Minggu, 04 Oktober 2015

KEPAKKAN SAYAP

Lemah gemulainya gerakan tangan dari empat penari di musim panas ini membuat aku tergiur untuk mempelajarinya. Itulah awal mula alasanku untuk bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tari Tradisional. Ternyata di dalam pilihanku ini, kutemukan dua sahabat inspiratif. Tuti dan Tiara. Kami bertiga dijuluki Ti-Three, karena dari nama kami mengandung unsur “Ti”. Tiska, Tuti dan Tiara. Pertama memang minder, melihat Tuti dan Tiara yang sudah memiliki background dalam dunia tari tradisional. Tak disangka chemistry kami begitu besar, walaupun berasal dari minat program studi yang berbeda. Tuti, temanku dari jurusan ilmu komunikasi, seorang purna paskibra kota. Dia bertubuh tinggi langsing, cantik dan pandai menari. Tuti belajar menari sejak kelas 1 SMA karena syarat penampilan bakat ketika seleksi calon paskibraka. Dengan ketekunannya, dia lanjutkan proses latihan menari di sekolahnya. Hingga kini bekal dan pengetahuannya dalam dunia tari sudah cukup banyak. Sedangkan Tiara dari jurusan gizi, dia tidak berasal dari keluarga seniman. Tapi karena perhatian dari orang tuanya, sejak kecil bakat Tiara sudah diasah. Tiara diarahkan untuk latihan menari sejak SD. Aku menilai diriku adalah lain dari yang lain. Hanya memiliki modal minat dan tertarik untuk gabung dengan kegiatan tari. Sebelumnya aku pernah menari, ketika pentas perpisahan TK. Aku tidak menyadari bahwa aku memiliki bakat menari yang lumayan. Sedangan selama ini aku hanya suka membaca komik dan menggambar anime saja. Latihan tari yang diberikan, ternyata tidak membuatku kesusahan. Kata para senior, progressku baik. Jam terbang menariku semakin padat. Seiring dengan berjalannya waktu, aku dan kedua temanku sering mengisi acara kemana – mana. Kami dipandang hebat oleh senior. Predikat itu membanggakan nama Ti-Three. Bagaimana tidak, Ti-Three sering mendominasi panggilan pementasan atas nama UKM selama tiga generasi. Sayangnya banyak pula penari di universitasku. Sehingga penari seperti aku tidak ada apa – apanya di luar sana. Hingga pada suatu hari, kudapati kedua temanku yang memilih jalannya masing – masing. Dua tahun lamanya bersahabat, ternyata diam – diam kedua temanku mundur teratur dari UKM Tari Tradisional. Tuti yang berkutat dengan ilmu komunikasi mulai mengepakkan sayapnya di dunia jurnalistik. Dan Tiara, ingin mencoba hal baru dengan mengikuti seleksi misi budaya ke luar negeri yang diadakan oleh fakultasnya. Menjadi sesepuh di dalam organisasi, menurutku itu adalah dilema hati yang paling tinggi. Aku satu dari tiga temanku yang masih bertahan. Tuti dan Tiara mulai hilang dari orbit. Aku tak pernah sepanggung lagi dengan mereka. Tuti sukses dengan dunia jurnalistiknya. Meskipun aku tahu, di luar sana Tuti masih melanggengkan latihan tari. Orientasinya telah berbeda, dia mengambil kesempatan pentas untuk dirinya sendiri. Sering aku bertanya padanya, mengapa dia jarang datang ke UKM Tari Tradisional. Tugas kuliah selalu menjadi kambing hitamnya. Aku tidak mengerti lagi, apa bedanya sikap egoisme pada diri dan upaya untuk bersolo karier. Tiara, lolos seleksi untuk mengikuti misi budaya ke luar negeri, Perancis. Proses yang panjang perlu dia hadapi untuk sebuah penampilan yang terbaik. Tiara tak pernah muncul lagi di masa lalunya, yaitu UKM Tari Tradisional. Kelompok penari yang hanya level provinsi ini mungkin sudah tak dianggapnya lagi. Impianya untuk go international terwujud. Terkurung dalam sangkar, Ti-Three meninggalkanku sendirian. Aku yang tersisa disini, di kelompok tari ini. Walaupun aku sering menari, melanggengkan bakatku. Tetap saja ini tidak bisa menggantikan rasa kecewaku kepada dua sahabat. Kecewa, tapi merindu. Perasaan ini sungguh mengaduk – aduk hatiku. Aku ditinggalkan dengan tanpa inovasi baru. Rutinitas mendapat panggilan tari dari acara ke acara. Tiada perkembangan. Lomba yang beberapa kali aku hadapi, belum bisa membesarkan namaku. Sesekali kulihat lagi foto kami bertiga, Ti-Three. Sahabat macam apa kau. Kalian egois. Meninggalkanku sendirian. Tuti, namamu sering muncul di koran. Fotomu yang sering touring jurnalistik sudah tersebar seantero jagad. Tiara, senang ya sekarang sudah mencicipi makanan luar negeri. Foto selfiemu di depan menara Eifel sudah diketahui dunia. Hatiku bergejolak. Protes atas persahabatan Ti-Three. Hampir saja kusobek foto kami bertiga. Tiba – tiba ada suara berbisik, seperti percakapan mereka berdua. “Jangan! Jangan pernah sobek foto kita!” suara Tuti. “Aku tidak egois, aku hanya ingin mencari yang lebih baik lagi. Ketika aku sudah bisa menilai bahwa di UKM kita sudah sukses.” bisikan suara Tiara. Kuurungkan niat untuk menyobek foto itu. Berkali – kali ketika aku