Jumat, 10 Juni 2011

cerpen (lotre cinta)

Aku beruntung bisa mendapatkan nindi. Nindi adalah teman kecilku, dulu sewaktu TK kami selalu bersama – sama. Aku ingat benar, dia anak yang pintar, mandiri, tapi dia cengeng dan banyak makan. Ini yang sering membuatku tertawa sendiri jika aku mengingatnya.
Sembilan tahun lamanya aku berpisah dengan nindi. Padahal rumah kami dekat. Nindi memang sangat aktif de sekolahnya. Sampai – sampai dia melupakan masa kecilnya. Namun lewat facebook aku bisa menariknya kembali seperti tatkala kami masih TK.
Hari ini hari pertama kami jadian, nggak susah mendapatkan hati nindi. Cewek yang dulunya banyak makan, kini bisa langsing dan cantik. Apalagi rambutnya yang sebahu, membuatku ingin selalu membelainya. Pipinya masih cuby seperti dulu. Hanya saja hidungnya terkesan lebih mancung. Namun tidak begitu jauh dengan aku. Kata ibuku, aku cowok yang tampan, yang paling tampan. Yang paling baik, yang paling pintar, dan segalanya. Wajar saja bila aku bisa menjalin cinta dengan gadis itu.
Ujian telah berakhir. Nindi melanjutkan ke SMA, dan aku ke SMK. Sembari menunggu pengumuman kelulusan, kuhabiskan waktu dengan kekasihku itu. setiap hari kami bertemu dan semakun hari semakin sayang.
***
Sebulan sudah kami menjalin cinta, kulihat nindi semakin cantik. Terutama jika dia sedang tertawa. Giginya yang rapi membuat kesan manis pada wajah ovalnya itu. malam ini kami merayakan satu bulan hari jadi sekaligus merayakan kelulusan. Karena kami lulus, walaupun nilaiku hanya rata – rata. Dan terpaut beberapa angka dari nilai nindi.
Di tengah – tengah kesenangan, kupinjam handphone nindi. Benar – benar cantik fotonya dalam handphone. Sama seperti aslinya. Dan lama – lama aku penasaran juga dengan isi messagenya. Diam – diam kubuka messagenya.
Sungguh kecewa hatiku, ternyata dia menyiman sms dari cowok lain dalam folder pribadi.
“Nin, siapa itu Reza?” tanyaku.
“Eh, ngapain kamu buka – buka pesankku, sini balikin Hpku!” jawabnya kaget.
Belum sampai aku tahu siapa itu Reza, Nindi sudah ngambek duluan. Instingku semakin kuat, firasatku mengatakan Reza adalah orang spesial Nindi. Tapi aku nggak yakin, Nindi tega menjadikan aku yang kedua.
Kuantar dia pulang, tanpa sepatah kata. Hanya ucapan good night dariku yang akan menjadi kata penutup di hari ini.
Kutak mengerti wanita. Dia sembunyikan sesuatu dari aku. Ketika aku tahu, tetapi dia yang marah, dan seolah-olah aku yang salah. Tetapi, demi nama laki-laki sedunia, aku sabar deh hadapi bidadariku ini.
Aku ingin bertemu dengan nindi. Mengapa dia tak mencariku? Ah, aku hampiri saja ke rumahnya. Mungkin hari ini dia sudah tenang dan bisa jelasin, siapa itu Reza. Mengapa dia simpan sms – sms Reza. Dan mengapa dia marah denganku gara – gara aku bertanya tentang Reza. Jika nindi ada hubungannya dengan Reza, semoga cepat berakhir.
-1 new message-
(Nindi)
Belum selesai aku berfikir tentang dia, smsnya sudah datang. Dan ternyata dia juga ingin bertemu denganku.
Kami pergi di tempat yang sama seperti kemarin malam. Hening. Tak ada satupun yang membuka percakapan, hingga hatiku terdorong untuk meminta maaf kepadanya.
“Maafin aku ya,” kataku dan dia bersamaan.
Kemudian kami tersenyum. Aku pikir kami sudah satu feel sekarang. Ini membuatku semakin yakin bahwa nindi orang yang setia. Kami berdamai, itulah janjiku sebelum nindi jelaskan siapa itu Reza.
Jadi, Reza adalah cowok impian nindi, namun cintanya bertepuk sebelah tangan. Kini Reza menjalin cinta dengan Asna, sahabat Nindi. Aku tahu bagaimana sakitnya perasaan Nindi ketika hal itu terjadi. Tapi, mungkinkah aku menjadi pelampiasan atas cinta Reza? Aku takut hal ini terjadi, lebih takut lagi jika aku bertanya langsung pada Nindi. Jalan keluarnya adalah positif thinking. Aku percaya Nindi adalah cewek yang setia. I know her so well.
Dua hari lagi adalah hari yang dinanti oleh kekasihku. Yang akan menentukan nasib dan masa depannya. Yaitu pengumuman PPD di SMA pilihannya. Juga merupakan saat – saat dimana aku harus persiapan mendaftar ke STM.
***
Yang namanya berlian, dimana –mana ya tetap berlian. Nindi diterima dengan peringkat yang cukup tinggi. Sekarang giliranku mendaftar sekolah. Nindi senantiasa menemaniku memantau jurnal pendaftaran. Sasaranku adalah SMK terfavorit di kota ini. Posisiku masih aman. Dan jika aku diterima, maka aku dan Nindi akan tetap selalu bertemu, karena sekolah kami cukup dekat.
Siang ini panas sekali. Kulihat Nindi meneteskan banyak keringat. Tapi dia tetap tersenyum dan menyemangatiku belajar untuk test. Tak kuduga, teman sekelasku semasa SMP yang sekaligus mantan pacarku juga sedang berada di tempat yang sama denganku. Aku memalingkan muka dan pura – pura tidak tahu. Namun dia malah menyapaku.
Aku takut jika dia bicara yang aneh – aneh pada Nindi. Ah tapi terlambat sudah, dia menceritakan semuanya pada Nindi. Termasuk cerita tentang aku yang sering gonta – ganti pacar. Kedokku telah terbuka. Dan Nindi tahu bahwa aku punya banyak bekas pacar. Apalgi masih ada seorang mantanku yang masih mencintaiku. Hal ini membuat dia mengecap aku sebagai cowok yang tak baik.
Hatiku benar – benar hancur melihat kenyataan ini. Parahnya Nindi jadi sering sesitif denganku. Padahal aku akan menghadapi tes masuk sekolah baru. Tidak ada yang memberiku semangat. Sepertinya rasa sayang Nindi kepadaku sudah berkurang. Itu semua gara – gara mantan sialanku. Aku nggak bakal memaafkan orang yang sudah buat Nindi begini. Rasanya sakit sekali jika harus dicuekin oleh orang yang aku sayangi.
***
Serangkaian tes sudah kulewati. Tinggal menunggu hasilnya. Aku meminta doa kepada kekasihku. Dia welcome dengan permintaanku. Kulihat dia sangat ceria setelah tesku selesai. Tiba – tiba saja dia berubah 1800. Jadi semakin ramah dan semakin sayang. Dia sangat mendukung ku masuk di SMK itu, tapi aku tak tahu alasannya.
Lagi – lagi aku negatif thinking. Bagaiman tidak. Ketika aku sedang berduaan dengan Nindi, orang ketiga datang. Walau hanya lewat pesan singkat. Berkali –kali HP Nindi bergetar. Itu sangat menggangguku. Aku sedang bicara empat mata padanya. Aku rasa kegembiraan Nindi adalah ketika dia menbaca pesan itu.
“sms dari Reza ya?” hardikku.
Nindi kaget dan spontan ia latah.
“Bukan sayang. Aku nggak ada hubungan apa – apa dengan Reza. Aku sedang sms dengan teman SMPku.” Jawabnya sambil tertawa ceria.
Aku tetap sabar menghadapi sifat anehnya ini. Ia seperti menyembunyikan sebuah rahasian yang tidak kuketahui. Kapan sih aku bisa menggeledah Hpnya. Sudah dua bulan bersamanya, tapi aku belum bisa menyatukan feel dengan Nindi. Pikiranku melayang –layang kesan akemari. Kini giliran mulutku yang terbungkam. Tak bisa kuterima kenyataan jika ternyata Nindi menjalin hubungan dengan Reza.
***
Sial! Aku tidak lolos seleksi di sekolah itu. apa yang harus aku katakan pada Nindi nanti. Dan pastinya Nindi akan bertanya juga.
Tapi, kemana hilangnya Nindi, bahkan dia tidak bertanya tentang agaiman sekolahku. Sepertinya dia mulai bosan denganku. Baguslah, daripada dia kecewa dengan hasilku ini.
Aku tidak kuat jika harus diam. Aku rindu dengan senyuman Nindi. Tapi apakah dia juga merindukan aku? Mungkin ini saatnya aku harus jujur, bahwa aku tidak diterima di SMK itu. akan ku beri tahu dia.
-1 new messaage-
(Nindi)
Gimana sekolahnya? Diterima kan?
Anehnya aku merasa Nindi mendengar jeritan hatiku dan langsung meresponnya.
Kujelaskan semuanya sejelas – jelasnya. Hingga tak ada lagi pertanyaan.
“Kalau kamu malu, kamu benci denganku gara – gara aku tak dapat menembus seleksi masuk sekolah itu, kamu boleh meningalkan aku kok. Aku rela demi kamu.” Taruhannya adalah hubunganku.
Nindi menangis, dan mengatakan bahwa dia tetap menyayangiku dimanapun aku bersekolah. Itu membuatku sangat terharu. Dan membuatku semakin yakin bahwa dia akan tetap bertahan denganku walau aku memutuskan untuk bersekolah di SMK kuar kota.
Kini kami sudah mengenakan seragam putih abu –abu. Sudah satu minggu aku tak bertemu dengannya. Aku berniat mengajaknya bermalam minggu. Tetapi Nindi menolak. Pasalnya dia masih prepare buku – buku pelajaran. Oke, tak apa lah.
Jujur, aku sangat merindukan Nindi. Tak ada perempuan secantik Nindi di sini. Sudah dua minggu aku tak bertemu dengannya. Aku berhasrat apel kerumahnya. Sebelumnya kusms dia dulu. Tapi tak ada balasan. Ku telfon dia, ternyata dia sedang pergi bersama saudaranya. Aku gagal melepas rindu.
Otakku dilanda dengan pikiran negatif. Kangan – jangan Nindi temukan cowok lain di sekolahnya.
Namun aku salah sangka, ternyata Nindi bergabung dengan organisasi yang membuat dia sangat sibuk. Aku tetap setia menantimu kembali Nindi. Kuharap LDR ini tetap berjalan dengan lancar.
***
“Riki, maafin aku. Kita harus putus.”
Pesan singkat Nindi membuat hatiku tersentak. Tidak kusangka dia mengakhiri hununga kami tepat pada tiga bulan setelah kami jadian. Kurasa ini sudah terencana.
Pasalnya dia sibuk dengan kegiatan sekolahnya. Dan dia juga ingin menjomblo. Aku tidak bisa terima keputusan ini. Tidak mungkin gara – gara hal ini. Sepertinya ada aura – aura perselingkuhan. Bagaimanapun aku tak mau diputuskan olehnya.
Sudah berkali – kali aku menolah keputusan Nindi ini. Tapi akhirnya kejadian juga. Kami putus. Dan aku sangat patah hati. Aku masih mencintainya. Boarpun ditinggal dan tak dihiraukan lagi, aku tetap menayanginya, aku tidak bisa melupakannya.
***
“itulah cerita tentang mantan terakhirku. Jadi aku ingin kamu membantuku membuka misteri mengapa Nindi memutuskan aku dengan alasan yang tak jelas.” Kataku.
Semua tentang Nindi sudah kuceritakan kepada Eka, teman dekatku. Eka yang memaksaku bercerita karena ia tidak tega melihatku selalu murung selama ini.
“tolong cari tahu kabar Nindi sekarang ini, Ka.” Pintaku.
Nomor HP Nindi kuberikan pada Eka. Kuberikan dia kepercayaan untuk menjalankan misiku ini. Jadi setelah aku tahu yang sesungguhnya, aku bisa mengambil tindakan.
Dua hari setelah aku memberikan nomor HP itu, sudah terungkap semua rahasia Nindi. Eka memang pandai memengaruhi orang untuk berkata sejujurnya.
Eka ragu untuk menjelaskan padaku. Katanya, kronologinya sangat berbeda dengan cerita Nindi padaku. Namun kupaksa Eka untuk cepat membuka mulut.
Benar katanya, aku sakit hati untuk kedua kalinya setelah mendengar cerita versi Eka. Ternyata sekarang Nindi sudah menjalin hubungan dengan teman SMPnya, tapi bukan Reza. Dia adalah Ryan. Katanya mereka dekat sejak pendaftaran sekolah dibuka. Dan saat itu Nindi masih menjadi pacarku.
Jadi selama ini orang ketiga yang selalu smsan dengan Nindi adalah Ryan. Setelah dua bulan dekat, akhirnya mereka jadian. Dan alasan – alasan tentang organisasi yang mengikat itu memang benar. Hanya saja dia terlaku melebih – lebihkan urusan itu untuk menutupi kebohongannya.
Dan parahnya, Ryan adalah cowok yang berkenalan denganku semasa mendaftar di SMK itu. kini dia menjadi siswa disana. Ternyat Nindi memang memandang dari sekolahnya saa. Itu sangat tidak adil. Padahal jujur saja, aku jauh lebih tampan darinya.
Aku tak sabar ingin marah pada Nindi. Aku marah besar. Akan ku sms dia.
“Nindi, apa kabar?”
Tetap saja aku tidak bisa kasar pada wanita itu. tak berapa lama kemudian, smsku dibalas. Tapi dia tidak tahu siapa aku karena ini nomor baruku.
Akhirnya dia menjelaskan semuanya langsung kepadaku. Dia benar – benar meminta maaf tentang keputusannya yang tidak jelas itu. dia juga mengaku tentang siapa itu Ryan. Katanya saat jadian denganku dia masih suka dengan Reza. Saat dia bisa melupakan Reza, dia mulai mencintai Ryan. Intinya dia tidak pernah mencintaiku. Hanya saja dia menjadikanku untuk mengisi kekosongan hatinya.
Itu merupakan pertemuan terakhirku dengan Nindi setelah sekian lama berpisah dan berjumpa lagi dalam keadaan menyedihkan. Sebelum aku kembali keluar kota.
Semua laki –laki pasti kecewa bila dihianati wanita. Tapi apa boleh buat, semuanya telah terjadi. Kini aku sudah bisa menerima alasan dari Nindi. Bagaimanapun, aku tetap anggap dia baik, dia pernah mengisi hatiku dengan kebahagiaan. Meskipun mantan kekasihku tak hanya Nindi.
***
Kemarin Nindi ulang tahun, tetapi aku tidak memberikan ucapan selamat padanya. Aku ragu untuk mengucapkan selamat. Aku takut jika dia berpikir aku mengusik hidupnya.
Greg greg greg, HP bergetar. Sms dari Nindi. Pesannya, dia merindukanku. Aku kaget, apakah dia berubah pikiran untuk memilihku lagi. Tapi setelah kutanyai, dia masih menjalin hubungan dengan Ryan. Kira – kira sudah setengah tahun. Ternyata cinta tulus Nindi bukan untukku, melainkan untuk Ryan.
Telah kubuka hatiku untuk wanita lain, lembaran dan kenangan tentang Nindi telah kututup. Meski kisah cinta itu masih kuabadikan dalam lubuk hatiku. Kini aku dan dia hanya berteman. Cinta Nindi bagaikan lotre, namun pada kenyataannya aku tidak pernah memenangkan lotre itu.
-sekian-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar