
nampaknya lelaki setengah baya itu bingung. karena mendapati seorang anak yang mengirim surat kepada orang tuanya, sementara mereka tinggal dalam satu rumah. mengirimnya pun lewat pos. benar - benar aneh, pikirnya.
"Surat dari siapa?"tanya ibu.
"nggak tau bu, ini buat ibu dan bapak,"
kuserahkan surat itu kepada ibuku. padahal surat itu dari aku. semacam sureprise kecil-kecilan. tapi cukup mengharukan bagi ibu.
sebenarnya hatiku deg-degan sekali tatkala surat itu sampai di tangan ibu. rasanya sedikit malu jika surat yang aku kirim, dibaca orang yang aku tuju, di hadapanku.ooh, inilah yang terjadi saat ini.
aku balik kanan, tak mau melihat ibu membaca suratku. sungguh, aku ingin menangis. bukan karena malu yang tiada tara. namun, karena ibu terharu mengetahui substansi surat dariku.
"Suratmu sudah bagus dek,"komentar ibu.
bagus. bagus apanya ya, batinku. aku nggak tau apa yang ibu maksud. bagus dalam arti apa, kerapian tulisan, substansi atau diksi.
tak tahulah, yang penting aku lega setelah suratku terkirim, berarti tugas bahasa Indonesiaku sudah tunai.
hingga akhirnya ibu bertanya, mengapa aku mengirim surat.
kujelaskan. jujur saja ini memang tugas sekolah.
suatu hari, guruku memberi tugas membuat surat. tugas ini kedengaraaannya 'wah'. sebelumnya dibenak teman - temanku, berpikir hendak memberikan surat kepada siapa. yang jelas pujaan hatinya. tunggu, pak guru belum selesai bicara.
"Buatlah surat untuk orang tuamu yang berisi tentang ucapan terimakasih atau maaf atau lainnya. sebagai rasa syukur dan terimakasih karena kamu telah dibesarkan oleh mereka,"
spontan saja murid-murid menjerit. gengsi kali ya menulis surat buat orang tua. apalagi mayoritas teman sekelasku tinggal serumah dengan orang tuanya.
ada benarnya juga. kita sering mengucapkan terimakasih atas pemberian orang lain sekecil apapun itu. namun, acap kali kita melalaikan hal itu kepada orang tua. siapa yang membesarkan kita? yang memenuhi semua kebutuhan kita? yang memberi kita kasih sayang? siapa lagi kalau bukan orang tua kita.
sudahkah kita berterimakasih? jarang kita lontarkan kata itu "terimakasih".
satu hal lagi. tak jarang kita menyakiti perasaan orang tua kita, yang sebenarnya sangat berjasa kepada kita. marah, tidak suka, jengkel, itu terkadang kita luapkan kepada orang tua. tapi, salah apa sih mereka? lantas, apakah kita sudah meminta maaf? belum. pasti kita merasa paling benar.
jadi, tulislah surat untuk orang tuamu. orang yang paling menyayangimu. orang yang paling berjasa dalam hidupmu..
hatiku tergugah. sadar. bangun. benar apa yang dikatakan pak Teguh, guru Bahasa Indonesiaku. orang tua mengajari kita mengucapkan terimakasih atas pemberian orang lain. sementara itu kita sendiri tak sering mengucapkan terimakasih atas pemberian orang tua. khilaf benar aku. sekarang aku merasa benar - benar bersalah kepada orang tuaku.
akhirnya kutulis surat itu. kuucapkan terimakasih, meski itu lewat tulisan. jasa ibu dan bapak sungguh tak terhitung dengan nominal.
aku sangat mengasihi mereka. dalam surat itu, kutulis pula puisi yang berisi tentang perasaan bahagia karana aku memiliki ibu dan bapak.
***
tak lama kemudian bapak tiba, membaca surat itu.
nampaknya kedua orang tuaku menyukai surat dariku. ibu dan bapak terharu. karena di dalam suratku tertulis juga tentang cerita seorang temanku yang sudah ditinggal oleh ibunya.
mungkin aku tak dapat menjalani hidup tanpa orang tuaku untuk saat ini.
kemudian ibu juga bercerita, pernah terlintas dalam benaknya. ibu dan bapak mengalami kecelakaan. hidup ibu dan bapak berakkhir bersama saat itu. kakakku bisa bersikap dewasa mendapati kenyataan ini. tetapi aku tidak. aku stress, depresi,gila, linglung. tak dapat terima kenyataan ini. ini adalah cerita tentang kehilangan. bukan berarti ibu dan bapak adalah milikku. mereka milik Allah. suatu saat juga akan kembali padaNya. namun, jujur saja, ibuku sendiri tak bisa membayangkan perasaanku jika harus hidup tanpa orang tua.
***
aku belum bisa hidup tanpa orang tua bu, pak.
aku akan selalu menyayangi, mendoakan ibu dan bapak.
terimakasih atas jasa ibu dan bapak selama ini.
maaf apabila ungkapan itu hanya bisa terucap lewat sebuah tulisan. namun percayalah, hal itu akan terukir di lubuk hatiku. memiliki ibu dan bapak adalah anugerah terindah dalam hidupku.
tetaplah menjadi orang tuaku yang utuh.
by:illa
Jumat, 10 Juni 2011
berjuang
tak ada kata putus asa dalam hidupku
jangan menyerah, jangan bersedih
yakinlah bahwa masalah bisa diselesaikan
hanya butuh sebuah perjuangan untuk menghadapinya
jiwa yang lemah adalah ia yang tak mau mencoba
mencoba bangkit dari keterpurukan
semua manusia itu bisa
bisa berjuang
tak ada kata tidak mungkin
semuanya mungkin terjadi
kita harus memperjuangkan hidup kita
mempertahankan jati diri kita
jangan hancurkan jati diri itu ketika masalah menerjang
tetap optimis
bahwa kita pasti bisa
kata menyerah adalah alasan yang paling bodoh
bagaimanapun kita harus berjuang
hasilnya, Allah yang menentukan
jangan menyerah, jangan bersedih
yakinlah bahwa masalah bisa diselesaikan
hanya butuh sebuah perjuangan untuk menghadapinya
jiwa yang lemah adalah ia yang tak mau mencoba
mencoba bangkit dari keterpurukan
semua manusia itu bisa
bisa berjuang
tak ada kata tidak mungkin
semuanya mungkin terjadi
kita harus memperjuangkan hidup kita
mempertahankan jati diri kita
jangan hancurkan jati diri itu ketika masalah menerjang
tetap optimis
bahwa kita pasti bisa
kata menyerah adalah alasan yang paling bodoh
bagaimanapun kita harus berjuang
hasilnya, Allah yang menentukan
kenangan terindah
hal terindah adalah ketika aku mengenalmu
kau mampu mengubah hidupku
memberi semangat untuk hari hariku
meyakinkanku bahwa aku bisa
aku tau itu tak seberapa
namun aku akan selalu mengenangnya
meski kini kau telah jauh dariku
senyummu tak terlihat lagi di mataku
hanya di hatiku saja kenangan tentangmu bersemi
walau aku bukan siapa - siapa
kuharap kau mengerti
bahwa kita hidup untuk saling melengkapi
bukan untuk menyakiti
jika saling menyakiti
maka tak akan terjadi kebahagiaan
bayanganmu tak bisa kutepis dengan sebuah nyanyian
tak bisa kuusir dengan sebuah penantian
namun hanya dengan kenangan
aku akan selalu selalu selalu mengingatmu
tak akan pernah kulupakan dirimu
karena hadirmu
mampu menyalakan api semangat yang tlah padam
tetaplah kau menjadi kawanku
aku sangat membutuhkanmu
tanpamu, aku akan kesepian
tetaplah menjadi kawanku
kau mampu mengubah hidupku
memberi semangat untuk hari hariku
meyakinkanku bahwa aku bisa
aku tau itu tak seberapa
namun aku akan selalu mengenangnya
meski kini kau telah jauh dariku
senyummu tak terlihat lagi di mataku
hanya di hatiku saja kenangan tentangmu bersemi
walau aku bukan siapa - siapa
kuharap kau mengerti
bahwa kita hidup untuk saling melengkapi
bukan untuk menyakiti
jika saling menyakiti
maka tak akan terjadi kebahagiaan
bayanganmu tak bisa kutepis dengan sebuah nyanyian
tak bisa kuusir dengan sebuah penantian
namun hanya dengan kenangan
aku akan selalu selalu selalu mengingatmu
tak akan pernah kulupakan dirimu
karena hadirmu
mampu menyalakan api semangat yang tlah padam
tetaplah kau menjadi kawanku
aku sangat membutuhkanmu
tanpamu, aku akan kesepian
tetaplah menjadi kawanku
Langganan:
Postingan (Atom)