ingin mereka kembali, alasan demi alasan yang sesungguhnya logis, tak pernah kuterima. Malam ini, diantara kertas – kertas sketsa anime kesayanganku, kurenungkan isi hatiku. Benar, Tiara pasti akan selalu meningkatkan kualitas hidupnya. Menambah pengalamannya. Tuti pun. Dia pasti lebih suka bersolo karir dalam menari, dan menjadi jurnalis memang impiannya. Lalu, mimpi apakah yang aku punya? Jam menunjukkan pukul 02.32 dini hari. Aku masih terbawa emosi, memikirkan apa yang akan aku perjuangkan. Persahabatan yang tinggal kenangankah? Berkali ku berpikir, Tuti hanya dengan menulis dan menari dia tampak menikmati sukses. Tiara, akan mendapatkan pengalaman baru, banyak cerita setelah memijakkan kakinya di luar negeri. Haruskah aku menyontek salah satu cara di antara mereka? Ternyata akalku masih berada di jalan yang buntu. Kuputuskan untuk tidur saja. Walaupun mata sulit dipejamkan. Berusaha tidur, untuk mendapatkan mimpi menemukan jalan lain nikmati hidup. Tidur membawaku untuk bermimpi menuju ke negri sebrang. Mimpi bercerita, aku bahagia mengambil foto di negri seribu danau, Finlandia. Mimpi ini semacam rekreaksi yang tak pernah aku duga. Kunikmati mimpi malam ini, cause my sleep my adventure. Aku puas mendapatkan mimpi itu. Seperti pertanda bahwa aku harus meniti karir untuk bisa menginjakkan kaki ke belahan dunia yang lain. Inilah saatnya burung kecil mencoba kepakkan sayap. Kupilih negeri seribu danau sebagai destinasiku. Aku ingin mewujudkan mimpi menuju kesana. Jarum jam dinding tak pernah berjalan mundur. Namun akalku berhenti ketika memikirkan, dengan cara apa aku bisa pergi kesana. Aku pesimis dengan tim tariku yang terdiri dari perempuan – perempuan rumahan. Aku tak bisa jika bersolo karir menampilkan seni, harus ada agen yang mewadahi. Sekali lagi kuputar otakku, setiap saat selalu memikirkan bagaimana cara burung kecil ini harus kepakkan sayap. Tabunganpun tak punya. Menyontek orang tidaklah mudah. Banyak penari yang sudah mulai mengepakkan sayap ke luar negeri. Banyak penelitian yang bisa membawa mahasiswa ke luar negeri. Tapi melakukan penelitian bukan bidangku. Aku akan kesusahan bila memulainya dari nol. “Tis, ikutan ini yuk. Lomba membuat kerajinan tangan dari rotan.” Kak Maya mengajakku. Ada lomba desain kerajinan tangan dari rotan. Aku belum pernah membuat hasta karya dari bahan tersebut. Sedikit bimbang memilih antara maju atau tidak. Kak Maya memfasilitasi rotan, aku tinggal mencurahkan kreativitasku untuk membentuk suatu karya. Ini adalah lomba kerajinan pertama yang pernah aku ikuti. Lumayan, tingkat nasional. Akhirnya aku merintis karir untuk mengepakkan sayap dalam ajang tingkat nasional. Aku mulai membuat pola, karya apa yang pantas aku tandingkan. Tujuanku memang menjadi juara, agar aku punya prestasi yang diakui. Akhirnya setelah kulihat situasi disekitar, mataku tertuju pada lampu yang menempel di ternit. Dia begitu kesepian, kehadirannya sangat dibutuhkan, tapi dia hanya bersinar seorang diri. Lampu itu seolah pertanda, apa yang akan kubuat. Ya, aku membuat hiasan rumah lampu. Foto hasta karya dan kelengkapan berkas dari aku dan Kak Maya sudah dikirim. Aku senang, bisa mengikuti kompetisi. Menurutku hanya kaum minoritas yang tertarik untuk mengikuti kompetisi hasta karya ini. Tapi ternyata setelah aku lihat pendaftarnya, sangat banyak. Cukup membuatku kembali pesimis. Seminggu berlalu dengan penuh sketsa gambar yang aku sukai. Terkadang aku membuat sketsa di aplikasi komputer. Menyenangkan sekali belajar desain. Sejak adanya kompetisi itu kutemukan apa keinginanku. Ya, passionku adalah membuat desain. Tidak dari menyontek orang lain, aku bersyukur dan terus berkarya. Saatnya pengumuman itu tiba. Diambil 30 besar karya terbaik yang akan dibuat pameran kerajinan tangan. Kulihat dari daftar yang paling bawah. Adakah keberuntungan untukku. Hatiku deg – degan melihat sepuluh nama pertama yang tidak ada namaku. Sepuluh nama kedua membuatku semakin deg – degan, karena karya Kak Maya masuk nominasi. Selajutnya kudapati detak jantung yang sekencang – kencangnya ketika melihat namaku berada di urutan ke tiga. Aku tiga besar dari mahasiswa Indonesia. Rasa syukur itu tak henti terucap. Aku menelfon Kak Maya, menyampaikan kabar gembira ini. Tak kalah bahagianya, ternyata ketiga puluh finalis dan karyanya akan di bawa ke England, untuk dipamerkan di sana. Mimpiku untuk menginjakkan kaki ke luar negeri akhirnya terwujud. Melalui niat dan usaha kerasku membuat hasta karya dengan sepenuh hati. Inilah sayap yang kuciptakan sendiri. Dia yang akan membawaku terbang. Meski England bukan negara yang ada di dalam mimpiku, aku sangat bersyukur dapatkan kesempatan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar