Sabtu, 17 September 2011

KISAH CINTA DI BULAN RAMADHAN

Awal masuk sekolah yaitu tanggal 11 Juli 2011. Aku sangat mengingatnya karena aku mendapati kesan pertama yang begitu indah dengan salah seorang temanku. Sejak saat itu aku lebih bersemangat mengikuti kegiatan di kelas karena dia. Memang benar kata pepatah, kesan pertama begitu menggoda, tapi kesan selanjutnya aku belum tahu karena kita baru bertemu beberapa hari saja.
Kali ini aku benar – benar menaruh hati padanya. Tapi walau demikian aku harus menjaga sikap agar tidak terlihat salah tingkah dihadapannya. Beruntung aku bisa menahan nafsu untuk mengungkapkan perasaan itu, karena aku wanita dan tak mungkin memulai. Sialnya aku tidak berani mengatakan apa yang tengah aku rasakan. Bahkan pada sahabatku sendiri aku tak berani mencurahkannya.
Sahabatku, Aisya, orang yang penyabar dan dapat dipercaya. Tapi bagaimanapun aku masih sangsi untuk berbagi cerita tentang rasaku pada Ilham. Karena perasaan itu baru berasal dari satu pihak, yaitu dari aku. Aku tidak bisa mengatakan sebelum aku mendapat pertanda balasan cinta dari Ilham. Perilaku untuk jaga gengsi masih berlaku dalam hidupku.
Kali ini sekolah sudah berjalan seperti biasa. Masa perkenalan dan lainnya sudah berlalu. Saatnya aku kembali ke komitmen awalku yaitu selama kelas sebelas aku tidak akan pacaran. Namun rasa yang aku alami ini benar – benar terjadi tanpa komando. Pandangan pertama yang akhirnya turun ke hati ini menjadi berlarut – larut. Tak kusangka komitmen untuk tidak pacaran akhirnya menjadi goyah. Lambat laun aku jadi ingin memiliki hati Ilham. Sikapnya menunjukkan remaja yang syar’i dan berorientasi ke depan. Hatiku benar – benar melting melihat sikapnya yang demikian. Amun sampai saat ini, perasaan itu masih tersembunyi. Hanya aku dan Allah yang tahu.
***
Kian lama perasaan yang ku pendam semakin menjadi – jadi. Rasanya aku sudah tidak betah untuk membagi kisah ini kepada sahabatku. Oh ini tidak mungkin terjadi, aku hanya ingin mempertahankan komitmen awalku. Namun semakin ditahan rasa itu semakin sakit. Tak dapat aku memendam rasa sayang yang terlalu lama. Akhirnya kuputuskan membuat rencana untuk mendekati Ilham.
Berawal dari menjadi teman sekelompok dalam pelajaran, akhirnya aku berhasil mendapatkan nomor HP Ilham. Alhamdulillah, aku punya kesempatan untuk mengenal dia lebih dalam.
Dari nomor itu aku mencari info tentang dia. Aku mendapatkanya, tapi tidak sebanyak apa yang aku inginkan. Itu masa perkenalanku dengannya pada kesempatan pertama. Oke, aku mencoba menunggu sampai dia sadar bahwa aku telah menaruh hati padanya.
Dewi fortuna tidak berpihak padaku. Untuk selanjutnya pesan – pesan singkat yang lumayan penting dariku tidak pernah ditanggapinya. Hatiku belummemutuskan untuk berhenti mendekati dia. Aku mencoba terus mengirim sms yang cukup penting mengenai pelajaran. Namun sial, dia tetap tidakmau merespon basa – basiku ini. Pikiran negatif pun timbul. Bahkan aku sempat berpikir bahwa dia tahu aku suka padanya tapi dia menolak, dan inilah trik yang ia gunakan.
Sebenarnya belum sampai tahap itu. Perhatianku masih sama seperti perhatianku kepada teman – teman yang lain. Aku juga sering mengirim pesan yang cukup penting kepada teman laki – laki yang lain. Mereka membalasnya. Namun pesanku untuk Ilham langka dijawab. Itu membuatku sedikit jengkel dan berusaha mencoret namanya dari daftar cintaku.
Hmm, sepertinya aku sudah terlanjur sayang. Seburuk apapun sifatnya, itu tidak menjadikan rasaku berkurang. Aku masih tetap menyayanginya walau rasa itu hanya terpendam di hatiku. Apapun yang dia lakukan selalu menjadi kenangan tersendiri di dalam memori otakku. Tak jarang aku menulis diary dengan tema – tema tentang dia. Memang pesona indah parasnya sudah meracuni segenap perasaanku.
Aku simpati padanya. Setiap kali ada kesempatan, aku selalu memperhatikan tingkahnya. Wajar sih, namun bagiku itu lebih istimewa dari pada teman yang lain. Setiap ada sesuatu yang baru dari dalam dirinya, itu selalu menjadi sebuah kisah indah dalam hatiku. Oh Ilham, aku terpesona padamu.
Dengan perasaanku yang cukup dalam ini, aku bermaksud untuk meneritakannya kepada sahabat yang duduk sebangkku denganku, Aisya. Tapi mlut ini berat untuk berkata. Akhirnya niat itu kupatahkan kembali. Aku tidak ingin sahabatku tahu tentang perasaanku ini. Jika aku terlalu fokus dengan Ilham, aku malah khawatir jika aku lupa dengan sahabatku. Sebab berpikir tentang Ilham sudah menyita banyak waktuku.
***
Akhir – akhir ini si Aisya sering bercerita tentang Ilham padaku. Sebenarnya aku sedikit tak suka, karena jika aku mendengar namanya pasti aku akan kembali memikirkannya. Tapi apa boleh buat. Lagi – lagi aku dan dia sekelompok dalam pelajaran matematika. Bagaimanapun aku harus ertemu dan bersama – sama dengannya. Aku senang tapi sedih. Aisya yang menghendaki kami sekelompok. Dari sini aku bisa mengira, mungkin Aisya juga suka dengan Ilham.
“Lupakan Rista!” batinku ketika aku hendak kemali memikirkan Ilham.
Semakin lama kurasa, semakin jelas rupanya. Aku merasakan ada sinyal – sinyal bahwa sahabatku Aisya juga menykai orang yang kusukai. Terlihat ketika sedang buka bersama, mereka duduk bersebelahan. Peristiwa itu sempat membuatku dilema hingga tidak nafsu makan.
Fakta berikutnya, untuk tugas kelompok, aku mengirim pesan semacam pertanyaan untuk semua anggota termasuk Ilham. Semuanya merespon, kecuali Ilham. Aku sedikit jengkel. Kuceritakan hal ini kepada Aisya. Kemudian Aisya mencoba mengirim pesan kepada Ilham, dan ternyata ditanggapi.
Dalam hati aku berkata, “Ya Allah, apa sih salahku hingga Ilham berbuat tak adil padaku?”. Aku mencoba untuk tegar. Kusadari benar bahwa sahabatku memang menunjukkan perasaan yang lebih kepada orang yang aku sukai. Namun apa aku harus memecahkan tali persahabatanku demi mendapatkan cinta Ilham? Tidak akan.
Hari ini hari ke 17 bulan Ramadhan, tepatnya malam diturunkannya Al-Quran. Di sekolah ada acara memperingati malam Nuzulul Quran ini. Aisya semangat untuk hadir, dia juga mengatakan bahwa Ilham akan hadir dan nantinya kami sekelompok akan membahas tugas yang tak kunjung usai. Sesungguhnya hatiku hancur mendengar pernyataan itu. Tapi aku tabah menghadapi konflik tentang perasaan ini.
Ilham dan Aisya terlihat akrab dan enjoy ketika bersama. Sedangkan aku, terlihat murung dan cemburu melihat kegembiraan mereka. “Ya Allah, jauhkanlah Ilham dariku.” Hanya itu satu – satunya doa yang aku panjatkan di malam ini.
Lambat laun aku tidak betah melihat kelancaran hubungan sahabatku dengan orang yang aku sukai. Bagaimana bisa aku bersikap biasa saja jika mellihat Ilham bersikap tak adil denganku. Pesan dari Aisya selalu dibalasnya. Sementara aku, never. Pernah kami mengirim pesan yang sama, tapi kasusnya sama. Hal ini membuatku naik pitam.
Ingat Rista, ini bulan Ramadhan, semestinya kamu mengais pahala di bulan suci ini. Jangan isi hari – harimu dengan iri hati dan kedengkian.
