Awal masuk sekolah yaitu tanggal 11 Juli 2011. Aku sangat mengingatnya karena aku mendapati kesan pertama yang begitu indah dengan salah seorang temanku. Sejak saat itu aku lebih bersemangat mengikuti kegiatan di kelas karena dia. Memang benar kata pepatah, kesan pertama begitu menggoda, tapi kesan selanjutnya aku belum tahu karena kita baru bertemu beberapa hari saja.
Kali ini aku benar – benar menaruh hati padanya. Tapi walau demikian aku harus menjaga sikap agar tidak terlihat salah tingkah dihadapannya. Beruntung aku bisa menahan nafsu untuk mengungkapkan perasaan itu, karena aku wanita dan tak mungkin memulai. Sialnya aku tidak berani mengatakan apa yang tengah aku rasakan. Bahkan pada sahabatku sendiri aku tak berani mencurahkannya.
Sahabatku, Aisya, orang yang penyabar dan dapat dipercaya. Tapi bagaimanapun aku masih sangsi untuk berbagi cerita tentang rasaku pada Ilham. Karena perasaan itu baru berasal dari satu pihak, yaitu dari aku. Aku tidak bisa mengatakan sebelum aku mendapat pertanda balasan cinta dari Ilham. Perilaku untuk jaga gengsi masih berlaku dalam hidupku.
Kali ini sekolah sudah berjalan seperti biasa. Masa perkenalan dan lainnya sudah berlalu. Saatnya aku kembali ke komitmen awalku yaitu selama kelas sebelas aku tidak akan pacaran. Namun rasa yang aku alami ini benar – benar terjadi tanpa komando. Pandangan pertama yang akhirnya turun ke hati ini menjadi berlarut – larut. Tak kusangka komitmen untuk tidak pacaran akhirnya menjadi goyah. Lambat laun aku jadi ingin memiliki hati Ilham. Sikapnya menunjukkan remaja yang syar’i dan berorientasi ke depan. Hatiku benar – benar melting melihat sikapnya yang demikian. Amun sampai saat ini, perasaan itu masih tersembunyi. Hanya aku dan Allah yang tahu.
***
Kian lama perasaan yang ku pendam semakin menjadi – jadi. Rasanya aku sudah tidak betah untuk membagi kisah ini kepada sahabatku. Oh ini tidak mungkin terjadi, aku hanya ingin mempertahankan komitmen awalku. Namun semakin ditahan rasa itu semakin sakit. Tak dapat aku memendam rasa sayang yang terlalu lama. Akhirnya kuputuskan membuat rencana untuk mendekati Ilham.
Berawal dari menjadi teman sekelompok dalam pelajaran, akhirnya aku berhasil mendapatkan nomor HP Ilham. Alhamdulillah, aku punya kesempatan untuk mengenal dia lebih dalam.
Dari nomor itu aku mencari info tentang dia. Aku mendapatkanya, tapi tidak sebanyak apa yang aku inginkan. Itu masa perkenalanku dengannya pada kesempatan pertama. Oke, aku mencoba menunggu sampai dia sadar bahwa aku telah menaruh hati padanya.
Dewi fortuna tidak berpihak padaku. Untuk selanjutnya pesan – pesan singkat yang lumayan penting dariku tidak pernah ditanggapinya. Hatiku belummemutuskan untuk berhenti mendekati dia. Aku mencoba terus mengirim sms yang cukup penting mengenai pelajaran. Namun sial, dia tetap tidakmau merespon basa – basiku ini. Pikiran negatif pun timbul. Bahkan aku sempat berpikir bahwa dia tahu aku suka padanya tapi dia menolak, dan inilah trik yang ia gunakan.
Sebenarnya belum sampai tahap itu. Perhatianku masih sama seperti perhatianku kepada teman – teman yang lain. Aku juga sering mengirim pesan yang cukup penting kepada teman laki – laki yang lain. Mereka membalasnya. Namun pesanku untuk Ilham langka dijawab. Itu membuatku sedikit jengkel dan berusaha mencoret namanya dari daftar cintaku.
Hmm, sepertinya aku sudah terlanjur sayang. Seburuk apapun sifatnya, itu tidak menjadikan rasaku berkurang. Aku masih tetap menyayanginya walau rasa itu hanya terpendam di hatiku. Apapun yang dia lakukan selalu menjadi kenangan tersendiri di dalam memori otakku. Tak jarang aku menulis diary dengan tema – tema tentang dia. Memang pesona indah parasnya sudah meracuni segenap perasaanku.
Aku simpati padanya. Setiap kali ada kesempatan, aku selalu memperhatikan tingkahnya. Wajar sih, namun bagiku itu lebih istimewa dari pada teman yang lain. Setiap ada sesuatu yang baru dari dalam dirinya, itu selalu menjadi sebuah kisah indah dalam hatiku. Oh Ilham, aku terpesona padamu.
Dengan perasaanku yang cukup dalam ini, aku bermaksud untuk meneritakannya kepada sahabat yang duduk sebangkku denganku, Aisya. Tapi mlut ini berat untuk berkata. Akhirnya niat itu kupatahkan kembali. Aku tidak ingin sahabatku tahu tentang perasaanku ini. Jika aku terlalu fokus dengan Ilham, aku malah khawatir jika aku lupa dengan sahabatku. Sebab berpikir tentang Ilham sudah menyita banyak waktuku.
***
Akhir – akhir ini si Aisya sering bercerita tentang Ilham padaku. Sebenarnya aku sedikit tak suka, karena jika aku mendengar namanya pasti aku akan kembali memikirkannya. Tapi apa boleh buat. Lagi – lagi aku dan dia sekelompok dalam pelajaran matematika. Bagaimanapun aku harus ertemu dan bersama – sama dengannya. Aku senang tapi sedih. Aisya yang menghendaki kami sekelompok. Dari sini aku bisa mengira, mungkin Aisya juga suka dengan Ilham.
“Lupakan Rista!” batinku ketika aku hendak kemali memikirkan Ilham.
Semakin lama kurasa, semakin jelas rupanya. Aku merasakan ada sinyal – sinyal bahwa sahabatku Aisya juga menykai orang yang kusukai. Terlihat ketika sedang buka bersama, mereka duduk bersebelahan. Peristiwa itu sempat membuatku dilema hingga tidak nafsu makan.
Fakta berikutnya, untuk tugas kelompok, aku mengirim pesan semacam pertanyaan untuk semua anggota termasuk Ilham. Semuanya merespon, kecuali Ilham. Aku sedikit jengkel. Kuceritakan hal ini kepada Aisya. Kemudian Aisya mencoba mengirim pesan kepada Ilham, dan ternyata ditanggapi.
Dalam hati aku berkata, “Ya Allah, apa sih salahku hingga Ilham berbuat tak adil padaku?”. Aku mencoba untuk tegar. Kusadari benar bahwa sahabatku memang menunjukkan perasaan yang lebih kepada orang yang aku sukai. Namun apa aku harus memecahkan tali persahabatanku demi mendapatkan cinta Ilham? Tidak akan.
Hari ini hari ke 17 bulan Ramadhan, tepatnya malam diturunkannya Al-Quran. Di sekolah ada acara memperingati malam Nuzulul Quran ini. Aisya semangat untuk hadir, dia juga mengatakan bahwa Ilham akan hadir dan nantinya kami sekelompok akan membahas tugas yang tak kunjung usai. Sesungguhnya hatiku hancur mendengar pernyataan itu. Tapi aku tabah menghadapi konflik tentang perasaan ini.
Ilham dan Aisya terlihat akrab dan enjoy ketika bersama. Sedangkan aku, terlihat murung dan cemburu melihat kegembiraan mereka. “Ya Allah, jauhkanlah Ilham dariku.” Hanya itu satu – satunya doa yang aku panjatkan di malam ini.
Lambat laun aku tidak betah melihat kelancaran hubungan sahabatku dengan orang yang aku sukai. Bagaimana bisa aku bersikap biasa saja jika mellihat Ilham bersikap tak adil denganku. Pesan dari Aisya selalu dibalasnya. Sementara aku, never. Pernah kami mengirim pesan yang sama, tapi kasusnya sama. Hal ini membuatku naik pitam.
Ingat Rista, ini bulan Ramadhan, semestinya kamu mengais pahala di bulan suci ini. Jangan isi hari – harimu dengan iri hati dan kedengkian.
Itulah kata nasihat dari aku sendiri yang kadang – kadang mampu meleburkan emosiku. Mungkin perasaan itu hanya sesaat. Tak lama lagi rasa itu akan ditepis oleh waktu yang tak pernah berjalan mundur.
Betapapun aku sangat menyayangi Aisya. Aku tak mungkin menyakiti hatinya. Namun, malang sekali kisahku ini. Kami menyukai orang yang sama. Berat rasanya untuk memilih antara sahabat dan cita – cita cinta. Aku bingung, bimbang, galau. Khawatir jika akhirnya aku harus kehilangan dua –duanya. Mungkin butuh momen yag tepat untuk aku menjelaskan semua kepada Aisya.
***
Sebelum terlanjur patah hati, akhirnya aku ungkapkan apa yang sedang aku pikirkan kepada sahabatku Aisya. Kuungkapkan hal kecil yang kelihatannya sepele tapi menyangkut perasaan tepat di malam lailatul qodar yang acap disebutmalam 1000 bulan. Kuharap, Aisya mengerti dan tidak akan terjadi perselisihan di antara kita berdua kelak.
Di suatu malam, ketika aku sedang memikirkan persahabatanku dan kisah cintaku, kuungkapkan juga kepada Aisya. Akan kujelaskan semuanya. Semua tentang perasaanku semenjak masuk kelas sebelas tanpa terkecuali.
“Aisya, apakah kamu suka dengan Ilham?” aku mengawali pembicaraan.
Lama sekali dia membalas pesanku. Mungkin ia sedang berfikir. Antara iya karena jujur, atau tidak karena ingin memberi pertanda bahwa jawaban yang sesungguhnya adalah iya.
Aku galau benar ketika Aisya menjawab “iya”. Disambung, “Kalau iya memang kenapa?”. Saat itu aku menjadi mati rasa. Bingung antara marah atau sedih atau yang lain. Harusnya aku bahagia karana sahabatku sedang bahagia. Tapi bahagai ahabatku itu karena telah merebut kebahagiaanku.
Akhirnya aku tak kuasa menahan kata – kataku ini.
Sebenarnya sejak pertama kali masuk kelas sebelas, aku sudah mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Ilham. Tapi aku hanya memendammnya dalam hati karena ternyata Ilham tidak memberikan sinyal positif kepadaku. Aku diam, memang tidak terlihat suka, tapi dalamhati ni aku masih mengharapkan perhatian darinya. Mungkin perasaanmu hancur ketika aku mengatakan hal ini. Memang kamu yang lebih perhatian padanya dan kamu yang pantas mendapatkannya. Tapi tolong hargai perasaanku ini. Aku juga pernah suka padanya.
“Rista maafkan aku, aku merasa bersalah jika pada akhirnya kamu tidak dapat mengejar cita – cita cintamu.” Balasnya dengan nada penuh dosa.
Aku mengerti benar. Perasaan tidak pernah bisa dipungkiri. Tapi aku hanya manusia biasa yang tak tahan dengan godaan. Mungkin masih ada maaf bagimu dariku. Begitu juga dengaku, aku menyesal baru mengungkapkan hal ini sekarang. Padahal sudah jelas, Ilham lebih memilih kamu. Apa yang bisa aku harapkan lagi.
“Jika aku harus memilih, tentunya aku akan memilih kamu. Persahabatan lebih berharga daripada seorang pacar. Sebenarnya di dalam islam pacaran dilarang. Dan aku tahu komitmen kita sejak pertama kali masuk kelas sebelas. Kita tidak akan pacaran.”
Ini memang bukan saatnya aku memikirkan masalah cinta. Ilham, kamu memang rupawan, syar’i dan segalanya. Tapi aku tak mungkin mencintai orang yang tidak mencintaiku. Aku tak ingin merasakan pahitnya cinta bertepuk sebelah tangan.
Lebih baik aku melupakanmu, dan kini aku telah memaafkan semua kesalahanmu padaku. Semoga kamu juga memaafkanku. Dengan ini, persahabatanku tidak akan hancur. Lagipula aku juga tak sudi jika harus merelakan persahabatanku demi kamu.
Lebaran telah tiba, kuharap tidak ada khilaf yang masih menjadi dendam.
Sabtu, 17 September 2011
YOU ARE ALWAYS WELCOME IN MY HEART, I WISH WITH YOU FOREVER
“Pokoknya sekarang sampai lulus SMA aku nggak akan pernah pacaran!”
Itulah komitmenku yang sudah kuberitahukan kepada banyak orang temanku, termasuk kakakku. Ya, aku baru saja patah hati lagi. Seorang cowok yang kutaksir mempublikasikan status berpacarannya dengan orang lain yang jelas – jelas akan diketahui semua orang. Memang ini salahku, aku tak pernah bilang bahwa aku suka dengan dia. Tengsin bok! Oke, jaman sekarang cewek cowok sama, tapi betapapun aku punya harga diri. Nggak lucu dong kalau nembak cowok. Eh, walhasil si dia malah sudah didahului sama cewek lain. Nasib... nasib.
Kini aku hanya bisa menyesali perbuatanku, soalnya itu menghasilkan janji. Di kelas, aku hanya bisa sedih kalau melihat Hanief. Semula aku mencanangkan prinsip “semangat belajar karena sensor (Hanief)”. Tapi semenjak aku tahu, bahwa aku sudah tidak memiliki peluang untuk bersamanya, semangat belajarku menurun. Hampa sekali jika hidup hanya bersama cewek. Fiuh, aku mengusap keringat di dahiku.
Lamunanku dipecahkan oleh suara Bu Murni yang lembut.
“Milla,ini ada lomba siswa berprestasi, rencananya sekolah akan mengirimkan kamu sebagai perwakilan putrinya,” jelas beliau.
Oh my god, yang benar saja. Ternyata ada kebahagiaan di sela – sela kesedihan. Deal, aku menerima tawaran yang langka ini. Jadi, pastinya aku ada kegiatan untuk melupakan kesedihan ini. Pastinya aku akan mudah untuk menjaga janjiku “tidak akan pernah pacaran hingga lulus SMA”.
Oh iya, aku ini siswi kelas 2 SMA. Duduk di kelas XI IPA 7. Yang di kelas selalu diam, kecuali ngomong sama teman sebangku, atau kalau ada yang penting saja. Kata teman – temanku aku pintar. Tapi, kalau aku pintar, ngapain aku sekolah? Ya, mungkin maksudnya mudah menerima gitu deh. Semoga memang benar. Nha, itu sebabnya aku dipercaya ikut ajang bergengsi itu. Oke, akan aku laksanakan sebaik – baiknya bu.
Galau, bimbang. Ikut lomba tanpa penjelasan apa itu lombanya. Apa – apaan ini. Disuruh membuat makalah tentang pendidikan karakter. Temanya saja aku nggak tau. Huft, aku menghela nafas. Ampun deh, aku sungguh tidak mengerti tentang lomba ini. Secara, aku tidak tahu bagaimana perintahnya. Ya Allah, hamba butuh juklak.
“Juklaknya dibawa Firdhaus,” kata Bu Murni santai.
Siapa lagi itu Firdhaus. Aku belum pernah mengenal pasangan lombaku itu sebelumnya. Ya suatu saat pasti kenal. Mau gimana lagi, dia orang yang bakal sama – sama denganku untuk saat ini. Semoga orangnya menyenangkan lah. Jangan yang seperti Hanief.
***
Jam istirahat, aku dipanggil untuk ke ruang BK. Oh my god, kaget. Eh tapi ternyata ini menyangkut lomba ini. Akan kuhadiri secarik surat panggilan itu dengan senang hati.
Di ruang tunggu, tampak seorang cowok, di lengan kanannya tertempel bet kelas XI. Wah, ternyata dia temanku. Tapi selama ini aku nggak pernah kenal dengan dia. Hmm, nametextnya kulihat. Firdhaus A. Oh, jadi ini yang namanya Firdhaus.
“Oh, jadi kamu yang namanya Firdhaus,” kataku penasaran.
Dia yang duduk di sofa ruang tunggu hanya senyum dan menganggukkan kepala. Kubuka lagi memori yang berada di otakku. Sepertinya aku mengenal dia sebelumnya. Tapi, ingatan itu cukup sulit kutarik kembali. Oke, aku pasrah, biar waktu yang menjawab padaku siapakah dia sebenarnya.
***
Hari itupun tiba, disaat kami harus mendaftarkan diri sebagai peserta. Aku tidak pernah melakukan perkenalan kepada Firdhaus. Tapi tempat dan waktulah yang membuat aku dan dia menjadi kenal. Bahkan aku mendapat nomor ponselnya, dan itu semua karena forum bimbingan lomba.
Aku ingat, saat pertama kali aku membuka percakapan denganmu. Ternyata kamu sangat mengasyikkan. Hal itu membuatku kecanduan. Hingga akhirnya setiap hari aku dan kamu saling berkirim pesan singkat.
Oh, tak dinyana perkenalan kita berlanjut dengan bahagia. Sampai pada suatu ketika makalah yang kita buat harus segera dikumpulkan. Aku yang memiliki pengetahuan limit, tentu tak bisa berjuang tanpa bantuan dan semangat darimu. Kita saling membantu memberi dukungan. Saat itu juga tak disangka hati kita juga semakin dekat.
Senin, 5 September di ruang serbaguna, aku bertemu denganmu. Kita selesaikan tugas bersama. Pada akhirnya makalah itu selesai juga. Itu semua berkat semangat kita berdua. Sejak pertemuan itu, kita semakin menyatu. Entah mengapa aku merasakan suatu hal yang berbeda ketika aku sedang bersama denganmu, dan hal itu tidak pernah kurasakan jika sedang bersama orang lain. Mungkinkah aku suka denganmu?
Menang benar hanya waktu yang bisa menjawab. Tapi, untuk apa aku menunggu pernyataan yang sudah jelas memang ada. Apakah aku harus menunggu ungkapan itu datang dari mulutmu? Pastinya akan terlalu lama.
Tak dapat kutahan lagi. Karena reaksi kebersamaan itu mendesak hatiku untuk mengatakan hal itu padamu. Akhirnya malam itu kukatakan. Lambat laun aku suka dengan dirimu.
Penuh dengan bimbang. Sebelumnya tak pernah aku berani berkata hal senada kepada seorang teman laki – laki. Namun, untuk kali ini saja perasaanku mendesak untuk ungkapkannya. Ini juga diiringi oleh faktor ketakutan. Sesungguhnya aku takut kehilanganmu.
Sudah cukup jelas bagiku bahwa kamu akan menjawab dengan kalimat senada. Aku sudah tau bahwa kamu sebenarnya juga rasakan hal yang sama. Kamu juga suka denganku. Hatiku menjadi lebih plong setelah katakan itu. Eits, jangan negatif thinking dulu. Bilang suka bukan berarti jadian kan?
Aku suka kamu, kamu suka aku pula. Apalagi yang harus ditunggu? Seharusnya kita sudah menjadi sepasang kekasih.
Saat aku memikirkan pernyataan yang datangnya dari hatiku, saat itu juga aku berpikir begini. Sejak aku putus cinta, aku telah berjanji tidak akan pacaran hingga aku lulus SMA. Bukannya aku akan menjadi penghianat jika aku melanggar janji? Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Sudah ku jelaskan pula kepadamu bahwa aku nggak mungkin mengingkari janjiku ini. Jadi, jika kamu memang suka denganku, kuncinya harus sabar. Ternyata di tahun 2011 masih ada cowok setia yang menurutku memang pantas untuk kusayangi. Dan tak kuduga teryata aku menemukan cinta dalam latihan lomba. Dan orang itu adalah Firdhaus.
Firdhaus adalah seorang siswa seperguruan dengan aku, pacarku (pasangan acara), yang duduk di bangku kelas xi ia 2 yang jauh dari kelasku. Menurutku dia cukup pendiam, tapi sangat pintar. Cepat mudeng, tidak seperti aku. Yang jelas di kelasku nggak ada yang menyamainya. Tapi ada satu hal yang kutakutkan jika aku suka dengannya. Ekskul. Ya, ekskul yang kita tekuni ternyata saling membenci.
Sempat aku bercerita kepada kakakku akan hal ini. Aku suka dengan seorang dimana dia bergabung dengan club yang teman – temanku tidak suka. Kakak justru mengatakan sesuatu yang membangun gairah rasaku, bukan yang menggoyahkan perasaanku. Itulah sebabnya aku sangat menyayangi kakaku. Orang yang tak pernah mematahkan semangatku.
Ya, baiklah Firdhaus, kini aku sudah terlanjur jatuh di hatimu. Entah kamu respect atau tidak, semoga itu menjadi yang terbaik.
Hari – hari kulewati bersamamu. Mulai dari hari kamis 8 September hingga hari ha tanggal 13 September. Kita selalu bersama membangun strategi khususnya untuk memenagkan perlombaan. Namun dalam sebuah pelatihan yang serba memusingkan itu, terdapat kisah asmara kecil – kecilan, yang pastinya terjadi antara aku dan dirimu.
Aku ingat, saat aku membawa castangle (kesukaanmu), pastinya kamu yang makan lebih banyak. Hahaha, lucu sekali. Dan masih banyak kisah lainnya yang tersisip dalam pelatihan lomba. Seandainya kamu tau, aku nggak ingin hari ha itu datang. Karena jika tiba waktunya, kita pasti akan berpisah. Kebersamaan itu mungkin akan menjadi kenangan semata yang tersimpan di hati masing-masing.
Di sisi lain aku sangat takut. Bukan takut menghadapi lomba, namun aku sangat takut jika harus berpisah denganmu. Anehnya kamu juga merasakan ketakutan yang sama seperti aku. Apakah mungkin kita memang mutlak sehati? Semoga.... kita sudah berusaha, kini Allah lah yang menentukan.
Hari yang sangat kutakutkan tiba. Selasa 13 September 2011. Puncak dari segala latihan untuk menuju ke babak yang kedua, yaitu akademik test. Kucoba tenang agar tidak terlalu tampak bahwa sebenarnya aku takut.
Seragkaian tes sudah kulaksanakan dengan maksimal sesuai dengan kemampuanku. Walhasil aku lolos. Namun, hal yang sangat menyedihkan saat itu adalah, Firdhaus tidak lolos. Bagaimana aku bisa tersenyum jika harus berpisah dengan pacarku (pasangan acara)?
Dukungan tetap ada, tapi tetap saja ragamu tak berada di sisiku. Pada akhirnya semua terjawab oleh waktu. Kita harus berpisah, padahal baru sebentar kita berjumpa. Sebegitu singkatnya perjumpaan kita. Inilah ketakutanku yang sebenarnya.
Dalam perjalanan pulang itu, aku menyapamu lewat tulisan. Kukatakan bahwa aku takut kehilanganmu sayang. Lagi – lagi senada, kamu juga rasakan hal yang sama. Namun, tak ada gunanya kita saling bersedih. Sifat bijaksanapun muncul. Kita yakin pasti bisa saling setia. Sehingga aku selalu ada di hatimu dan sebaliknya.
Kamu yang sedang menggenggam bukuku, menemukan sebuah kata mutiara yang sangat tepat untuk kondisi kita saat itu.
“You are always welcome in my heart, I wish with you forever”
Sejak saat itu, aku yakin cinta kita pasti tidak akan terpisahkan selama kita saling loyal.
Itulah komitmenku yang sudah kuberitahukan kepada banyak orang temanku, termasuk kakakku. Ya, aku baru saja patah hati lagi. Seorang cowok yang kutaksir mempublikasikan status berpacarannya dengan orang lain yang jelas – jelas akan diketahui semua orang. Memang ini salahku, aku tak pernah bilang bahwa aku suka dengan dia. Tengsin bok! Oke, jaman sekarang cewek cowok sama, tapi betapapun aku punya harga diri. Nggak lucu dong kalau nembak cowok. Eh, walhasil si dia malah sudah didahului sama cewek lain. Nasib... nasib.
Kini aku hanya bisa menyesali perbuatanku, soalnya itu menghasilkan janji. Di kelas, aku hanya bisa sedih kalau melihat Hanief. Semula aku mencanangkan prinsip “semangat belajar karena sensor (Hanief)”. Tapi semenjak aku tahu, bahwa aku sudah tidak memiliki peluang untuk bersamanya, semangat belajarku menurun. Hampa sekali jika hidup hanya bersama cewek. Fiuh, aku mengusap keringat di dahiku.
Lamunanku dipecahkan oleh suara Bu Murni yang lembut.
“Milla,ini ada lomba siswa berprestasi, rencananya sekolah akan mengirimkan kamu sebagai perwakilan putrinya,” jelas beliau.
Oh my god, yang benar saja. Ternyata ada kebahagiaan di sela – sela kesedihan. Deal, aku menerima tawaran yang langka ini. Jadi, pastinya aku ada kegiatan untuk melupakan kesedihan ini. Pastinya aku akan mudah untuk menjaga janjiku “tidak akan pernah pacaran hingga lulus SMA”.
Oh iya, aku ini siswi kelas 2 SMA. Duduk di kelas XI IPA 7. Yang di kelas selalu diam, kecuali ngomong sama teman sebangku, atau kalau ada yang penting saja. Kata teman – temanku aku pintar. Tapi, kalau aku pintar, ngapain aku sekolah? Ya, mungkin maksudnya mudah menerima gitu deh. Semoga memang benar. Nha, itu sebabnya aku dipercaya ikut ajang bergengsi itu. Oke, akan aku laksanakan sebaik – baiknya bu.
Galau, bimbang. Ikut lomba tanpa penjelasan apa itu lombanya. Apa – apaan ini. Disuruh membuat makalah tentang pendidikan karakter. Temanya saja aku nggak tau. Huft, aku menghela nafas. Ampun deh, aku sungguh tidak mengerti tentang lomba ini. Secara, aku tidak tahu bagaimana perintahnya. Ya Allah, hamba butuh juklak.
“Juklaknya dibawa Firdhaus,” kata Bu Murni santai.
Siapa lagi itu Firdhaus. Aku belum pernah mengenal pasangan lombaku itu sebelumnya. Ya suatu saat pasti kenal. Mau gimana lagi, dia orang yang bakal sama – sama denganku untuk saat ini. Semoga orangnya menyenangkan lah. Jangan yang seperti Hanief.
***
Jam istirahat, aku dipanggil untuk ke ruang BK. Oh my god, kaget. Eh tapi ternyata ini menyangkut lomba ini. Akan kuhadiri secarik surat panggilan itu dengan senang hati.
Di ruang tunggu, tampak seorang cowok, di lengan kanannya tertempel bet kelas XI. Wah, ternyata dia temanku. Tapi selama ini aku nggak pernah kenal dengan dia. Hmm, nametextnya kulihat. Firdhaus A. Oh, jadi ini yang namanya Firdhaus.
“Oh, jadi kamu yang namanya Firdhaus,” kataku penasaran.
Dia yang duduk di sofa ruang tunggu hanya senyum dan menganggukkan kepala. Kubuka lagi memori yang berada di otakku. Sepertinya aku mengenal dia sebelumnya. Tapi, ingatan itu cukup sulit kutarik kembali. Oke, aku pasrah, biar waktu yang menjawab padaku siapakah dia sebenarnya.
***
Hari itupun tiba, disaat kami harus mendaftarkan diri sebagai peserta. Aku tidak pernah melakukan perkenalan kepada Firdhaus. Tapi tempat dan waktulah yang membuat aku dan dia menjadi kenal. Bahkan aku mendapat nomor ponselnya, dan itu semua karena forum bimbingan lomba.
Aku ingat, saat pertama kali aku membuka percakapan denganmu. Ternyata kamu sangat mengasyikkan. Hal itu membuatku kecanduan. Hingga akhirnya setiap hari aku dan kamu saling berkirim pesan singkat.
Oh, tak dinyana perkenalan kita berlanjut dengan bahagia. Sampai pada suatu ketika makalah yang kita buat harus segera dikumpulkan. Aku yang memiliki pengetahuan limit, tentu tak bisa berjuang tanpa bantuan dan semangat darimu. Kita saling membantu memberi dukungan. Saat itu juga tak disangka hati kita juga semakin dekat.
Senin, 5 September di ruang serbaguna, aku bertemu denganmu. Kita selesaikan tugas bersama. Pada akhirnya makalah itu selesai juga. Itu semua berkat semangat kita berdua. Sejak pertemuan itu, kita semakin menyatu. Entah mengapa aku merasakan suatu hal yang berbeda ketika aku sedang bersama denganmu, dan hal itu tidak pernah kurasakan jika sedang bersama orang lain. Mungkinkah aku suka denganmu?
Menang benar hanya waktu yang bisa menjawab. Tapi, untuk apa aku menunggu pernyataan yang sudah jelas memang ada. Apakah aku harus menunggu ungkapan itu datang dari mulutmu? Pastinya akan terlalu lama.
Tak dapat kutahan lagi. Karena reaksi kebersamaan itu mendesak hatiku untuk mengatakan hal itu padamu. Akhirnya malam itu kukatakan. Lambat laun aku suka dengan dirimu.
Penuh dengan bimbang. Sebelumnya tak pernah aku berani berkata hal senada kepada seorang teman laki – laki. Namun, untuk kali ini saja perasaanku mendesak untuk ungkapkannya. Ini juga diiringi oleh faktor ketakutan. Sesungguhnya aku takut kehilanganmu.
Sudah cukup jelas bagiku bahwa kamu akan menjawab dengan kalimat senada. Aku sudah tau bahwa kamu sebenarnya juga rasakan hal yang sama. Kamu juga suka denganku. Hatiku menjadi lebih plong setelah katakan itu. Eits, jangan negatif thinking dulu. Bilang suka bukan berarti jadian kan?
Aku suka kamu, kamu suka aku pula. Apalagi yang harus ditunggu? Seharusnya kita sudah menjadi sepasang kekasih.
Saat aku memikirkan pernyataan yang datangnya dari hatiku, saat itu juga aku berpikir begini. Sejak aku putus cinta, aku telah berjanji tidak akan pacaran hingga aku lulus SMA. Bukannya aku akan menjadi penghianat jika aku melanggar janji? Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Sudah ku jelaskan pula kepadamu bahwa aku nggak mungkin mengingkari janjiku ini. Jadi, jika kamu memang suka denganku, kuncinya harus sabar. Ternyata di tahun 2011 masih ada cowok setia yang menurutku memang pantas untuk kusayangi. Dan tak kuduga teryata aku menemukan cinta dalam latihan lomba. Dan orang itu adalah Firdhaus.
Firdhaus adalah seorang siswa seperguruan dengan aku, pacarku (pasangan acara), yang duduk di bangku kelas xi ia 2 yang jauh dari kelasku. Menurutku dia cukup pendiam, tapi sangat pintar. Cepat mudeng, tidak seperti aku. Yang jelas di kelasku nggak ada yang menyamainya. Tapi ada satu hal yang kutakutkan jika aku suka dengannya. Ekskul. Ya, ekskul yang kita tekuni ternyata saling membenci.
Sempat aku bercerita kepada kakakku akan hal ini. Aku suka dengan seorang dimana dia bergabung dengan club yang teman – temanku tidak suka. Kakak justru mengatakan sesuatu yang membangun gairah rasaku, bukan yang menggoyahkan perasaanku. Itulah sebabnya aku sangat menyayangi kakaku. Orang yang tak pernah mematahkan semangatku.
Ya, baiklah Firdhaus, kini aku sudah terlanjur jatuh di hatimu. Entah kamu respect atau tidak, semoga itu menjadi yang terbaik.
Hari – hari kulewati bersamamu. Mulai dari hari kamis 8 September hingga hari ha tanggal 13 September. Kita selalu bersama membangun strategi khususnya untuk memenagkan perlombaan. Namun dalam sebuah pelatihan yang serba memusingkan itu, terdapat kisah asmara kecil – kecilan, yang pastinya terjadi antara aku dan dirimu.
Aku ingat, saat aku membawa castangle (kesukaanmu), pastinya kamu yang makan lebih banyak. Hahaha, lucu sekali. Dan masih banyak kisah lainnya yang tersisip dalam pelatihan lomba. Seandainya kamu tau, aku nggak ingin hari ha itu datang. Karena jika tiba waktunya, kita pasti akan berpisah. Kebersamaan itu mungkin akan menjadi kenangan semata yang tersimpan di hati masing-masing.
Di sisi lain aku sangat takut. Bukan takut menghadapi lomba, namun aku sangat takut jika harus berpisah denganmu. Anehnya kamu juga merasakan ketakutan yang sama seperti aku. Apakah mungkin kita memang mutlak sehati? Semoga.... kita sudah berusaha, kini Allah lah yang menentukan.
Hari yang sangat kutakutkan tiba. Selasa 13 September 2011. Puncak dari segala latihan untuk menuju ke babak yang kedua, yaitu akademik test. Kucoba tenang agar tidak terlalu tampak bahwa sebenarnya aku takut.
Seragkaian tes sudah kulaksanakan dengan maksimal sesuai dengan kemampuanku. Walhasil aku lolos. Namun, hal yang sangat menyedihkan saat itu adalah, Firdhaus tidak lolos. Bagaimana aku bisa tersenyum jika harus berpisah dengan pacarku (pasangan acara)?
Dukungan tetap ada, tapi tetap saja ragamu tak berada di sisiku. Pada akhirnya semua terjawab oleh waktu. Kita harus berpisah, padahal baru sebentar kita berjumpa. Sebegitu singkatnya perjumpaan kita. Inilah ketakutanku yang sebenarnya.
Dalam perjalanan pulang itu, aku menyapamu lewat tulisan. Kukatakan bahwa aku takut kehilanganmu sayang. Lagi – lagi senada, kamu juga rasakan hal yang sama. Namun, tak ada gunanya kita saling bersedih. Sifat bijaksanapun muncul. Kita yakin pasti bisa saling setia. Sehingga aku selalu ada di hatimu dan sebaliknya.
Kamu yang sedang menggenggam bukuku, menemukan sebuah kata mutiara yang sangat tepat untuk kondisi kita saat itu.
“You are always welcome in my heart, I wish with you forever”
Sejak saat itu, aku yakin cinta kita pasti tidak akan terpisahkan selama kita saling loyal.
Rabu, 06 Juli 2011
DANANG, ANAK JALANAN YANG TIDAK BERCITA - CITA
anak jalanan yang sedang mengamen, seolah - olah menjadi pemandangan yang wajib di tiap - tiap sudut jalan maupun di sela - sela lampu merah. bukan karena sengaja untuk mencari kegiatan yang asyik, namun mengamen merupakan kegiatan wajib bagi mereka untuk menyambung hidupnya.
hal ini dialami oleh seorang anak yang bernama Danang. dia merupakan salah satu dari ribuan anak yang mempunyai nasib tak baik. setiap hari bocah berkulit hitam ini harus menamen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya."Saya ngamen setiap hari buat beli makan," ujarnya.
namun tak semua anak jalanan bersifat kasar, tidak sopan dan urakan. danang justru memiliki sifat pemalu dan sopan. hal ini membuat kami semakin ingin tagu bagaimana tentang dirinya.
danang tidak mengamen sendirian, dia diawasi oleh ibu Sanimah. sejak kecil Danang tidak dirawat ibu kandungnya. bocah yang sedang memakai baju kuning ini dititipkan kepada ibu sanimah sejak lahir. "Danang dititipkan ibunya kepada saya, bapaknya pergi entah kemana,"jelasnya. kini dia hidup bersana ibu sanimah. ibu - ibu berusia 55 tahun ini mengais rejeki dengan cara membantu suaminya mencari barang - barang bekas untuk dirosokkan.
meskipun demikian, danang tidak tinggal bersama ibu sanimah, melainkan tinggal bersama para anak jalanan lain di sebuah lingkungan gereja. di sana ternyata ia mendapat perlakuan yang baik. bocah yang mengamen di lampu merah jalan pattimura ini diberi makan dan minum setiap harinya tanpa kekurangan. setiap hari selasa dan sabtu, ia dijemput oleh mobil gereja untuk bersekolah. "Saya belajar membaca, berhitung, dan menyanyi di sekolah," ujarnya. ia mengaku senang masih diberi kesempatan untuk bersekolah, namun ia juga suka mengamen di jalan, karena mendapat uang. "Saya suka bisa sekolah, tetapi saya juga suka kerja karena bisa membantu emak saya," tambahnya.
tak kunyana, seorang yang hidup di lingkungan gereja, namun ia memeluk agama islam. hal ini saya ketahui ketika saya bertanya kegiatannya di malam hari. "KALau malam, saya shollat di masjid, terus ngaji juga," jelasnya. walaupun ia memiliki nasib yang kurang mujur, ia tetap bersukur kepada Allah.
beruntung selama bertahun - tahun ngamen di jalanan Danang tidak pernah ditangkap oleh petugas keamanan dan ketertiban. bocah berbadan kurus itu juga tak pernah dipalak atau diganggu oleh preman. namun pekerjaan mengamen sangat bnayak saingannya. "Ya, namanya juga ngamen di jalan, tentu banyak saingannya," tuturnya. jika ia merasa bosan, maka ia akan pindah lokasi. "Saya pindah ke tempat lain yang lebih aman dan lebih nyaman jika bosan," lanjutnya.
penghasilan pengamen yang ramah ini tidak menentu. tiap harinya paling sedikit ia mendapat sepuluh ribu rupiah dan paling banyak mendapat dua puluh ribu rupiah. uang ini ia berikan kepada emaknya untuk memenuhi kebutuhan. jika sedang sakit, danang tidak mengamen. ia membeli makan dengan uang cadangan yang telah ia sisihkan ketika mendapat banyak uang.
danang mengaku tak punya cita - cita. ia lebih suka menjalanai hidupnya di jalanansebagai seorang pengamen. "Saya tidak ingin menjadipengusah, dokter, polisi, atau lainnya. saya ingin bekerja begini saja bersma emak," akunya. meskipun saya telah memotivasi dia supaya menginginkan masa depan yang cerah, danang tetap saja pesimis akan masa depannya.
sekian laporan wawancara saya dengan danang si anak petualang jalan.
hal ini dialami oleh seorang anak yang bernama Danang. dia merupakan salah satu dari ribuan anak yang mempunyai nasib tak baik. setiap hari bocah berkulit hitam ini harus menamen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya."Saya ngamen setiap hari buat beli makan," ujarnya.
namun tak semua anak jalanan bersifat kasar, tidak sopan dan urakan. danang justru memiliki sifat pemalu dan sopan. hal ini membuat kami semakin ingin tagu bagaimana tentang dirinya.
danang tidak mengamen sendirian, dia diawasi oleh ibu Sanimah. sejak kecil Danang tidak dirawat ibu kandungnya. bocah yang sedang memakai baju kuning ini dititipkan kepada ibu sanimah sejak lahir. "Danang dititipkan ibunya kepada saya, bapaknya pergi entah kemana,"jelasnya. kini dia hidup bersana ibu sanimah. ibu - ibu berusia 55 tahun ini mengais rejeki dengan cara membantu suaminya mencari barang - barang bekas untuk dirosokkan.
meskipun demikian, danang tidak tinggal bersama ibu sanimah, melainkan tinggal bersama para anak jalanan lain di sebuah lingkungan gereja. di sana ternyata ia mendapat perlakuan yang baik. bocah yang mengamen di lampu merah jalan pattimura ini diberi makan dan minum setiap harinya tanpa kekurangan. setiap hari selasa dan sabtu, ia dijemput oleh mobil gereja untuk bersekolah. "Saya belajar membaca, berhitung, dan menyanyi di sekolah," ujarnya. ia mengaku senang masih diberi kesempatan untuk bersekolah, namun ia juga suka mengamen di jalan, karena mendapat uang. "Saya suka bisa sekolah, tetapi saya juga suka kerja karena bisa membantu emak saya," tambahnya.
tak kunyana, seorang yang hidup di lingkungan gereja, namun ia memeluk agama islam. hal ini saya ketahui ketika saya bertanya kegiatannya di malam hari. "KALau malam, saya shollat di masjid, terus ngaji juga," jelasnya. walaupun ia memiliki nasib yang kurang mujur, ia tetap bersukur kepada Allah.
beruntung selama bertahun - tahun ngamen di jalanan Danang tidak pernah ditangkap oleh petugas keamanan dan ketertiban. bocah berbadan kurus itu juga tak pernah dipalak atau diganggu oleh preman. namun pekerjaan mengamen sangat bnayak saingannya. "Ya, namanya juga ngamen di jalan, tentu banyak saingannya," tuturnya. jika ia merasa bosan, maka ia akan pindah lokasi. "Saya pindah ke tempat lain yang lebih aman dan lebih nyaman jika bosan," lanjutnya.
penghasilan pengamen yang ramah ini tidak menentu. tiap harinya paling sedikit ia mendapat sepuluh ribu rupiah dan paling banyak mendapat dua puluh ribu rupiah. uang ini ia berikan kepada emaknya untuk memenuhi kebutuhan. jika sedang sakit, danang tidak mengamen. ia membeli makan dengan uang cadangan yang telah ia sisihkan ketika mendapat banyak uang.
danang mengaku tak punya cita - cita. ia lebih suka menjalanai hidupnya di jalanansebagai seorang pengamen. "Saya tidak ingin menjadipengusah, dokter, polisi, atau lainnya. saya ingin bekerja begini saja bersma emak," akunya. meskipun saya telah memotivasi dia supaya menginginkan masa depan yang cerah, danang tetap saja pesimis akan masa depannya.
sekian laporan wawancara saya dengan danang si anak petualang jalan.
PENYESALAN MELODY
Dag dig dug! Jantung ini berdetak lebih cepat, telinga ini sudah tidak sabar lagi untuk mendengar siapa yang menjadi juara kelas semester ini. Hati ini terus berharap, mungkinkah aku jadi juara kelas? Setelah dua kali berturut – turut berhasil menjadi juara kelas di kelas tujuh. Dan inilah jawabannya....
“peringkat pertama adalah Melody Adelia,”
Prok prok prok.... suara kompak dari suara tangan teman – temanku mampu membuat hatiku melompat. Tak lupa rasa syukur terus terucap dari mulutku.
“Melody, selamat ya! Kamu keren banget.”
“Iya, makasih ya Deka.”
Heran, ucapan itu berasal dari temanku yang mendapat gelar miss don’t care. Deka yang biasanya nggak pedulian kok sempat – sempatnya mengucapkan selamat buat aku. Ah, bagus lah, nggak usah negativ thinking. Mungkin Deka sudah –
“Mel! Ngelamun aja nih, habis dapat rangking satu jadi kesenangan nih, ahaha ....”
“Ah, kamu bisa saja, kamu sudah memotong lamunanku tahu!”
“Oh ya, maaf deh. Kalau begitu, aku duluan ya.”
Deka berhambur pergi. Seorang Deka mengucapkan selamat kepadaku? Masih nggak percaya.
Akhir – akhir ini Deka serig sms aku. Dia ingin jadi teman dekatku. Akupun tidak keberatan danmenerimanya dengan senang hati pastinya.
Hari – hari kulewati dengan sejuta warna. Oh betapa senangnya hatiku mempunyai teman yang sangat mengasyikkan. Tuhan, inikah yang dinamakan persahabatan? Aku baru merasakannya. Sangat indah Tuhan. Semoga Engkau tidak memisahkanku dengan sahabatku Tuhan....
1 pesan baru dari Deka.
“Mel besok ada acara nggak? Gimana kalau kamu ke rumahku? Ortu pergi nih, aku kesepian...mau kan mel ?”
Ohoho ada yang minta ditemani, demi persahabatan deh. Jawab aja iya. Akupun setuju.
“spada... tok tok...!” salam dariku yang imut.
“Mel, ayo masuk!” sambut Deka.
“Makasih, boleh duduk nggak?” tanyaku sambil bercanda.
“Emh, buat Melody boleh deh, eh sebentar ya, aku mau ambil minman dulu.” Deka ke belakang.
“Dek, Deka? Pinjam dongkrak dong...!” suara lembut berteriak dari luar dan sepertinya menuju kemari. Dari balik pintu yang telah terbuka, muncullah sesosok cowok kerean yang sepertinya menuju ke dalam. Ups, tapi mengapa aku jadi tegang begini ya. Dag dig dug jantungku semakin ngebut. Apakah aku sedang mengalami gejala pandangan pertama. Oh my god, it’s so sweet....
“hey! Kok bengong?” sebuah suara menyadarkanku dari lamunanku.
“emh, aku nggak bengong kok. Emh, cari Deka ya? Dia di belakang.”
“yasudah, aku ke belakang dulu. Thank’s ya Mel!”
Ooh menakjubkan, dia tahu namaku. Padahal aku kan nggak kenal dia. Aku jadi jatuh ngefans deh. Eh tapi mungkin sebelum aku ngefans dengan dia, dia sudah ngefans duluan dengan aku. Aduh jadi salting, mendingan ngaca dulu, periksa kerapian, hehe.
“Dek, aku pulang dulu ya, makasih dongkraknya, nanti kalau sudah selesai aku kembalikan.” Kata laki – laki itu.
“Hey, tunggu! Kamu tadi kok tahu namaku? Sepertinya aku pernah melihatmu di... sekolah.” Tanyaku bertele – tele.
“yah, kita kan emang satu sekolah Mel, baru sadar ya. Hahaha.” Jawabnya santai.
Huh, untung saja tadi aku tidak terlihat salting.
“Mel, minum.”
Rasa malu sih memang ada ketika akku bertanya pada Deka. Laki – laki itu bernama Junior, temannya Deka. Junior itu cakep, baik hati, tidak sombong, lucu, imut dan pokoknya yang bagus – bagus.
Keesokan harinya aku sudah berhasil melewati masa perkenalan. Sejak itu aku dan Junior jadi lebih akrab. Kami sering main bersama, saling cerita dan masih banyak lagi. Tak lupa aku juga pernah melihat pertandingan bola tim Junior. Tapi bukan berarti aku melupakan Deka begitu saja. Aku malah jadi semakin rekat dengan Deka.
Hampir satu bulan aku masuk sekolah, hari – hari kuhabiskan bersama Deka dan Junior. Bahkan aku sering melalaikan jadwal mengajiku, juga lupa dengan kewajiban sebagai siswa, belajar.ah tapi ini kan masih satu bulan, masih santai.
Telah lama rasa ini kupendam, tak ada yang menyadari kecuali diriku sendiri. Dka pun tahu setelah aku memberitahunya. Tapi, mengapa ketika aku benar – benar menyukai Junior malah dia semakin berusaha pergi menjauh dari kehidupanku. Oh Junior, memang rasa ini sungguh tidak wajar, namun aku ingin tetap beramamu. Mengapa semakin ku kejar, kau semakin jauh.
Kini meskipun engkau jauh, bagiku kau masih tetap terasa dekat. Karena bayang – nayangmu tak mau pergi. Dan aku juga masih punya Deka. Junior begtu tega melupkan aku. Aku sedih Junior, ketahuilah....
Gara – gara masalah sepele ini semangat belajarku jadi menurun. Kegiatanku hanyalah bermain handphone. Berharap masih ada satu dua teman yang peduli denganku. Teman – teman bosan denganku karena sekarang aku nggak bisa memberikan contekan ketika ulangan dan apabila memberikan jawabanpun kadang – kadang benar dan seringkali salah.
Oh cukup sudah aku menderita karena Junior. Mengapa dulu aku suka dengannya kalau sekarang ini dia menegaskan padaku bahwa dia tak sedikitpun hasratnya padaku. Aku sungguh capek dibuatnya menderita. Mengapa dulu demi bertemu Junior aku sering membohongi Bunda dan mengaku mengerjakan tugas. Mengapa demi Junior aku meninggalkan tugas – tugas sekolah. Mengapa demi Junior aku rela membolos ekstrakurikuler.
Ujian kenaikan kelas telah berakhir. Bagiku berakhir dengan kesedihan. Sebab tak ada separuh soal ipa yang bisa bisa kusekesaikan. Otakku menjadi padat sketika. Aku hanya bergantung kepada kancing baju dan berdoa supaya aku beruntung. Tapi inilah hasilnya. Rapor Melody dengan nilai – nilai yang turun drastis hingga mendapat peringkat yang jauh dari angan – angan. Hanya ada kata menyesal dibenakku saat ini.
Namun semua telah terjadi. Aku telah mengecewakan orang tuaku yang tak bersalah ini. Aku tak bisa mempertahankan bintang di langit hingga pagi menjemput dan ilang ditelan siang. Mengapa aku hnaya bisa memberi setangkai bunga yang layu kepada orang tuaku.
Seribu kata maaf sungguh tiada berarti. Tapi apa lagi kata yang pantas diucapkan kepada Ayah dan Bunda selain kata maaf?
“Ayah, Bunda, maafkan aku.” Aku tak kuasa menahan tangis dan segera berdiri memeluk Bunda.
“Iya Bunda mengerti. Jangan diulngi lagi ya!” jawab mereka dengan nada menyimpan rasa yang sangat tidak ada sedikitpun aroma kebahagiaan.
Aku tahu Ayah dan Bunda menyimpan rasa kecewa yang cukup dalam. Dan semoga mereak tahu, kalau mereka kecewa sesungguhnya aku lebih kecewa. Bersyukur aku bisa naik kelas. Kini aku hanya bisa menangis dan menangis. Hingga waktu yang mampu menghapus air mataku.
Dalam kesedihan ini aku berdoa semoga aku tidak akan lagi menemukan laki – laki yang seperti Junior. Mulai sekarang tidak ada lagi Junior dalam kamusku. Tidak ada lagi kata bohong. Tidak ada lagikata menyesal.
“sayang, ayo makan dulu. Kalau kamu tangisi terus tak ada gunanya. Nanti kamu bisa sakit.” Bunda membujukku.
“Siap! Aku nggak akan pergi ke dunia malas dan tangis lagi.” Jawabku sambil menghapus air mata dan beranjak dari tempat tidurku.
“huh, dasar cengeng! Pemalas! Rapornya jelek!” ejek kakak.
“aak, kakak nggak usah terlalu memuji! Aku kan jadi malu.” Jawabku dengan kata ang seratus persen bohong.
Makan siang berlangsung dengan khidmat seperti upacara bendera saja. Nah inilah kebahagiaan yang sesungguhnya. Dimana oang – orang tua memberikan cinta yang begitu besar kepaa anaknya.
1 pesan baru dari Lefi.
“Mel, hari selasa Junior tanding. Datang ya!”
Dengan jawaban yang tak sedikitpun berbau dendam, aku nggak mau datang. Sebenarnya Lefi sempat memaksaku. Tapi aku benar – benar nggak ingin bertemu dengan Junior. Meskipun Lefi sahabatnya Junior, aku nggak merasa takut bercerita padanya tentang Junior.
“Mel, tapi kamu apa nggak mau nonton pertandinganku juga?” lefi merayu.
“Ya, aku akan dukung dari sini. Haha ....”
Selamat tinggal Junior. Aku nggak akan kejar – kejar kamu lagi. Pergilah ....
“peringkat pertama adalah Melody Adelia,”
Prok prok prok.... suara kompak dari suara tangan teman – temanku mampu membuat hatiku melompat. Tak lupa rasa syukur terus terucap dari mulutku.
“Melody, selamat ya! Kamu keren banget.”
“Iya, makasih ya Deka.”
Heran, ucapan itu berasal dari temanku yang mendapat gelar miss don’t care. Deka yang biasanya nggak pedulian kok sempat – sempatnya mengucapkan selamat buat aku. Ah, bagus lah, nggak usah negativ thinking. Mungkin Deka sudah –
“Mel! Ngelamun aja nih, habis dapat rangking satu jadi kesenangan nih, ahaha ....”
“Ah, kamu bisa saja, kamu sudah memotong lamunanku tahu!”
“Oh ya, maaf deh. Kalau begitu, aku duluan ya.”
Deka berhambur pergi. Seorang Deka mengucapkan selamat kepadaku? Masih nggak percaya.
Akhir – akhir ini Deka serig sms aku. Dia ingin jadi teman dekatku. Akupun tidak keberatan danmenerimanya dengan senang hati pastinya.
Hari – hari kulewati dengan sejuta warna. Oh betapa senangnya hatiku mempunyai teman yang sangat mengasyikkan. Tuhan, inikah yang dinamakan persahabatan? Aku baru merasakannya. Sangat indah Tuhan. Semoga Engkau tidak memisahkanku dengan sahabatku Tuhan....
1 pesan baru dari Deka.
“Mel besok ada acara nggak? Gimana kalau kamu ke rumahku? Ortu pergi nih, aku kesepian...mau kan mel ?”
Ohoho ada yang minta ditemani, demi persahabatan deh. Jawab aja iya. Akupun setuju.
“spada... tok tok...!” salam dariku yang imut.
“Mel, ayo masuk!” sambut Deka.
“Makasih, boleh duduk nggak?” tanyaku sambil bercanda.
“Emh, buat Melody boleh deh, eh sebentar ya, aku mau ambil minman dulu.” Deka ke belakang.
“Dek, Deka? Pinjam dongkrak dong...!” suara lembut berteriak dari luar dan sepertinya menuju kemari. Dari balik pintu yang telah terbuka, muncullah sesosok cowok kerean yang sepertinya menuju ke dalam. Ups, tapi mengapa aku jadi tegang begini ya. Dag dig dug jantungku semakin ngebut. Apakah aku sedang mengalami gejala pandangan pertama. Oh my god, it’s so sweet....
“hey! Kok bengong?” sebuah suara menyadarkanku dari lamunanku.
“emh, aku nggak bengong kok. Emh, cari Deka ya? Dia di belakang.”
“yasudah, aku ke belakang dulu. Thank’s ya Mel!”
Ooh menakjubkan, dia tahu namaku. Padahal aku kan nggak kenal dia. Aku jadi jatuh ngefans deh. Eh tapi mungkin sebelum aku ngefans dengan dia, dia sudah ngefans duluan dengan aku. Aduh jadi salting, mendingan ngaca dulu, periksa kerapian, hehe.
“Dek, aku pulang dulu ya, makasih dongkraknya, nanti kalau sudah selesai aku kembalikan.” Kata laki – laki itu.
“Hey, tunggu! Kamu tadi kok tahu namaku? Sepertinya aku pernah melihatmu di... sekolah.” Tanyaku bertele – tele.
“yah, kita kan emang satu sekolah Mel, baru sadar ya. Hahaha.” Jawabnya santai.
Huh, untung saja tadi aku tidak terlihat salting.
“Mel, minum.”
Rasa malu sih memang ada ketika akku bertanya pada Deka. Laki – laki itu bernama Junior, temannya Deka. Junior itu cakep, baik hati, tidak sombong, lucu, imut dan pokoknya yang bagus – bagus.
Keesokan harinya aku sudah berhasil melewati masa perkenalan. Sejak itu aku dan Junior jadi lebih akrab. Kami sering main bersama, saling cerita dan masih banyak lagi. Tak lupa aku juga pernah melihat pertandingan bola tim Junior. Tapi bukan berarti aku melupakan Deka begitu saja. Aku malah jadi semakin rekat dengan Deka.
Hampir satu bulan aku masuk sekolah, hari – hari kuhabiskan bersama Deka dan Junior. Bahkan aku sering melalaikan jadwal mengajiku, juga lupa dengan kewajiban sebagai siswa, belajar.ah tapi ini kan masih satu bulan, masih santai.
Telah lama rasa ini kupendam, tak ada yang menyadari kecuali diriku sendiri. Dka pun tahu setelah aku memberitahunya. Tapi, mengapa ketika aku benar – benar menyukai Junior malah dia semakin berusaha pergi menjauh dari kehidupanku. Oh Junior, memang rasa ini sungguh tidak wajar, namun aku ingin tetap beramamu. Mengapa semakin ku kejar, kau semakin jauh.
Kini meskipun engkau jauh, bagiku kau masih tetap terasa dekat. Karena bayang – nayangmu tak mau pergi. Dan aku juga masih punya Deka. Junior begtu tega melupkan aku. Aku sedih Junior, ketahuilah....
Gara – gara masalah sepele ini semangat belajarku jadi menurun. Kegiatanku hanyalah bermain handphone. Berharap masih ada satu dua teman yang peduli denganku. Teman – teman bosan denganku karena sekarang aku nggak bisa memberikan contekan ketika ulangan dan apabila memberikan jawabanpun kadang – kadang benar dan seringkali salah.
Oh cukup sudah aku menderita karena Junior. Mengapa dulu aku suka dengannya kalau sekarang ini dia menegaskan padaku bahwa dia tak sedikitpun hasratnya padaku. Aku sungguh capek dibuatnya menderita. Mengapa dulu demi bertemu Junior aku sering membohongi Bunda dan mengaku mengerjakan tugas. Mengapa demi Junior aku meninggalkan tugas – tugas sekolah. Mengapa demi Junior aku rela membolos ekstrakurikuler.
Ujian kenaikan kelas telah berakhir. Bagiku berakhir dengan kesedihan. Sebab tak ada separuh soal ipa yang bisa bisa kusekesaikan. Otakku menjadi padat sketika. Aku hanya bergantung kepada kancing baju dan berdoa supaya aku beruntung. Tapi inilah hasilnya. Rapor Melody dengan nilai – nilai yang turun drastis hingga mendapat peringkat yang jauh dari angan – angan. Hanya ada kata menyesal dibenakku saat ini.
Namun semua telah terjadi. Aku telah mengecewakan orang tuaku yang tak bersalah ini. Aku tak bisa mempertahankan bintang di langit hingga pagi menjemput dan ilang ditelan siang. Mengapa aku hnaya bisa memberi setangkai bunga yang layu kepada orang tuaku.
Seribu kata maaf sungguh tiada berarti. Tapi apa lagi kata yang pantas diucapkan kepada Ayah dan Bunda selain kata maaf?
“Ayah, Bunda, maafkan aku.” Aku tak kuasa menahan tangis dan segera berdiri memeluk Bunda.
“Iya Bunda mengerti. Jangan diulngi lagi ya!” jawab mereka dengan nada menyimpan rasa yang sangat tidak ada sedikitpun aroma kebahagiaan.
Aku tahu Ayah dan Bunda menyimpan rasa kecewa yang cukup dalam. Dan semoga mereak tahu, kalau mereka kecewa sesungguhnya aku lebih kecewa. Bersyukur aku bisa naik kelas. Kini aku hanya bisa menangis dan menangis. Hingga waktu yang mampu menghapus air mataku.
Dalam kesedihan ini aku berdoa semoga aku tidak akan lagi menemukan laki – laki yang seperti Junior. Mulai sekarang tidak ada lagi Junior dalam kamusku. Tidak ada lagi kata bohong. Tidak ada lagikata menyesal.
“sayang, ayo makan dulu. Kalau kamu tangisi terus tak ada gunanya. Nanti kamu bisa sakit.” Bunda membujukku.
“Siap! Aku nggak akan pergi ke dunia malas dan tangis lagi.” Jawabku sambil menghapus air mata dan beranjak dari tempat tidurku.
“huh, dasar cengeng! Pemalas! Rapornya jelek!” ejek kakak.
“aak, kakak nggak usah terlalu memuji! Aku kan jadi malu.” Jawabku dengan kata ang seratus persen bohong.
Makan siang berlangsung dengan khidmat seperti upacara bendera saja. Nah inilah kebahagiaan yang sesungguhnya. Dimana oang – orang tua memberikan cinta yang begitu besar kepaa anaknya.
1 pesan baru dari Lefi.
“Mel, hari selasa Junior tanding. Datang ya!”
Dengan jawaban yang tak sedikitpun berbau dendam, aku nggak mau datang. Sebenarnya Lefi sempat memaksaku. Tapi aku benar – benar nggak ingin bertemu dengan Junior. Meskipun Lefi sahabatnya Junior, aku nggak merasa takut bercerita padanya tentang Junior.
“Mel, tapi kamu apa nggak mau nonton pertandinganku juga?” lefi merayu.
“Ya, aku akan dukung dari sini. Haha ....”
Selamat tinggal Junior. Aku nggak akan kejar – kejar kamu lagi. Pergilah ....
Selasa, 28 Juni 2011
kupu - kupu
siapa yang suka dengan kupu - kupu?
binatang kecil dengan warna sayap nan elok itu acap menghibur hati para kanak - kanak.
tapi dibalik sayap indahnya itu, kupu kupu memiliki proses yang sulit.
berawal dari sebuah telur. tumbuh menjadi ulat. saat menjadi ulat, orang - orang tidak menyukainya. banyak cobaan untuknya. terkadang para burung - burung nakal mematuknya dan menggiringnya kedalam mulut mereka. jika mereka bisa menyelamatkan diri, jadilah kepompong. tak sehangat di selimut tidur kalian teman - teman. kepompong menahan kencangnya angin. menahan semuanya yang ingin menghancurkan mereka. membangun benteng untuk berlindung. hingga waktunya menjadi kupu - kupu. bisa trbang bebas ke angkasa. semua orang suka padanya. tarian indahnya menenagkan jiwa.
itu sama kasusnya dengan persahabatan yang kita bangun.
awalnya kita tidak saling mengenal. hingga sebuah forum atau dengan suatu alat, kita bisa berkenalan. hanya mengenal. akhirnya kita ingin mengenal lebih dalam. tak semudah itu. ego yang tinggi terkadang mematahkan kedekatan kita. tapi dengan sebuah pengertian, perkenalan itu bertahan hingga menjadi sebuah persahabatan.
persahabatan yang indah. terdiri dari telinga yang siap mendengar, hati yang selalu memahami dan tangan yang siap menolong.
so untuk teman - teman yang punya sahabat, jadilah seperti kupu - kupu. yang setiap orang ingin menangkapnya. bukan mengusirnya.
binatang kecil dengan warna sayap nan elok itu acap menghibur hati para kanak - kanak.
tapi dibalik sayap indahnya itu, kupu kupu memiliki proses yang sulit.
berawal dari sebuah telur. tumbuh menjadi ulat. saat menjadi ulat, orang - orang tidak menyukainya. banyak cobaan untuknya. terkadang para burung - burung nakal mematuknya dan menggiringnya kedalam mulut mereka. jika mereka bisa menyelamatkan diri, jadilah kepompong. tak sehangat di selimut tidur kalian teman - teman. kepompong menahan kencangnya angin. menahan semuanya yang ingin menghancurkan mereka. membangun benteng untuk berlindung. hingga waktunya menjadi kupu - kupu. bisa trbang bebas ke angkasa. semua orang suka padanya. tarian indahnya menenagkan jiwa.
itu sama kasusnya dengan persahabatan yang kita bangun.
awalnya kita tidak saling mengenal. hingga sebuah forum atau dengan suatu alat, kita bisa berkenalan. hanya mengenal. akhirnya kita ingin mengenal lebih dalam. tak semudah itu. ego yang tinggi terkadang mematahkan kedekatan kita. tapi dengan sebuah pengertian, perkenalan itu bertahan hingga menjadi sebuah persahabatan.
persahabatan yang indah. terdiri dari telinga yang siap mendengar, hati yang selalu memahami dan tangan yang siap menolong.
so untuk teman - teman yang punya sahabat, jadilah seperti kupu - kupu. yang setiap orang ingin menangkapnya. bukan mengusirnya.
curhatan hari ini
dear,
hari ini terasa membosankan. baru saja jam menunjuk pukul 10.25, tapi aku sudah katakan demikian.
entah kenapa di sini aku jadi seperti anak tiri.
aku nggak tau maksudmu apa.
apa aku harus pergi?
kalau iya, lebih baik aku pegi untuk selamanya. jika di sini aku hanya membuatmu menderita. ketahuilah, aku lebih dan lebih menderita. beruntung mulutku terbungkam.
jika tidak, mungkin mataku sudah basah.
nggak ada yang menyenangkan untuk hari ini. manusia - manusia terkutuk berada disekelilingku.
meski hanya satu orang, tapi rasanya seperti dipanas - panasi oleh 1000 setan.
aku nggak tau mengapa hatiku merasa begini.
sepertinya ada kesalahan yang sedang melekat pada diriku.
orang - orang itu tak ikhlas lakukan itu semua. padahal bukan untukku, tapi untuk dirinya sendiri.
apa hubungannya dengan aku coba?
ya! dia nggak ikhlas. makanya apa yang dilakukannya sia - sia.
seperti debu yang menempel di batu licin, dan terguyur oleh air hujan yang amat deras.
sia - sia. tak ada artinya.
aku memendam kataku. hanya kucurahkan di kolom kosong ini.
aku tak ingin terjadi kerusuhan antara kita, you know.
sabar sabar ikhlas ikhlas
hari ini terasa membosankan. baru saja jam menunjuk pukul 10.25, tapi aku sudah katakan demikian.
entah kenapa di sini aku jadi seperti anak tiri.
aku nggak tau maksudmu apa.
apa aku harus pergi?
kalau iya, lebih baik aku pegi untuk selamanya. jika di sini aku hanya membuatmu menderita. ketahuilah, aku lebih dan lebih menderita. beruntung mulutku terbungkam.
jika tidak, mungkin mataku sudah basah.
nggak ada yang menyenangkan untuk hari ini. manusia - manusia terkutuk berada disekelilingku.
meski hanya satu orang, tapi rasanya seperti dipanas - panasi oleh 1000 setan.
aku nggak tau mengapa hatiku merasa begini.
sepertinya ada kesalahan yang sedang melekat pada diriku.
orang - orang itu tak ikhlas lakukan itu semua. padahal bukan untukku, tapi untuk dirinya sendiri.
apa hubungannya dengan aku coba?
ya! dia nggak ikhlas. makanya apa yang dilakukannya sia - sia.
seperti debu yang menempel di batu licin, dan terguyur oleh air hujan yang amat deras.
sia - sia. tak ada artinya.
aku memendam kataku. hanya kucurahkan di kolom kosong ini.
aku tak ingin terjadi kerusuhan antara kita, you know.
sabar sabar ikhlas ikhlas
marah
apa gunanya marah?
aku tak tahu
akan tetapi orang - orang selalu marah
marah kepadaku
mereka jahat
meraka brengsek
sangat tidak sempurna
tak bisa mengampuni orang bodoh seperti aku
menyedihkan
tapi
apa guna sedih
apa guna marah
masih ada cahaya terang dibalik kesuraman
Allah pasti membalas apapun tindakan umatnya
baik buruk ada nilainya
aku tak usah beraksi
tak usah menghukum
bahkan marahpun jangan
karena aku tau
malaikatNya sudah mencatatnya
-_-
aku tak tahu
akan tetapi orang - orang selalu marah
marah kepadaku
mereka jahat
meraka brengsek
sangat tidak sempurna
tak bisa mengampuni orang bodoh seperti aku
menyedihkan
tapi
apa guna sedih
apa guna marah
masih ada cahaya terang dibalik kesuraman
Allah pasti membalas apapun tindakan umatnya
baik buruk ada nilainya
aku tak usah beraksi
tak usah menghukum
bahkan marahpun jangan
karena aku tau
malaikatNya sudah mencatatnya
-_-
Langganan:
Postingan (Atom)