Itulah kata nasihat dari aku sendiri yang kadang – kadang mampu meleburkan emosiku. Mungkin perasaan itu hanya sesaat. Tak lama lagi rasa itu akan ditepis oleh waktu yang tak pernah berjalan mundur.
Betapapun aku sangat menyayangi Aisya. Aku tak mungkin menyakiti hatinya. Namun, malang sekali kisahku ini. Kami menyukai orang yang sama. Berat rasanya untuk memilih antara sahabat dan cita – cita cinta. Aku bingung, bimbang, galau. Khawatir jika akhirnya aku harus kehilangan dua –duanya. Mungkin butuh momen yag tepat untuk aku menjelaskan semua kepada Aisya.
***
Sebelum terlanjur patah hati, akhirnya aku ungkapkan apa yang sedang aku pikirkan kepada sahabatku Aisya. Kuungkapkan hal kecil yang kelihatannya sepele tapi menyangkut perasaan tepat di malam lailatul qodar yang acap disebutmalam 1000 bulan. Kuharap, Aisya mengerti dan tidak akan terjadi perselisihan di antara kita berdua kelak.
Di suatu malam, ketika aku sedang memikirkan persahabatanku dan kisah cintaku, kuungkapkan juga kepada Aisya. Akan kujelaskan semuanya. Semua tentang perasaanku semenjak masuk kelas sebelas tanpa terkecuali.
“Aisya, apakah kamu suka dengan Ilham?” aku mengawali pembicaraan.
Lama sekali dia membalas pesanku. Mungkin ia sedang berfikir. Antara iya karena jujur, atau tidak karena ingin memberi pertanda bahwa jawaban yang sesungguhnya adalah iya.
Aku galau benar ketika Aisya menjawab “iya”. Disambung, “Kalau iya memang kenapa?”. Saat itu aku menjadi mati rasa. Bingung antara marah atau sedih atau yang lain. Harusnya aku bahagia karana sahabatku sedang bahagia. Tapi bahagai ahabatku itu karena telah merebut kebahagiaanku.
Akhirnya aku tak kuasa menahan kata – kataku ini.
Sebenarnya sejak pertama kali masuk kelas sebelas, aku sudah mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Ilham. Tapi aku hanya memendammnya dalam hati karena ternyata Ilham tidak memberikan sinyal positif kepadaku. Aku diam, memang tidak terlihat suka, tapi dalamhati ni aku masih mengharapkan perhatian darinya. Mungkin perasaanmu hancur ketika aku mengatakan hal ini. Memang kamu yang lebih perhatian padanya dan kamu yang pantas mendapatkannya. Tapi tolong hargai perasaanku ini. Aku juga pernah suka padanya.
“Rista maafkan aku, aku merasa bersalah jika pada akhirnya kamu tidak dapat mengejar cita – cita cintamu.” Balasnya dengan nada penuh dosa.
Aku mengerti benar. Perasaan tidak pernah bisa dipungkiri. Tapi aku hanya manusia biasa yang tak tahan dengan godaan. Mungkin masih ada maaf bagimu dariku. Begitu juga dengaku, aku menyesal baru mengungkapkan hal ini sekarang. Padahal sudah jelas, Ilham lebih memilih kamu. Apa yang bisa aku harapkan lagi.
“Jika aku harus memilih, tentunya aku akan memilih kamu. Persahabatan lebih berharga daripada seorang pacar. Sebenarnya di dalam islam pacaran dilarang. Dan aku tahu komitmen kita sejak pertama kali masuk kelas sebelas. Kita tidak akan pacaran.”
Ini memang bukan saatnya aku memikirkan masalah cinta. Ilham, kamu memang rupawan, syar’i dan segalanya. Tapi aku tak mungkin mencintai orang yang tidak mencintaiku. Aku tak ingin merasakan pahitnya cinta bertepuk sebelah tangan.
Lebih baik aku melupakanmu, dan kini aku telah memaafkan semua kesalahanmu padaku. Semoga kamu juga memaafkanku. Dengan ini, persahabatanku tidak akan hancur. Lagipula aku juga tak sudi jika harus merelakan persahabatanku demi kamu.
Lebaran telah tiba, kuharap tidak ada khilaf yang masih menjadi dendam.

1 komentar:

  1. ijin sedot ya kak.......... salam kenal Rudi dari semarang juga.

    BalasHapus